Psikologi Perkembangan

Psikologi Kepribadian

Psikologi Pendidikan

Recent Posts

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli - Terkadang orang dalam berkelompok berinteraksi secara kooperatif. Mereka saling membantu, berbagi informasi dan bekerjasama demi keuntungan bersama. Diwaktu lain, anggota kelompok mungkin bersaing. Mereka mendahulukan tujuan individualnya dan berusaha mengalahkan anggota lain.

Kerja sama adalah perilaku dimana kelompok bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang sama. Kerjasama dapat menjadi sangat menguntungkan bahkan melalui proses tersebut kelompok dapat memperoleh hasil yang tidak pernah mereka harap dapat dicapai sendirian, namun mengejutkan kerja sama tidak selalu Seringkali anggota dari suatu kelompok mencoba untuk menkoordinasikan usaha-usaha mereka tetapi gagal.

Pertanyaan kunci yang muncul adalah:
Mengapa anggota kelompok tidak selalu mengkoordinasikan aktifitas mereka dalam cara ini?
Satu jawaban langsung, mereka tidak berkerja sama karena beberapa tujuan yang ingin mereka raih terkadang tidak dapat dibagi dalam sebuah kelompok. Dalam kasus seperti itu, kerjasama tidak memungkinkan dan konflik dapat berkemabang cepat selagi setiap orang (atau kelompok) berusaha memaksimalkan hasil mereka masing-masing (Tjosvold, 1993).

Pola kerja sama (cooperation) menekankan bahwa individu sering terlibat dalam perilaku prososial-tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi tidak memiliki keuntungan nyata atau segera bagi orang yang melakukannya. Sementara perilaku seperti itu sangat sering terjadi, pola yang lain dimana pertolongan bersifat timbal balik dan menguntungkan kedua belah pihak bahkan lebih umum lagi. Kerjasama melibatkan situasi dimana kelompok bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang sama.

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli_
image source: blog.datis.com
baca juga: Pengertian Norma Kelompok, Jenis dan Proses Pembentukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama

Meskipun terdapat banyak faktor yang menentukan apakah individu akan memilih untuk bekerja sama dengan orang lain dalam situasi yang mengandung motif campuran yang dimunculkan oleh dilema sosial, terdapat tiga faktor tampak menjadi utama:

1. Kecenderungan pada timbal balik
Timbal balik (reciprocity) adalah faktor yang paling pasti diantara ketiga faktor. Sepanjang hidup kita cenderung mengikuti prinsip ini, memperlakukan orang lain sebagaimana mereka telah memperlakukan kita (Pruitt dan Carnevale, 1993). Dalam memilih apakah akan kerjasama atau berkompetisi, kita tampaknya mempertimbangkan prinsip timbal balik ini. Ketika orang lain bekerjasama dengan kita dan mengesampingkan kepentingan pribadinya, biasanya kita akan melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Sebaliknya jika mereka tidak bersikap baik dan memaksakan kepentingan pribadi, kita juga akan melakukan hal yang sama (Kerr dan Kaufman-Gilliland, 1994).

Psikolog evolusioner  menekankan bahwa kecenderungan untuk menerapkan prinsip timbal balik dalam kerjasama tidak terbatas pada manusia; hal ini juga telah diobservasi pada binatang (misalnya pada kelelawar dan simpanse, Buss, 1999). Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang menarik; karena “orang-orang yang curang” (mereka yang tidak bekerja sama setelah menerima perlakuan yang baik) sering mendapatkan keuntungan, bagaimana kecenderungan kuat pada prinsip timbal balik dapat berevolusi?

Sebuah kemungkinan jawaban disediakan oleh teori Altruisme Timbal Balik (Reciprocal Altruism), Cosmides dan Tooby (1992), teori ini menyatakan bahwa dengan berbagi sumberdaya (resources) seperti makanan, organisme, meningkatkan kemungkinan mereka untuk bertahan dan kemungkinan bahwa mereka akan mewariskan gen pada generasi berikutnya. Lebih jauh, mereka cenderung berbagi dalam cara tertentu sehingga penerima memperoleh keuntungan cukup besar sedangkan usaha yang dikeluarkan oleh penyedia cukup minimal.

2. Orientasi pribadi menyangkut kerjasama
Secara spesifik, temuan penelitian memperlihatkan bahwa individu dapat memiliki satu dari tiga orientasi yang berbeda terhadap situasi yang meliputi dilema sosial, diantaranya (DeDreu dan McCusker, 1997 Van Lange dan Kuhlman, 1994):
  • Orientasi kooperatif, Dimana  mereka memilih untuk memaksimalkan hasil akhir bersama yang diterima oleh semua orang yang terlibat.
  • Orientasi individualistik, Dimana fokus utamanya adalah untuk memaksimalkan hasil mereka sendiri.
  • Orientasi kompetitif, Fokus utamanya adalah untuk mengalahkan orang lain

Orientasi diatas memiliki dampak besar pada bagaimana orang bertindak pada banyak situasi, jadi hal tersebut merupakan faktor penting sehubungan dengan tercipta atau tidak terciptanya kerjasama.

3. Komunikasi
Penalaran umum menunjukkan bahwa jika individu dapat mendiskusikan situasi dengan orang lain, mereka mungkin akan segera menyimpulkan bahwa pilihan yang terbaik untuk setiap orang adalah bekerja sama; bagaimanapun hal ini akan bermanfaat bagi semua yang terlibat. Namun sangat mengejutkan, penelitian awal pada kemungkinan ini menghasilkan fakta campuran.

Dalam berbagai situasi, kesempatan bagi anggota kelompok untuk berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan tidaklah meningkatkan kerjasama. Sebaliknya, anggota kelompok tampaknya menggunakan kesempatan ini terutama untuk mengancam satu sama lain sehingga hasilnya kerjasama tidak terjadi (Deutsch dan Krauss, 1960, Stech dan Mc Clintock, 1981).

Terdapat penemuan penelitian mengarah pada kesimpulan yang lebih optimis, tampaknya komunikasi antara anggota kelompok dapat menghasilkan peningkatan kerjasama jika terdapat beberapa kondisi tertentu (Kerr dan Kaufman-Gilliland, 1994; Sally, 1998).

Secara spesifik dampak yang menguntungkan dapat dan memang terjadi jika anggota kelompok membuat komitmen pribadi untuk bekerjasama satu sama lain dan jika komitmen ini didukung oleh norma pribadi yang kuat untuk menghargainya (Kerr dkk, 1997).

Sekian artikel tentang Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
  • Faturochman, Ancok, D. 2001. DINAMIKA PSIKOLOGIS PENILAIAN KEADILAN. JURNAL PSIKOLOGI. No. 1, 41-60. Universitas Gadjah Mada. 
  • Faturochman. 2007. PSIKOLOGI KEADILAN UNTUK KESEJAHTERAAN DAN KOHESIVITAS SOSIAL. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Gadjah Mada.
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.

Memahami Dilema Sosial dalam Kelompok Menurut Para Ahli

Memahami Dilema Sosial dalam Kelompok Menurut Para AhliDilema sosial adalah situasi dimana kepentingan diri bertentangan dengan kesejahteraan kelompok dalam waktu jangka panjang atau situasi dimana keinginan individu menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan oleh kelompok. Dalam istilah teknis dilema sosial adalah situasi dimana pilihan jangka pendek yang paling menguntungkan bagi individu pada akhirnya akan menimbulkan hasil negatif bagi semua pihak yang terkait.

Brewer dan Kramer (1986) dilema sosial eksis atau terjadi setiap kali hasil kumulatif dari pilihan individual yang masuk akal menjadi bencana kolektif. Dilema sosial membuat kepentingan diri jangka pendek individu bertentangan dengan kepentingan jangka panjang kelompok (yang mencakup individu).

Ketidakpastian Dalam Dilema Sosial

Banyak situasi dimana kerjasama seharusnya dapat berkembang, tetapi tidak demikian halnya yang melibatkan sebuah kondisi yang disebut dilema sosial adalah situasi dimana setiap orang yang terlibat dapat meningkatkan hasil individual mereka dengan bertindak menang sendiri / egois, tetapi jika semua orang melakukan hal yang sama, hasil akhir yang didapat oleh semua orang akan berkurang (Komorita dan Parks, 1994).

Sebagai hasilnya, orang-orang dalam situasi seperti ini harus berurusan dengan motif campuran (mixed motive): terdapat alasan untuk bekerja sama (menghindari hasil negatif untuk semua orang) tetapi juga alasan untuk berkompetisi melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Bagaimanapun juga jika hanya satu atau sedikit orang yang terlibat dalam perilaku ini, mereka akan diuntungkan sementara yang lain dirugikan.

Memahami Dilema Sosial dalam Kelompok Menurut Para Ahli_
image source: www.asourceofinspiration.com
baca juga: Pengertian Norma Kelompok, Jenis dan Proses Pembentukan

Perbedaan Individu dalam Menyelesaikan Dilema Sosial

Penjelasan gambar diatas adalah terkait dilema narapidana, bentuk sederhana dari dilema sosial, dua orang dapat memilih untuk bekerja sama atau untuk berkompetisi satu sama lain. Jika keduanya memilih untuk bekerja sama, masing-masing menerima hasil yang memuaskan.

Jika keduanya memilih untuk berkompetisi maka masing-masing menerima hasil yang negatif, jika yang satu memilih untuk berkompetisi sedangkan yang lain memilih untuk bekerja sama, yang pertama menerima hasil yang jauh lebih baik daripada yang kedua, hasil ini mengindikasikan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pilihan yang dibuat orang dalam situasi yang mengandung motif campuran seperti ini.

Karena individu yang menghadapi dilema sosial terkadang bertindak mementingkan diri sendiri dan terkadang mementingkan kelompok. Tidak mengejutkan beberapa faktor yang diidentifikasi dalam diskusi kompetisi dan kerjasama juga relevan dengan dilema sosial:
  1. Struktur imbalan dan situasi akan sangat berpengaruh
  2. Tindakan mengingatkan orang terhadap norma kerjasama sosial

Menyelesaikan Dilema Sosial

Faktor-faktor lain juga penting dalam memecahkan dilema sosial (Kerr dan Park, 2001). Orientasi nilai dan tujuan seseorang – apakah kooperatif, kompetitif atau individualis – dapat mempengaruhi cara orang tersebut menghadapi dilema sosial. Besarnya kelompok juga berpengaruh. Dalam kelompok besar, efek perilaku egosi satu orang akan tidak kelihatan.

Hubungan antar individu juga penting. Kita akan meninggalkan kepentingan diri kita, jika kita mengenal dan peduli pada orang dalam kelompok dan jika kita ingin terus berinteraksi dengan mereka dimasa depan. Komunikasi diantara individu juga dapat meningkatkan kerjasama. Diskusi akan membuka kesempatan bagi individu untuk membuat komitmen terbuka untuk bekerja sama.

Menciptakan kebersamaan kelompok dapat meningkatkan tendensi untuk menahan diri dan menggunakan sumber daya secara bijak, khususnya dalam kelompok kecil.

Keadilan Distributif dan Heuristik dalam Dilema Sosial

Upaya mewujudkan keadilan sosial dapat dimulai dari penerapan model nilai- nilai kelompok. Namun harus diakui bahwa bahwa menjaga kebersamaan, menghargai dan mempercayai orang lain bukanlah hal yang mudah dipraktekkan. Manusia selalu menghadapi dilema sosial, yaitu konflik antara kepentingan pribadi versus pengorbanan diri untuk kepentingan bersama.

Dalam menghadapi dilema ini, hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang memilih kepentingan pribadi terlebih dulu. Tidak mengherankan bila orang kemudian berusaha untuk mendapatkan kebebasan sebesar-besarnya agar kepentingan pribadinya dapat diwujudkan. Keadilan sosial ditinjau dari dimensi keadilan distributif bermakna kesejahteraan bagi semua pihak. (Faturochman, 2007).

Khusus berkaitan dengan penilaian keadilan, teori heuristik menambahkan bahwa penilaian terhadap prosedur lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan penilaian terhadap distribusi. Penilaian yang terakhir ini akan lebih mudah dilakukan bila ada perbandingan. Oleh karena itu, penjelasan-penjelasan psikologi tentang keadilan distributif seringkali dikaitkan dengan konsep-konsep perbandingan sosial (Folger dkk., 1983; Mark & Folger, 1984; Master & Smith, 1987).

Lebih mudahnya menilai keadilan prosedural dibandingkan dengan menilai keadilan distributif memberikan peluang meningkatnya peran penilaian keadilan prosedural terhadap penilaian keadilan distributif. Hal ini sejalan dengan teori heuristik.

Pola hubungan antara penilaian keadilan prosedural dan penilaian keadilan distributif diyakini bukan merupakan hubungan yang satu arah (Brockner & Wiesenfield; Van den Bos dkk., dalam ). Dari model interes pribadi dalam penilaian keadilan prosedural terbukti bahwa penilaian tersebut banyak dipengaruhi oleh upaya untuk mendapatkan keuntungan (Lind & Tyler, 1988).

Dari sinilah muncul pengaruh penilaian keadilan distributif terhadap penilaian keadilan prosedural. Kepentingan pribadi yang terpuaskan akan meningkatkan penilaian keadilan distributif. Peningkatkan ini akan membawa imbas terhadap penilaian keadilan prosedural bila dilakukan sesudah terjadi distribusi.

Kelompok sering terlibat dalam pemprosesan informasi secara bias untuk mencapai keputusan yang menjadi preferensi mereka dari awal atau untuk mendukung nilai umum seperti keadilan distributif. Keadilan distributif (kesetaraan) mengacu pada penilaian individual mengenai apakah mereka menerima bagian yang adil dari hasil akhir yang ada, bagian yang proporsional dengan kontribusi mereka pada kelompok (atau pada hubungan sosial manapun).

Dengan kata lain, kita mencari keadilan distributive (distributive justice) kondisi dimana hasil-hasil akhir yang ada dibagi secara adil diantara anggota kelompok menurut apa yang telah dikontribusikan oleh setiap orang pada kelompok (Brockner dan Wiesenfeld; Greenbert dalam Baron dan Byrne, 2003).

Dua poin yang layak  dipertimbangkan dalam keadilan distributif:
  1. Penilaian mengenai keadilan distributif berasal dari sudut pandang orang itu sendiri; kita yang melakukan perbandingan dan kita yang memutuskan apakah bagian kita adil secara relatif dibanding dengan anggota kelompok yang lain (Greenberg, 1990)
  2. Kita jauh lebih sensitif untuk menerima kurang daripada yang seharusnya kita terima dibandingkan dengan menerima lebih daripada yang seharusnya kita terima. Dengan kata lain self-serving bias bekerja kuat dalam konteks ini (Greenberg, 1996; Diekmann dkk 1997)

Sekian artikel tentang Memahami Dilema Sosial dalam Kelompok Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
  • Faturochman, Ancok, D. 2001. DINAMIKA PSIKOLOGIS PENILAIAN KEADILAN. JURNAL PSIKOLOGI. No. 1, 41-60. Universitas Gadjah Mada.
  • Faturochman. 2007. PSIKOLOGI KEADILAN UNTUK KESEJAHTERAAN DAN KOHESIVITAS SOSIAL. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Gadjah Mada.
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.

Pengertian Norma Kelompok, Jenis dan Proses Pembentukan

Pengertian Norma Kelompok Jenis, dan Proses Pembentukan Norma Kelompok - Artikel ini akan membahas mengenai Norma Kelompok, Bagaimana Terjadinya norma, Psikodinamika norma, Perubahan sosial. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami proses terjadinya norma kelompok dan menjelaskan serta memahami psikodinamika kelompok, serta perubahan sosial yang terjadi pada kelompok.

Norma Kelompok

Sebuah kasus jautuhnya pesawat, yang selamat dari kecelakaan yang diperlukan adalah untuk koordinasi tindakan mereka jika mereka tetap hidup. Dengan makanan, air, dan tempat tinggal sangat terbatas, mereka dipaksa untuk berinteraksi dengan dan bergantung pada satu sama lain secara terus-menerus pada sebuah pulau, dan tindakan tidak patuh pada dari satu orang saja akan mengganggu dan bahkan membahayakan beberapa orang lain. Jadi anggota segera mulai mengikuti seperangkat aturan bersama yang didefinisikan bagaimana kelompok akan tidur di malam hari, apa jenis tugas masing-masing individu yang sehat diharapkan untuk melakukan apa dan bagaimana makanan dan air itu harus dibagi (forsyth, 2010).

Norma-norma kelompok adalah standar yang mengatur perilaku dalam suatu kelompok. Norma-norma dapat secara eksplisit dan dicatat dengan hati-hati untuk semua anggota pada masa depan untuk dilihat dan dipelajari, tetapi juga dapat bersifat secara implisit, di mana transmisi norma untuk anggota baru akan tergantung pada kemampuan dan motivasi senior anggota kelompok untuk menyampaikan secara akurat norma. Norma memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku kelompok dan sulit untuk berubah. Lebih menyusahkan bagi pemimpin kelompok yang ingin mengubah norma kelompok (Parks, 2004).

Norma adalah peraturan di dalam kelompok yang mengindikasikan bagaimana anggota-anggota seharusnya atau tidak seharusnya bertingkah laku (Baron dan Byrne, 2003).

Menurut Baron dan Byrne, norma kelompok merupakan faktor yang menyebabkan kelompok memiliki dampak yang kuat terhadap anggota-anggotanya. Peraturan yang diciptakan oleh kelompok untuk memberi tahu anggotanya bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku. Kepatuhan pada norma sering kali merupakan kondisi yang diperlukan untuk mendapatkan status dan penghargaan lain yang dikontrol oleh kelompok.

Pengertian Norma Kelompok, Jenis dan Proses Pembentukan_
image source: skillslab.tue.nl
baca juga: Pengertian dan Faktor Dinamika Kelompok Sosial Menurut Ahli

Jenis-Jenis Norma Sosial

Semua kelompok memiliki beberapa sistem norma yang mengatur perilaku anggotanya. Memang, kelompok yangtidak mempunyai norma akan kacau dan anarkis karena ada tidak akan ada batas untuk perilaku yang sesuai dan benar. Norma membantu anggota kelompok menentukan apa yang harus dilakukan dalam situasi yang asing, dan bagi banyak kelompok norma sangat penting untuk keberhasilan kelompok atau organisasi. Terdapat norma untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Norma sosial dapat bersifat formal dan non formal.

1. Norma sosial deskriptif (himbauan).
Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma-norma ini mempengaruhi tingkah laku dengan cara memberitahu perilaku kita mengenai apa yang umumnya dianggap efektif atau adaptif pada situasi tersebut.

2. Norma injungtif (
perintah)
Norma injungtif adalah norma yang harus dipatuhi atau menetapkan apa yang harus dilakukan, tingkah laku apa yang dapat diterima atau tidak diterima pada situasi tertentu.

Kedua norma tersebut dapat memberikan pengaruh yang kuat pada tingkah laku (Brown dalam Baron dan Byrne). Akan tetapi Cialdini dkk. Percaya bahwa pada situasi-situasi tertentu (terutama situasi dimana tingkah laku anti sosial) cenderung muncul, norma injungtif dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat. Hal ini benar karena karena dua hal:
  1. Norma semacam itu cenderung mengalihkan perhatian dari bagaimana orang-orang bertindak pada suatu situasi tertentu, misalnya membuang sampah sembarangan.
  2. Norma semacam itu dapat mengaktifkan motif sosial untuk melakukan hal yang benar dalam situasi tertentu tanpa mengindahkan apa yang orang lain lakukan.

Proses Pembentukan Norma Kelompok

Kelompok mempunyai pengaruh pada yang ambigu (Sherif, 1936) dan situasi yang tidak ambigu orang sering mengadopsi pendapat anggota kelompok yang lain dan bertemu dengan norma-norma sosial (Asch, 1951, 1955).Website Terkait: Informasi lebih lanjut tentang studi kesesuaian Asch Norma-norma sosial ini mencerminkan evaluasi kelompok apa yang benar dan salah. Sebagai hasil dari konvergensi pendapat kelompok,  orang menjadi lebih sama ketika berinteraksi dalam kelompok (http://psypress.co.uk).

Kelompok  terkadang mendiskusikan dan secara resmi mengadopsi norma sebagai aturan kelompok mereka, tetapi norma-norma lebih sering adalah standar implisit daripada yang eksplisit. Karena anggota secara bertahap menyelaraskan perilaku mereka sampai mereka sesuai dengan standar tertentu, mereka sering bahkan tidak menyadari bahwa perilaku mereka ditentukan oleh norma-norma situasi.  Mereka mengambil norma-norma tersebut begitu saja sehingga sepenuhnya bahwa mereka mematuhi secara otomatis (Aarts, Dijksterhuis, & Custers, dalam Forsyth, 2010).

Menurut Sherif (Forsyth, 2010), bahwa norma-norma muncul, secara bertahap, karena perilaku anggota kelompok, penilaian, dan keyakinan menyelaraskan perilaku dari waktu ke waktu. Norma, karena baik konsensual (diterima oleh banyak anggota kelompok) dan diinternalisasi (secara pribadi diterima oleh setiap anggota kelompok), adalah fakta sosial – yang diambil untuk diberikan pada elemen struktur yang stabil pada kelompok. Bahkan jika individu-individu yang awalnya didorong norma-norma tidak lagi hadir, inovasi normatif mereka tetap menjadi bagian dari tradisi kelompok, dan pendatang baru harus berubah untuk mengadopsi tradisi kelompok.

Muzafer Sherif (Forsyth, 2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa individu cenderung mengambil keputusan secara individual. Namun ketika individu berada dalam sebuah kelompok akan berbeda. Sesi pertama dalam kelompok, individu mulai mempertimbangkan keputusan lain dari anggota lain dalam kelompok. Kemudian keputusan individu tersebut menjadi sebuah keputusan kelompok. Sherif mempelajari bahwa perkembangan norma merupakan gerak refleks dari setiap anggotanya.

Muzafer Sherif, mempelajari proses ini munculnya norma dengan mengambil keuntungan dari autokinetic (self-motion) efek. Dalam satu studi efek autokinetic, peneliti membentuk norma ekstrim menempatkan tiga orang yang dalam tiga kelompok. Sesi pertama dalam kelompok, individu tersebut mulai mempertimbangkan keputusan lain dari anggota kelompok lainnya. kemudian, keputusan individu tersebut menjadi satu keputusan kelompok hingga pada sesi ketiga keputusan menjadi konvergen atau menjadi keputusan bulat. Proses konvergensi atau bersatunya keputusan menjadi satu keputusan dalam kelompok.

Menurut Sherif, norma berkembang karena adanya interaksi diantara anggota kelompok.

Dalam studi generasi lain, peneliti memberikan umpan balik kelompok yang disarankan bahwa norma mereka tentang bagaimana keputusan harus dibuat menyebabkan mereka untuk membuat kesalahan, tetapi umpan balik negatif ini tidak mengurangi usia panjang norma pada setiap generasi anggota dalam kelompok (Nielsen & Miller, 1997).

Karakteristik dan Varietas (Jenis-Jenis) Norma

Fitur-fitur umum Deskripsi
Deskriptif Menjelaskan bagaimana kebanyakan anggota-anggota dalam kelompokm beraksi, merasa, dan berpikir
Konsensual Terbagi diantara anggota kelompok, daripada secara personal dan level keyakinan tiap anggota kelompok
Injungtif Menjelaskan perilaku yang mana yang buruk atau tidak diterima dan yang baik atau dapat diterima
Preskriptif Melihat standar perilaku yang diharapkan, apa yang harus dilakukan
Proskriptif Mengidentifikasi perilaku-perilaku yang seharusnya tidak ditampilkan
Informal Menjelaskan aturan-aturan yang tidak tertulis dalam kelompok
Implisit Diambil oleh anggota kelompok dan secara otomatis mengikuti norma kelompok
Pembangkitan diri (self-generating) Muncul sebagai anggota mencapai konsensus melalui pengaruh timbal balik
Stabil Sekali norma berkembang, anggota akan tahan (resisten) terhadap perubahan dan diteruskan dari anggota saat ini menuju anggota baru

Psikodinamika Norma

Kapankah tepatnya norma injungtif benar-benar mempengaruhi perilaku? Karena jelas bahwa norma tersebut tidak selalu dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang . contohnya meskipun ada norma injungtif yang menyatakan, “bersihkan kotoran ayam dikandangmu” dan meskipun pada kenyataannya terdapat aturan untuk yang mengatur kebersihan lingkungan, dan seringkali pemilik kandang ayam juga melihat pada tetangga yang juga mempunyai kandang ayam yang juga tidak menghiraukan kebersihan lingkungan.

Mengapa orang-orang mengabaikan norma injungtif? Hal ini dapat dijelaskan melalui teori fokus normatif (Focus Normative Theory) oleh Cialdini (1990). Teori ini menyatakan bahwa norma akan akan mempengaruhi tingkah laku hanya bila norma tersebut menjadi fokus orang-orang yang telibat pada saat perilaku tersebut muncul . Dengan kata lain, orang akan mematuhi norma injungtif hanya jika mereka memikirkan tentang norma tersebut dan melihatnya terkait dengan tindakan mereka.

Penelitian yang dilakukan Kallgren, Reno, dan Cialdini (2000) dalam sebuah laboratorium terkait ketika norma injungtif mempengaruhi dan tidak mempengaruhi perilaku. Dari hasil penelitian laboratorium, dihasilkan bahwa partisipan penelitian yang membaca bacaan yang terkait erat dengan norma yang menentang aksi pembuangan sampah sembarangan, cenderung untuk tidak membuang sampah sembarangan dibandingkan dengan kelompok kontrol atau kelompok yang membaca bacaan yang tidak terkait dengan aksi membuang sampah atau norma membuang sampah. Temuan ini memperkuat teori fokus normatif, yang memandang bahwa norma mempengaruhi tingkah laku hanya bila norma tersebut menjadi fokus (penting) bagi orang-orang yang terliibat.

Perubahan Sosial

Melalui norma bagaimana perilaku individu dibentuk oleh apa ada sekitar masyarakat, mereka anggap tepat, benar atau diinginkan. Para peneliti sedang menyelidiki bagaimana norma-norma perilaku manusia dibentuk dalam kelompok dan bagaimana perilaku-perilaku masyarakat berevolusi dari waktu ke waktu, dengan harapan belajar bagaimana untuk mengerahkan pengaruh yang lebih ketika datang untuk mempromosikan kesehatan, pemasaran barang atau mengurangi prasangka.
Norma-norma sosial, aturan yang sering terucapkan dari kelompok, bukan hanya membentuk perilaku kita, tetapi juga sikap kita.

Norma sosial mempengaruhi bahkan hingga preferensi yang mereka anggap pribadi, seperti musik yang kita suka atau kebijakan apa yang akan kita dukung. Intervensi yang memanfaatkan tekanan kelompok yang sudah ada, harus mampu menggeser sikap dan perilaku perubahan dengan biaya yang sedikit.

Norma melayani fungsi dasar sosial manusia, membantu kita membedakan apa yang berada dalam kelompok dan apa yang berada diluar kelompok. Berperilaku dengan cara kelompok yang dianggap tepat adalah cara untuk menunjukkan kepada orang lain, dan untuk diri sendiri, bahwa kita adalah bagian dari sebuah kelompok.

Para ilmuwan mengetahui bahwa tekanan kelompok mempunyai efek pengaruh kuat terhadap perilaku kesehatan, termasuk penggunaan alkohol, merokok dan berolahraga. Dengan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dinamika tren setter dan trend-pengikut, peneliti dapat menemukan lebih banyak pilihan perilaku untuk mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit (http://online.wsj.com/news/articles).

Sekian artikel tentang Pengertian Norma Kelompok Jenis, dan Proses Pembentukan Norma Kelompok

Daftar Pustaka
  • Parks, C. D. 2004. Encyclopedia of Leadership. 2004. SAGE Publications.
  • Forsyth, R, D. 2010. Group Dynamics, Fifth Edition. Wadsworth, Cengage Learning.
  • http://psypress.co.uk/smithandmackie/resources/topic.asp?
  • Baron, A. R. &  Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.
  • http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424052748704436004576298962165925364