Psikologi Perkembangan

Psikologi Kepribadian

Psikologi Pendidikan

Recent Posts

Resolusi Konflik dan Negosiasi Konflik Antar Kelompok

Resolusi Konflik dan Negosiasi Konflik Antar Kelompok - Artikel ini membahas mengenai resolusi konflik dan negosiasi, berbagai pendekatan penyelesaian konflik, dan negosiasi (teknik, proses negosisasi). Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami cara menyelesaikan konflik dan teknik bernegosiasi, mengetahui berbagai penyelesaian konflik, dan mengetahui teknik dan proses bernegosiasi

Resolusi Konflik dan Negosiasi

Definsi Konflik :
  • Sebuahkeadaandi manakelompok-kelompokmengambil tindakanbertentangan (antagonis)antara kelompok satu dengan kelompok lainuntuk mengontrol beberapahasil akhiryang penting untukmasing-masing kelompok.
  • Sebuah ekspresiyang jelasdariketeganganantara tujuanatau masalahdarisatu kelompokterhadapkelompoklain.
  • Konflikadalah prosesdimana masyarakattidak setujuatas isu-isuyang penting, sehingga menciptakanfriksi atau gesekan.
Terdapat beberapa deskripsi yang harus ada terkait  terjadinya konflik:
  1. Orangharus memilikikepentingan, pikiran, persepsi, dan perasaanyang bertentangan dengan yang lain
  2. Mereka yang terlibat konflikharusmengakui keberadaansudut pandang yang berbeda
  3. Adanya Ketidaksepakatan dan ketidaksesuaian yangberlangsung
  4. Orang denganpandangan yang berlawananharus mencobauntuk mencegahsatu sama laindarimencapai tujuan.

Konflik dapat menjadi kekuatan destruktif. Namun konflik juga dapat bermanfaat bila digunakan sebagai sumber pembaruan dan kreativitas dalam kelompok. Umumnya kita sering menggunakan konflik dan kompetisi  dalam terminologi secara bergantian, meskipun keduanya berbeda. Kompetisi adalah persaingan antara individu atau kelompok atas hasil yang dicapai dan selalu terdapat pihak yang menang dan pihak yang kalah. Sementara kompetisi dapat dipahami sebagai  salah satu sumber konflik. Dalam konflik tidak selalu melibatkan pemenang dan yang kalah. Masyarakat dapat mengalami isu-isu penyebab konflik, tetapi dapat bekerja sama satu sama lain sehingga tidak ada pihak yang kalah atau menang.

Resolusi Konflik dan Negosiasi Konflik Antar Kelompok_
image source: entreprisenk.com
baca juga: Pengertian dan Teori Konflik Antar Kelompok dan Solusinya

Proses terjadinya konflik

Memandang Konflik
Ada dua cara dalam memandangan konflik. Pertama, konflik dapat dianggap sebagai kekuatan negatif dan disfungsional, bahwa konflik membuat orang merasa tidak nyaman dan akibatnya membuat mereka yang berkonflik menjadi kurang produktif. Kedua, konflik dapat dilihat sebagai bagian alami dari kehidupan organisasi masyarakat maupun kelompok dan bermanfaat bagi lingkungan (Sagepub)

Konsekuensi Konflik
Konflik mempunyai dampak terhadap sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, anggota kelompok mengalami kegembiraan dan timbulnya energi yang berasal dari kompetisi. Persaingan dan konflik dapat memotivasi orang dan menginspirasi mereka untuk berfokus pada tugas. Keterlibatan dalam kompetisi membawa anggota kelompok menjadi lebih dekat bersama-sama dan mengarah  pada peningkatan diskusi berbagai isu dan alternatif yang dapat diambil. Saat berada di luar konflik atau persaingan terjadi, kelompok anggota bersatu dan bertukar pikiran untuk mencari solusi kreatif. Proses ini akan meningkatkan kohesi dan efektivitas kelompok.

Perusahaan atau organisasi  dapat menggunakan persaingan dengan perusahaan lain sebagai cara untuk mengurangi konflik internal dan memfokuskan energi karyawan pada persaingan pada organisasi luar. Meskipun konflik tidak bisa dihindari dan diinginkan dalam organisasi, konflik tingkat tinggi yang tidak terselesaikan dapat merusak dan bersifat negatif. Individu, tim, atau kelompok yang terlibat dalam konflik tinggi dapat melupakan tujuan bersama dan fokus pada kemenangan yang memerlukan biaya tinggi. Mereka bisa menahan informasi penting dari orang lain, atau bahkan secara aktif menyabotase pekerjaan orang lain. Ketika konflik mengarah ke pemenang dan pecundang, pecundang bisa demoralisasi dan menjadi kehilangan motivasi.

Mengurangi Konflik Melalui Teknik GRIT
Sebuah strategi perdamaian yang dikembangkan oleh Charles Osgood (1962) menawarkan beberapa harapan untuk memecahkan konflik antar kelompok. Dalam strategi ini, dilakukan secara bertahap dan inisiatif yang saling berbalas dalam mereduksi reduksi ketegangan (GRIT : Graduated and Reciprocated Initiatives in Tension-reduction), satu kelompok mengambil langkah pertama menuju kerjasama dengan membuat konsesi awal. Dalam GRIT, agresivitas ditanggapi dengan agresivitas dengan cara kerjasama yang lebih kooperatif. Penelitian tentang GRIT memberi jalan keluar, bahkan orang-orang dengan Orientasi kompetitif cenderung merespon secara kooperatif untuk strategi ini, dan efek positif dari GRIT dapat bertahan lama dalam penyelesaian konflik (Lindskold & Han, 1988; Yamagishi et al, 2005.).

Perundingan atau Negosiasi
Negosiasi merupakan bagian penting dari proses resolusi konflik. Negosiasi dapat dilihat sebagai suatu proses di mana dua pihak atau lebih berusaha untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima dalam situasi yang ditandai dengan beberapa tingkat ketidaksepakatan (POPESCU, 2009).
Konsesi secara sepihak berguna untuk memulai proses perdamaian, namun negosiasi yang diperpanjang biasanya diperlukan untuk mencapai kesepakatan akhir. Negosiasi tentang isu-isu kompleks seperti pengawasan senjata nuklir, perlindungan lingkungan internasional, dan upaya untuk membuat perdamaian di kawasan yang mudah menguap atau bersengketa seperti Timur Tengah, negosiasi sering berjalan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.  Negosiasi tidak terbatas pada kancah internasional. Serikat pekerja dan manajemen terlibat dalam perundingan bersama untuk membangun kontrak karyawan. Pasangan yang bercerai menegosiasikan persyaratan perceraian mereka, oleh mereka sendiri atau melalui pengacara mereka (Kassin, Fein, dan Markus, 2011).
Memang, negosiasi terjadi setiap kali ada konflik yang ingin diselesaikan pihak pihak yang terkait tanpa harus masuk ke sebuah persiteruan terbuka atau mengandalkan pada penyelesaian hukum.

Dua Pendekatan Umum dalam Negosiasi (Robbins, 2009):

1. Perundingan distributif
Negosiasi yang berusaha untuk membagi sejumlah tetap sumber daya; situasi menang-kalah.
2. Perundingan integratif
Negosiasi yang mencari satu atau lebih penyelesaian yang dapat membuat solusi win-win.

Perundingan Distributif versus Perundingan Integratif
Karakteristik perundingan Distributive Bargaining Integrative Bargaining
Goal / tujuan Get all the pie you can / dapatkan semua kue yang kamu bisa Expand the pie
/ perluasan kue
Motivasi Kalah - menang Menang-menang
Fokus Posisi-posisi Interes
Information Sharing Rendah Tinggi
Jangka waktu hubungan Short-Term Long-Term

Kunci Sukses Negosiasi (Kassin, Fein, dan Markus, 2011)
Konflik dapat dikurangi melalui negosiasi yang sukses. Tapi apa yang merupakan keberhasilan dalam konteks ini? Mungkin hasil yang paling sukses secara umum adalah pencapaian kompromi 50-50. Di sini, para perunding (negosiator) berada pada posisi ekstrem dan secara bertahap bekerja menuju titik tengah yang dapat diterima secara bersama. Beberapa negosiator mencapai tingkat yang lebih tinggi untuk sukses. Kebanyakan negosiasi tidak sesederhana pada situasi pencapaian jumlah tetap (fixed-sum situation) di mana masing-masing pihak harus merelakan sesuatu sampai titik tengah tercapai. namun kadang sebaliknya sering terjadi bahwa kedua belah pihak bisa mendapatkan keuntungan (Bazerman & Neale, 1992). Ketika kesepakatan integratif (integrative agreement) tercapai, kedua belah pihak memperoleh hasil yang lebih unggul yakni kesepakatan 50-50.

Kesepakatan integratif  adalah sebuah resolusi yang dinegosiasikan terhadap sebuah konflik di mana semua pihak memperoleh hasil yang unggul terhadap apa yang akan mereka peroleh dari pembagian yang sama pada pada sumber daya yang selama ini diperebutkan.

Konflik dapat bersifat konstruktif atau destruktif
Mengurangi konflik yang berlebihan dengan menggunakan dua dimensi penting yakni ketegasan (assertiveness) dan kooperatif (cooperativeness):
  1. Kompetisi
  2. Kolaborasi
  3. Menghindari (Avoidance)
  4. Akomodasi
  5. Kompromi

Negosiasi integratif adalah metode jangka panjang yang lebih baik

BATNA
The Best Alternative To A Negotiated Agreement (alternatif terbaik pada persetujuan / kesepakatan yang dinegosiasikan); nilai terendah yang dapat diterima (hasil) pada seseorang untuk perjanjian yang dinegosiasikan.

Pedoman Penyelesaian Konflik Negotiation
                        Isu-isu yang mempengaruhi efektifitas dalam negosiasi:
  1. Peran mood dan Kepribadian Sifat dalam Negosiasi
Suasana hati yang positif mempengaruhi negosiasi. Ranah sifat seseorang tampaknya tidak memiliki efek signifikan langsung terhadap hasil baik perundingan atau negosiasi proses (kecuali sifat extraversion, cenderung buruk untuk negosiasi yang efektif).
  1. Perbedaan gender dalam Negosiasi
  2. Perempuan bernegosiasi tidak berbeda dari laki-laki, meskipun laki-laki tampaknya bernegosiasi hasil sedikit lebih baik.
  3. Pria dan wanita dengan dukungan dari basis kekuasaan yang sama menggunakan gaya negosiasi yang sama.
  4. Sikap perempuan terhadap negosiasi dan keberhasilan mereka sebagai negosiator kurang baik dibanding laki-laki.
  5. Budaya
  6. Penelitian lintas-budaya beberapapada gayanegosiasi, misalnya:
    Negosiator Amerika lebih disukai dibandingkan bargainer dari Jepang untuk melakukan perundingan untuk pertama
  7. Amerika Utaramenggunakanfakta-faktauntuk membujuk, Arabmenggunakanemosi, danRusiamenggunakancita-cita (idealisme)menegaskan.
  8. Brasildikatakan "tidak" lebih baik dariorang Amerikaatau Jepang sebagai negosiator.

Negosiasi Pihak Ketiga (Third-Party Negotiations)

Empat Peran Dasar Pihak Ketiga

1. Penengah (Mediator)
Pihak ketiga yang netral yang memfasilitasi solusi yang dirundingkan dengan menggunakan penalaran, persuasi, dan saran untuk alternatif.
2. Wasit (Arbitrator)
Sebuah pihak ketiga untuk negosiasi yang memiliki wewenang untuk menentukan kesepakatan.
3. Pendamai (Konsiliator)
Seorang pihak ketiga yang dipercaya dapat  menyediakan jaringan komunikasi informal antara perunding dan lawan
4. Konsultan
Pihak ketiga yang netral, terampil dalam manajemen konflik, yang mencoba untuk memfasilitasi pemecahan masalah secara kreatif melalui komunikasi dan analisis

Sekian artikel Ilmu Psikologi tentang Resolusi Konflik dan Negosiasi Konflik Antar Kelompok

Daftar Pustaka
  • SAGEPUB.  Managing Conflict and Negotiation
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.
  • Lunenburg, C. F. 2011. Leadership versus Management: A Key Distinction—At Least in Theory.  INTERNATIONAL JOURNAL OF MANAGEMENT, BUSINESS, AND ADMINISTRATION VOLUME 14, NUMBER 1.
  • Kassin, S., Fein, S., Markus, R. H.  (2011). Social Psychology:Eighth Edition.  Wadsworth Publishing Company.
  • POPESCU, D. I. (2009). Intergroups Conflict Patterns. REVISTA DE MANAGEMENT COMPARAT INTERNATIONAL/REVIEW OF INTERNATIONAL COMPARATIVE MANAGEMENT, 10(5), 1011-1020.
  • Robbins, P. S. (2009). Managing Organizational Conflict: A Nontraditional Approach (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1974), pp. 59–89.

Pengertian dan Teori Konflik Antar Kelompok dan Solusinya

Pengertian dan Teori Konflik Antar Kelompok dan Solusinya - Artikel ini membahas mengenai konflik antar kelompok, pengertian konflik antar-kelompok, teori konflik antar-kelompok, dan cara mengatasi konflik antar-kelompok. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami sejarah dan sifat alamiah konflik memahami konflik antar kelompok, dan menjelaskan konflik antar kelompok berdasarkan teori konfli,serta mengatasi memahami cara resolusi konflik antar kelompok.

Konflik antar Kelompok

  1. Definisi
DeLamater (2011) memandang konflik antarkelompok dalam dua cara yang berbeda. Pertama, mengacu pada konflik antara kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok terorganisir. Sebuah kelompok yang terdiri dari anggota yang berinteraksi satu sama lain, yang didefinisikan dengan baik dalam hubungan peran, dan yang memiliki tujuan atau sasaran yang saling tergantung satu sama lain.

Kedua, konflik antarkelompok juga mengacu pada apa yang mungkin lebih baik digambarkan sebagai konflik antara orang yang tergolong dalam kategori sosial yang berbeda. Meskipun tidak selalu menjadi anggota kelompok yang terorganisir, orang-orang tersebut menganggap diri mereka sebagai anggota dalam kategori sosial yang sama dan terlibat secara emosional. Misalnya, konflik antara anggota kategori etnis atau ras (seperti konflik antara suku Betawi dan suku Madura di Jakarta) dapat dianggap sebagai konflik antarkelompok, meskipun individu yang terlibat mungkin bukan anggota kelompok terorganisir.

Pengertian dan Teori Konflik Antar Kelompok dan Solusinya_
image source: estrategiagroup.com
baca juga: Pengambilan Keputusan dalam Kelompok Menurut Para Ahli

Konflik antar kelompok merupakan:
  • Sebuahkeadaandi manakelompok-kelompokmengambil tindakanbertentangan (antagonis)antara kelompok satu dengan kelompok lainuntuk mengontrol beberapahasil akhiryang penting untukmasing-masing kelompok.
  • Sebuah ekspresiyang jelasdariketeganganantara tujuanatau masalahdarisatu kelompokterhadapkelompoklain.

Teori konflik: Penjelasan tentang sifat, perkembangan, dan konsekuensi dari konflik sosial. Teori yang paling menonjol telah dikembangkan oleh Karl Marx, Georg Simmel, Lewis Coser, dan lain-lain. Marx berhipotesis bahwa konflik akhirnya akan mengarah pada penggulingan kelompok kekuasaan, mengarah pada tatanan tanpa kelas sosial, masyarakat bebas konflik. Simmel dan Coser berpendapat bahwa bahwa konflik tidak secara inheren buruk dan konflik dapat melayani fungsi penting seperti memperkuat kelompok dalam (in group), meningkatkan kohesivitas kelompok, dan memobilisasi energi dari anggota kelompok (Barker, 1987).

Historical Origins (Akar sejarah Konflik):

a. Kecenderungan konflik

Kecenderungan konflik pada masyarakat adalah unsur dasar dari sifat manusia (Machiavelli, 1531/1948, 1532/1948, dan Hobbes, 1651/1947).

b. Kompetisi
Memperebutkan sumber daya: Konflik dan perjuangan mempromosikan keberadaan sosial manusia dengan memastikan bahwa terkuat dari spesies bertahan hidup (Darwin, 1859/1958, Malthus, 1789/1894).

Herbert Spencer (1898) mengemukakan bahwa konflik adalah proses alami yang memberikan kontribusi untuk evolusi sosial.

William Graham Sumner (1883) mengusulkan bahwa persaingan untuk bertahan hidup disebabkan kemajuan sosial yang positif.

c. Teori Marxian
Konflik adalah suatu kondisi struktural dasar masyarakat. Konflik merupakan bagian yang melekat dari hubungan manusia. Eksistensi manusia bertentangan satu sama lain. Pikiran dan tindakan manusia terjadi melalui proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis.

Kelas :
Pandangan materi masyarakat: aktor manusia menghasilkan dirinya melalui kerja. Dua kelompok mendasar: pekerja dan pemilik. Pemilik mengeksploitasi pekerja. Kekuasaan politik adalah hasil dari kekuatan ekonomi. Tatanan politik: hukum, pendidikan, dan sistem keluarga yang dirancang untuk menguntungkan pemilik, yang mengakibatkan "determinisme ekonomi." Engels, dan Marx, memandang konflik sosial dalam keluarga, posisi pria dan wanita analog dengan posisi pemilik dan pekerja.

d. Teori Psikoanalitik Freud dan Konflik
Konflik merupakan kepentingan sifat dasar manusia, tetapi dikelola oleh nurani.
Ada kekuatan bawah sadar yang agresif yang berusaha mencari ekspresi. Adanya dorongan tanatos, dorongan untuk melakukan destruksi, merusak diri sendiri, dan agresi.

e. Pentingnya Kekuasaan:
  • Kekuasaan: kemampuan untuk melaksanakan kehendak sendiri meskipun bertentangan. Hal ini terkait dengan konflik sosial dan tatanan sosial.
  • Kekuasaan adalah elemen penting dari eksistensi sosial. Masyarakat, sebagai akibat dari posisi mereka, mengerahkan kekuasaan atas orang lain.
  • Kekuasaan dilembagakan dan disahkan: kekuasaan menghasilkan tatanan sosial.

f. Konflik merupakan kekuatan sosial integratif

Realitas sosial bersifat dualistis, termasuk angkatan bersenjata yang mempromosikan tatanan sosial dan konflik sosial (Simmel, 1904, 1908/1955).
  • Konflikdapat menyatukanorang untuk menentang dan menyerangmusuh bersama.
  • Konflikdapatmenjadi kekuatanyang memecah-belah.

g. Konflik sebagai Skema Kognitif (Analisis Sosial Kognitif Konflik dan Pemutusan Konflik):
Menurut perspektif ini, konflik dipandang sebagai konten yang spesifik pada pengetahuan, atau sebagai skema kognitif tertentu. Konten spesifik pengetahuan yang terkandung dalam skema konflik mengacu pada ketidakcocokan tujuan atau sasaran antar kelompok (intergroup). Sebuah situasi konflik dikatakan terjadi jika setidaknya salah satu pihak menganut skema konflik. Dengan demikian, retensi atau modifikasi dari skema konflik dapat menentukan apakah konflik dipertahankan atau diselesaikan.

Menurut perspektif ini, konflik dipandang sebagai konten yang spesifik pada pengetahuan, atau sebagai skema kognitif tertentu. Konten spesifik pengetahuan yang terkandung dalam skema konflik mengacu pada ketidakcocokan tujuan atau sasaran antara para pihak. Sebuah situasi konflik dikatakan terjadi jika setidaknya salah satu pihak menganut skema konflik. Dengan demikian, retensi atau modifikasi dari skema konflik dapat menentukan apakah konflik dipertahankan atau diselesaikan.

Tiga hal berikut berfungsi untuk mengkarakterisasi pendekatan skematik (Stroebe, Kruglanski, Bar-Tal, Hewstone, 1988):
  1. Sekali skemata terbentuk, maka skema kognisi memerintah untuk sebagian besar pengkodean informasi, organisasi, dan pengambilan informasi. Dengan demikian, setelah situasi didefinisikan sebagai konflik, bukti yang konsisten akan dikumpulkan untuk mendukung skema ini.
  2. Kedua, beberapa keyakinan berfungsi sebagai dasar untuk implikasi dan asosiasi yang berbeda yang bervariasi dari individu ke individu lainnya dan dari kelompok ke kelompok lain. Dalam kasus ini, ketidaksesuaian tujuan mungkin berarti hal yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda.
  3. Ketiga, skematatergantung padavariasi yang besar dalamketersediaandan aksesibilitas. Ketersediaanmengacu padakeberadaandariskematertentu dalamsatukhasanahkognitif, sedangkan aksesibilitasmengacu padakesiapanskemayang ada untuk dapat dimanfaatkan.

Teori konflik antar-kelompok

Adanya hubungan yang berkonflik antar kelompok-kelompok sosial adalah fitur yang dimiliki masyarakat. Sedangkan beberapa bentuk persaingan antarkelompok (intergroup rivalry) secara sosial dibiarkan dan bahkan didorong atas dasar bahwa mereka mempromosikan loyalitas (kesetiaan) ingroup (misalnya kesebelasan sepak bola) dan melindungi proses demokrasi (partai politik), manifestasi lain konflik sosial dianggap sebagai sangat buruk (Condor dan Brown, 1988).
Banyak teori yang dapat memahami mengapa konflik-konflik antar kelompok terjadi dan  menjadi bahasan tersendiri. Beberapa pandangan untuk mengetahui kenapa konflik sosial antar kelompok dapat terjadi.

1. Teori dominansi sosial (Social Dominance Theory)
Banyak teori yang dapat memahami konflik antar kelompok dan bagaimana melihat konflik itu muncul. Untuk awalnya disini mencoba melihat melalui Social Dominance Theory, di dalam Sosial Dominance Theory terdapat hubungan yang masing-masing kelompok memegang status yang berbeda, kelompok yang besar disebut kelompok dominan dan kelompok yang kecil disebut kelompok subordinat. Perbedaan antar kelompok tidak hanya terjadi karena batasan kognitif, justru lebih besar karena konteks sosial.

Dijelaskan pula bahwa dalam Social Dominance Theory terdapat hirarki, maka konflik dan diskriminasi dalam masyarakat merupakan hal yang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari struktur hirarkhi antar kelompok. Ada hirarkhi yang umum dibuat masyarakat yaitu usia, gender, empty set (ras, partai, agama), status ekonomi dan sosial. Sidanius dan Pratto (2004) mengatakan bahwa dalam Social Dominance Theory, ketidaksetaraan hirarki sosial berdasarkan kelompok merupakan hasil dari pendistribusian nilai sosial (social value) secara tidak adil kepada kelompok-kelompok masyarakat, baik nilai sosial positif maupun negatif. Ketidaksetaraan distribusi dari nilai sosial ini, pada akhirnya akan dimanfaatkan oleh ideologi sosial, keyakinan, mitos, dan doktrin religius tertentu sebagai alat pembenaran.

Dalam jurnal Sidasinus dan Pratto (2004) dikatakan bahwa orang yang berstatus kelompok yang tinggi lebih mendukung ketidaksetaraan daripada orang-orang di kelompok berstatus yang rendah. Social Dominance Theory menjelaskan bahwa determinan awal dari segala bentuk dominasi adalah orientasi dominasi sosial. Orientasi dominasi sosial adalah “Derajat keinginan individu untuk mendukung hirarki sosial berdasarkan kelompok dan dominasi kelompok superior terhadap kelompok inferior”. Sidanius dan Pratto mengatakan bahwa orientasi dominasi sosial merupakan komponen yang paling psikologis dari Social Dominance Theory.

2. Teori identitas Sosial (Social Identity Theory Henry Tajfel dan Turner)
Diluar kepentingan yang bertentangan faktor lain dalam konflik antarkelompok adalah seberapa kuat anggota mengidentifikasi dengan kelompok mereka sendiri. Ketika kepentingan berlawanan, identifikasi kelompok yang kuat dapat meningkatkan konflik antar kelompok. Meskipun ketika oposisi yang mendasari kepentingan tidak ada, identifikasi kelompok yang kuat dapat, dengan sendirinya menghasilkan perilaku bias terhadap out-kelompok lain (biased behavior toward out-groups) (DeLamater, 2011).

Teori ini dimulai dengan asumsi bahwa individu ingin memegang konsep diri yang positif. Menurut pandangan ini, konsep-diri memiliki dua komponen-identitas pribadi dan identitas sosial, meningkatkan evaluasi pada salah satu dari kedua identitas  tersebut dapat meningkatkan konsep diri seseorang. Komponen identitas sosial tergantung pada kelompok atau kategori sosial yang mana seseorang menjadi bagian dalam kelompok, dan evaluasi seseorang dalam kelompok sendiri (ingroup) ditentukan oleh perbandingan dengan kelompok lain. Dengan demikian, identitas sosial positif anggota tergantung pada apakah perbandingan yang dibuat kelompok sendiri dengan kelompok luar secara sesuai menguntungkan atau tidak menguntungkan.

Dikatakan bahwa konsep diri individu yang berasal dari pengetahuannya selama berada dalam kelompok sosial tertentu dengan disertai internalisasi nilai-nilai, emosi, partisipasi, rasa peduli dan bangga sebagai anggota kelompok tersebut (Reicher, 2004). Konsep diri mereka sebagai ingroup berasal dari nilai-nilai, kepercayaan yang mereka yakini dimana mereka menganggap bahwa menentukan jenis kelamin adalah hak setiap orang, para komunitas ini juga berpartisipasi secara emosi, peduli dan bangga, karena mereka merasa memiliki kesamaan dengan anggota kelompoknya.

Identifikasi kedalam kelompok (outgroup) dan Etnosentrisme.

Sumner (DeLamater, 2011) mengamati bahwa orang memiliki kecenderungan mendasar menyukai kelompok mereka sendiri (ingroup) dan menentang kelompok luar (outgroup).  Sumner berhipotesis bahwa anggota kelompok yang sangat mengidentifikasi (identifikasi kuat)  dirinya dengan kelompok (ingroup) sangat rentan untuk menahan sikap positif terhadap kelompoknya sendiri (ingroup) dan memegang sikap negatif terhadap kelompok lain (outgroup). Istilah Sumner untuk fenomena ini disebut sebagai etnosentrisme, yakni kecenderungan untuk menganggap kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu dan lebih unggul dari kelompok luar (outgroup). Etnosentrisme melibatkan perbedaan yang besar  yang dimiliki dan bersifat kaku antara kelompok dalam  dengan kelompok luar (outgroup). Etnosentrisme memerlukan stereotip citra positif dan sikap yang disukai terkait kelompok dalam (ingroup) yang dikombinasikan dengan stereotip citra negatif dan sikap bermusuhan terkait  kelompok luar (outgroup).

Sikap etnosentris tidak hanya menyebabkan anggota dalam kelompok untuk mendevaluasi dan merendahkan anggota kelompok luar, mereka juga (ingroup) juga membuat dan  menimbulkan diskriminasi. Diskriminasi merujuk pada tindakan yang jelas memperlakukan anggota kelompok  luar dengan cara yang tidak adil dan merugikan. Dalam keadaan yang melibatkan kompetisi atau oposisi langsung terkait kepentingan antar kelompok, sikap etnosentris seringkali akan menghasilkan tanggapan diskriminatif terhadap kelompok luar(out-group).

3. Teori Konflik Realistis kelompok (Realistic group-conflict theory)
Teori Realistis kelompok-konflik (Coser, Levine & Campbell, Sherif dalam Bornstein 2003) menyatakan bahwa konflik antarkelompok adalah rasional "dalam arti bahwa kelompok memiliki tujuan atau sasaran yang tidak sebanding dan berada dalam persaingan untuk sumber daya yang langka. Meskipun asumsi ini rasionalitas berkaitan dengan kelompok-kelompok yang bersaing, telah sering diperluas untuk mencakup anggota kelompok individu. Menyimpulkan bahwa jika rasional bagi kelompok untuk bersaing, harus rasional juga bagi individu anggota kelompok untuk melakukan konflik dengan kelompok lain. Gould (Bornstein, 2003) menyatakan bahwa semua anggota kelompok mendapatkan keuntungan jika kelompok bertindak secara kolektif dalam membela kepentingan bersama.

Ada beberapa proposisi dasar teori konflik kelompok yang realistis (DeLamater, 2011) :
  • Ketika kelompok-kelompoksedangmengejar tujuandi manakeuntunganoleh satu kelompokselalumenghasilkankerugianoleh yang lain, mereka (ingroup) memilikiapa yang disebut sebagai kepentingan bertentangan.
  • Oposisi (pertentangan) tersebut menyebabkananggota setiap kelompokmengalamifrustrasi danmengembangkansikapantagonistik (berlawanan) terhadapkelompok lain.
  • Sebagai anggotakelompok (ingroup), tiap anggota mengembangkan sikapnegatif danpersepsikurang baik tentanganggota kelompoklainnya, identifikasi mereka pada kelompok menjadilebih kuatdan melekat kuat pada kelompok.
  • Ketika solidaritasdan kohesidalamkelompokmeningkat, kemungkinankonflik antar kelompok terbukadanmeningkat, dan bahkan sedikit provokasidapat memicutindakan langsungoleh satu kelompokterhadap kelompok lain.

Resolusi konflik

Konflik antarkelompok adalah keadaan di mana kelompok-kelompok terlibat dalam tindakan antagonistik satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk mengendalikan beberapa hasil akhir yang penting bagi kelompok. Konflik sering diawali perselisihan kecil dan kemudian tumbuh dalam lingkup dan intensitas, dan menarik pada partisipan baru. Karena konflik antarkelompok merupakan sesuatu yang berpotensi bahaya dan mahal, banyak ahli telah menyelidiki cara menghentikan konflik yang terjadi pada tahap awal, sebelum mereka lepas kendali. Masalah ini secara mengejutkan bersifat kompleks. Seseorang tidak dapat, misalnya, menyelesaikan konflik antarkelompok hanya dengan membalikkan  proses yang awalnya menjadi penyebab konflik.

Hal ini sering tidak mungkin untuk menghilangkan oposisi yang mendasari kepentingan, untuk mengurangi identifikasi etnosentris dengan kelompok dalam (in-group), atau untuk mencegah kejadian yang tidak menyenangkan. Namun demikian, peneliti dan praktisi telah mengembangkan berbagai teknik untuk mengurangi atau menyelesaikan konflik antarkelompok. Berikut terdapat empat resolusi konflik yang dapat dilakukan:

1. Superordinate Goals
Salah satu teknik yang paling efektif untuk menyelesaikan konflik antar kelompok adalah untuk dikembangkan adalah dengan apa yang disebut tujuan atau sasaran superordinate.  Tujuan superordinat adalah tujuan yang dilakukan bersama oleh semua kelompok dalam suatu konflik yang tidak dapat dicapai oleh satu kelompok tanpa upaya dukungan kelompok lainnya. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa setelah diperkenalkan, tujuan atau sasaran superordinat dapat mengurangi bias kelompok dalam (in-group) terhadap kelompok luar dan dapat melerai konflik antarkelompok (Bettencourt, Brewer, Croak, & Miller, 1992; Gaertner et al., 1999; Sherif et al., 1961). Dengan memperkenalkan tujuan atau sasaran superordinate ke dalam konflik, tujuan atau sasaran dapat dicapai hanya melalui upaya bersama dari sisi yang berlawanan, mempromosikan perilaku kooperatif dan berfungsi sebagai dasar untukme restrukturisasi hubungan antar kelompok.

Tujuan atau sasaran superordinate menciptakan ketergantungan kooperatif antara in-group dan out-group. Dengan mengubah situasi permusuhan menang-kalah menjadi salah satu pemecahan masalah kolaboratif, dengan kemungkinan hasil win-win (menang-menang), tujuan superordinat mengurangi gesekan antar kelompok-kelompok.

2. Intergroup Contact

Teknik lain adalah untuk meningkatkan kontak antar kelompok. Pendekatan ini lebih efektif dalam mengurangi bias dan konflik bila kontak dapat dipertahankan, dekat, berdasarkan status yang sama, dan didukung secara kelembagaan. Beberapa ahli teori telah mengusulkan bahwa peningkatan kontak dan komunikasi antar anggota  antar kelompok dapat mengurangi konflik antarkelompok. Peningkatan kontak dapat mengurangi stereotip dan mengurangi bias dan akibatnya mengurangi konflik atau perselisihan antar kelompok.

Beberapa ahli telah memusatkan perhatian mereka pada pengidentifikasikan kondisi
di mana kontak antarkelompok mengarah pada penurunan bias dan konflik, dan kondisi di mana tidak dapat menurunkan:

a. Sustained Close Contact
Kontak antar anggota kelompok yang berbeda lebih cenderung untuk membawa pengurangan dalam prasangka dan konflik jika kontak dipertahankan berkelanjutan serta bersifat lebih personal atau pribadi daripada hanya bersifat singkat dan dangkal. Studi laboratorium menunjukkan bahwa kontak yang melibatkan sesi yang berulang dengan anggota out-group lebih efektif dalam menurunkan Bias antarkelompok daripada kontak yang melibatkan hanya satu sesi (Wilder & Thompson, 1980).

Tingkat kedekatan atau personalisasi kontak antarkelompok juga akan mempengaruhi sejauh mana sikap akan berubah dan stereotip berkurang.  Rendahnya tingkat keintiman akan memiliki sedikit efek pada prasangka dan stereotip antarkelompok (Segal, 1965).

b. Equal-Status Contact

Kontak antar kelompok lebih mungkin untuk mengurangi prasangka ketika kelompok dalam dan kelompok luar menduduki posisi status yang sama dibandingkan dengan  ketika mereka menduduki posisi status yang tidak sama (Riordan, 1978; Robinson & Preston, 1976). Saat status antar kelompok tidak sama, anggota kelompok yang statusnya lebih tinggi dapat menolak untuk menerima pengaruh atau belajar dari kelompok-status yang lebih rendah. Mereka dapat membenarkan hal tersebut untuk diri mereka sendiri dengan alasan bahwa kelompok lain yang statusnya lebih rendah kurang memiliki keterampilan atau pengalaman.  Ketika kelompok yang lebih tinggi statusnya tidak mau menerima pengaruh, karena alasan kompetensi yang lebih rendah akan didukung, maka stereotip akan lebih sulit untuk diatasi.

c. Institutionally Supported Contact
Kontak antar kelompok lebih mungkin dapat mengurangi stereotip dan menciptakan sikap yang disukai jika didukung oleh norma-norma sosial yang mempromosikan kesetaraan antar kelompok-kelompok (Adlerfer, 1982; Cohen, 1980; Williams, 1977). Jika norma-norma mendukung keterbukaan, keramahan, dan saling menghormati, kontak antar kelompok memiliki kesempatan yang lebih besar jika yang didukung oleh kelembagaan (institusi) yang mengatur kontak antarkelompok. Kontak antar kelompok diberi sanksi oleh otoritas luar atau dengan membentuk aturan lebih menghasilkan perubahan positif daripada kontak antar kelompok yang tidak didukung pihak lain (institusi).

4. Mediation and Third-Party
Perselisihan antar buruh yang terorganisir dengan pihak  manajemen atau konflik antara kelompok masyarakat kadang-kadang mudah diselesaikan melalui intervensi (Intervention) dari pihak ketiga, seperti mediator atau arbiter (wasit). Seorang mediator adalah pihak ketiga yang berfungsi sebagai perantara dan yang membantu kelompok-kelompok yang berkonflik untuk mengidentifikasi isu-isu dan membantu antar kelompok untuk sepakati dengan beberapa resolusi. Umumnya mediator merupakan pihak ketiga yang independen.

Mediator umumnya berfungsi sebagai penasihat dan bukan sebagai pengambil keputusan dalam sengketa. Berbeda dengan mediator, arbitrator adalah pihak ketiga yang netral yang memiliki kekuasaan untuk memutuskan bagaimana konflik akan diselesaikan. Arbitrator mendengarkan argumen dari pihak yang bertikai dan kemudian membuat keputusan yang mengikat pada kelompok yang saling bertentangan. hal Ini berbeda dari mediasi, di mana resolusi mungkin atau mungkin tidak tercapai dan, bahkan jika tercapai, bersifattidak mengikat. Mediator atau arbiter (wasit) dapat ditemukan dalam kasus perceraian dan klaim kecil pengadilan, negosiasi antara buruh dengan pihak manajemen, masyarakat dengan kawasan lingkungan yang terjadi perselisihan (lingkungan pabrik dan lingkungan masyarakat), dan situasi lain termasuk sengketa internasional. Semakin besar magnitud atau goncangan konflik dan buruknya hubungan dari kedua pihak, meredupkan prospek bahwa mediasi akan terbukti sukses (Carnevale & Pegnetter, 1985; Kressel & Pruitt, 1985).

Konflik yang telah dialami dalam waktu yang lama, yang mencakup berbagai isu yang disengketakan, atau yang membawa pada taktik yang merusak atau kekerasan akan sulit untuk ditengahi (mediasi). Mediasi memiliki kesempatan yang lebih baik sukses ketika masing-masing kelompok yang saling bertentangan mempercayai mediator. Tanpa kepercayaan, mediator akan kesulitan untuk mendapatkan akses kedalam kelompok dan kesulitan untuk melakukan diskusi secara jujur dan terang dengan anggota mereka. Tentu saja, dalam beberapa konflik, orang yang dapat dipercaya oleh semua pihak mungkin sulit untuk ditemukan.

Sekian artikel Ilmu Psikologi tentang Pengertian dan Teori Konflik Antar Kelompok dan Solusinya.

Daftar Pustaka

  • Christie, D. J., Wagner, R. V., & Winter, D. A. (2001). Peace, Conflict, and Violence: Peace Psychology for the 21st Century. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall
  • Sidanius, Jim., Pratto, Felicia., & Laar, Collete Van. (2004). Social Dominance Theory: Its Agenda and Method. International Society of Political Psychology, Vol. 25, No. 6
  • Reicher, Stephen. (2004). The Context of Social Identity: Dominance, Resistance, and Change. Political Psychology, Vol. 25, No. 6
  • Simmel, G. (1904). The sociology of conflict. I. The American Journal of Sociology, 9(4), 490-525.
  • Machiavelli, N. 1531 [1970]. The Discourses.
  • Condor, Susan, and Rupert Brown. "Psychological processes in intergroup conflict." The social psychology of intergroup conflict. Springer Berlin Heidelberg, 1988. 3-26.
  • Stroebe, W., Arie W. Kruglanski, W. A., Bar-Tal, D., & Hewstone, M. (1988). The Social Psychology of Intergroup Conflict. Theory, Research and Applications. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
  • Bornstein, G. (2003). Intergroup Conflict: Individual, Group, and Collective Interests. Personality and Social Psychology Review. Vol. 7, No. 2, 129–145.
  • DeLamater, D. J., & Myers, J, D. 2011. Social Psychology:seventh edition. Cengage Learning, Inc.

Pengambilan Keputusan dalam Kelompok Menurut Para Ahli

Pengambilan Keputusan dalam Kelompok Menurut Para Ahli - [Ilustrasi Kasus] Setelah berminggu-minggu mendengar kesaksian, para juri melakukan rapat untuk mendiskusikan kasus kontroversial dan menjatuhkan hukuman. Seorang wanita telah menikam suaminya hingga tewas. Jaksa penuntut mengatakan bahwa ini adalah kejadian pembunuhan berencana dan pelaku pantas untuk dihukum mati. Pembela mengatakan bahwa wanita itu sebelumnya merupakan korban dari dari kekerasan fisik dan psikologis selama bertahun-tahun dan tindakan menikam tersebut merupakan tindakan membela diri.

Decision rules (kaidah keputusan) dan Proses pengambilan keputusan

Decision rules merupakan aturan tentang bagaimana suatu kelompok harus mencapai tujuan. Para psikolog telah mengidentifikasi seperangkat kaidah keputusan (decision rules) yang digunakan kelompok untuk mengambil keputusan (Miller, 1989). Di Amerika, mengharuskan keputusan menentukan salah atau benar untuk kasus pembunuhan berdasarkan dari hasil keputusan bulat, jika ada satu juri saja yang berbeda, maka ada kemungkinan pengadilan ulang. Karena ada aturan kesepakatan bulat, maka kelompok harus harus mempertimbangkan betul pandangan minoritas yang berbeda pendapat. Sebaliknya, ketika presiden suatu perusahaan memikirkan kemungkinan relokasi bisnisnya kekota yang baru,  dia mungkin akan mendiskusikannya dengan anak buahnya, namun pada akhirnya dialah yang akan mengambil keputusan.

Riset telah berusaha untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kaidah keputusan yang dipakai oleh kelompok. Tipe keputusan merupakan salah satu faktor penting. Misalnya dalam situasi dimana satu kelompok membahas opini terkait redaksi majalah –apakah berwarna merah atau biru-, maka dalam pembahasan kelompok itu tidak ada opini yang tepat secara obyektif. Dalam kasus semacam itu, apabila topiknya serupa, alternatifnya terbatas, dan tidak ada jawaban yang benar atau salah, maka yang muncul adalah mayoritaslah yang menentukan. Dalam keputusan berdasarkan pendapat mayoritas, kelompok akan memutuskan sesuai dengan pandangan yang paling banyak didukung anggota kelompok.

Ketika kelompok membahas persoalan fakta, bukan opini, dimana ada solusi yang benar dan salah, maka kelompok itu cenderung akan menggunakan kaidah “kebenaranlah yang menang” (Laughin dan Adamopoulos). Sebagai hasil dari presentasi informasi dan argumen, anggota kelompok akan mendukung pandangan yang benar, meskipun hanya didukung oleh sedikit orang. Riset terhadap kaidah-kaidah keputusan ini menunjukkan bahwa dengan mengetahui opini awal anggota kelompok dan tipe isu yang dibahas, kita akan dapat memprediksi keputusan kelompok.

Pengambilan Keputusan dalam Kelompok Menurut Para Ahli_
image source: www.linkedin.com
baca juga: Perbedaan Antara Pemimpin dan Manajer Menurut Para Ahli

Social Decision schemes (skema keputusan sosial)

Apakah keputusan kelompok dapat diprediksi dari pandangan dari anggota kelompok? Ya, keputusan keputusan akhir yang diambil oleh kelompok seringkali dapat terprediksi secara akurat oleh suatu peraturan sederhana yang dikenal sebagai skema keputusan sosial. Aturan ini berhubungan dengan distribusi awal dari anggota atau preferensi dari keputusan akhir kelompok. Contohnya, satu skema –peraturan mayoritas yang menang- menyatakan bahwa dalam banyak kasus, kelompok akan memilih posisi apapun yang didukung oleh kebanyakan anggotanya (misalnya Nemeth dkk dalam Baron dan Byrne, 2003).

Menurut peraturan tersebut, diskusi terutama berfungsi untuk mengkonfirmasikan atau menguatkan pandangan awal yang paling populer, yang biasanya diterima tidak peduli seberapa semangatnya anggota kelompok minoritas dalam memberikan pandangan lain. Skema keputusan kedua adalah peraturan yang benar yang menang. Skema ini mengindikasikan bahwa solusi yang benar atau keputusan yang benar pada akhirnya akan diterima ketika kebenarannya disadari oleh lebih dan lebih banyak lagi anggota. Peraturan keputusan yang ketiga dikenal sebagai peraturan pendapat pertama. Kelompok cenderung untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan arah dari pendapat yang pertama kali diajukan oleh anggota manapun.

Pengaruh sosial normatif dan pengaruh sosial informasional.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa secara umum kelompok akan mengambil keputusan secara konsensus. Kecenderungan tersebut dapat dijelaskan melalui penjelasan pengaruh sosial normatif. Pengaruh sosial normatif didasarkan pada keinginan kita untuk disukai atau diterima, dan kelompokm pastinya menggunakan taktik ini dalam mempengaruhi anngotanya yang tidak setuju untuk menjadi setuju. Sama halnya kelompok juga menggunakan pengaruh sosial informasional didasarkan pada keinginan kita untuk menjadi benar.

Tiga isu penting dalam pengambilan keputusan kelompok (bahaya pengambilan keputusan dalam kelompok

1. Penggunaan informasi secara bias
Ketika suatu kelompok membahas suatu isu, anggota-anggotanya seringkali memiliki informasi yang berbeda-beda dan sudut pandang yang berlainan. Salah satu alasan kenapa kelompok mungkin menghasilkan keputusan yang lebih baik daripada secara individual adalah karena kelompok dapat mengumpulkan informasi yang lebih  banyak sebelum mengambil keputusan dalam kelompok.

Misalkan jurusan psikologi pada sebuah universitas hendak melakukan pemilihan calon dekan fakultas. Semua anggota fakultas akan mewawancarainya mengajukan banyak pertanyaan, latar belakangnya, pengalaman dan perhatian. Mendengar visi dan misi calon dekan, membaca resume dan rekomendasi dari pihak lain. Ketika anggota fakultas rapat untuk menentukan pilihan, mereka semua akan berbagi pengetahuan umum tentang calon dekan yang diseleksi. Misalnya jika salah satu anggota fakultas mungkin tahu bahwa salah satu calon baru saja memenangkan penghargaan mengajar. Sedangkan anggota lainnya mengetahui bahwa si calon dekan pernah bekerja sambil kuliah agar bisa membiayai kuliah sampai lulus dan anggota lainnya mungkin tahu bahwa calon itu bisa berbahasa china dengan fasih dan berencana melakukan riset lintas kultural.

Untuk mendapatkan keputusan yang terbaik para anggota fakultas harus mempertimbangkan informasi umum dan informasi yang unik tersebut. Apakah kelompok dalam kenyataannya benar-benar menggunakan cara berbagi informasi secara sistematis seperti itu.

Untuk menjawab pertanyaan diatas para psikolog sosial meminta beberapa orang ikut dalam studi pengambilan kelompok. Dalam sebuah studi, kelompok mahasiswa yang terdiri dari tiga orang diminta memutuskan dosen mana yang akan docalonkan untuk mendapatkan penghargaan mengajar (Winquist dan Larson). Dalam studi lainnya, tim yang terdiri dari tiga dokter diminta untuk mendiagnosis kasus medis hipotesis (Larson). Dalam studi tersebut, semua anggota kelompok diberi informasi umum dan informsi tersendiri untuk setiap anggota. Semua  informasi itu sangat penting untuk membuat keputusan yang tepat. Diskusi kelompok kemudian dicatat dan dinilai berapa lama waktu yang dihabiskan untuk membahas informasi yang unik tersebut.

Hasil-hasil studi diatas jelas, anggota kelompok menghabiskan lebih banyak waktu untuk membahas informasi  yang sudah diketahui bersama daripada yang tidak diketahui secara bersama (unik) (Wittenbaum dan Park). Hal tersebut dinamakan sebagai Common knowledge effect (efek pengetahuan umum).  Dengan mencurahkan pembahasan pada pengetahuan yang telah diketahui secara bersama, kelompok tidak memanfaatkan informasi unik yang mereka miliki yang mungkin dapat mengungkapkan sesuatu yang penting. Mengapa bias semacam ini terjadi?

Tampaknya interaksi kelompok lebih mudah dan lebih nyaman apabila informasi yang sudah diketahui bersama didiskusikan dan semua orang berpartisipasi. Anggota kelompok yang menyampaikan informasi umum akan dianggap lebih kompeten dan berpengetahuan daripada anggota yang memberikan informasi yang belum diketahui secara bersama.

Tendensi lain yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan kelompok adalah bias konfirmasi. Orang sering mencari dan memilih informasi yang mendukung keyakinan awal mereka. Karenanya dalam pengambilan keputusan kelompok, individu mungkin menggunakan diskusi kelompok untuk mengkonfirmasi ketimbang untuk menentang keputusan awal mereka (Scultz-Hard, Frey, Luthgens, dan Moscovici). Dengan kata lain, anggota kelompok mungkin menggunakan diskusi kelompok untuk menjustifikasi keputusan awal mereka sendiri, bukan untuk mencari informasi baru yang mungkin bertentangan dengan preferensi mereka dan mengharuskan mereka untuk mengubah opini (Kelly dan Karau).

2. Polarisasi kelompok
Apakah kelompok cenderung akan mengambil keputusan yang lebih konservatif ataukah lebih beresiko daripada secara individual? Pada tahun 1968 James Stoner melaporkan bahwa keputusan kelompok sering lebih beresiko daripada keputusan individu sebelum seorang anggota kelompok ikut diskusi kelompok. Temuan tersebut dinamakan Risky Shift (pergeseran resiko). Risky Shift merupakan situasi dimana diskusi kelompok dapat menyebabkan individu mengambil keputusan yang lebih beresiko daripada jika mengambil keputusan secara individual atau sendiri.

Banyak studi yang dilakukan di Amerika, Kanada dan Eropa mereplikasi temuan dasar dari pergesaran ke arah resiko yang lebih besar lagi. Sebaliknya jika opini awalnya adalah konservatif, diskusi kelompok akan akan bergeser ke arah yang lebih konservatif lagi. Temuan dasarnya adalah bahwa diskusi kelompok menyebabkan keputusan menyebabkan keputusan yang lebih ekstrem. Fenomena ini dinamakan polarisasi kelompok. Polarisasi kelompok adalah kecenderungan kelompok kerapkali membuat keputusan yang lebih ekstrim daripada keputusan secara individual.

Beberapa penjelasan mengenai polarisasis kelompok

Perspektif argumen persuasif menyatakan bahwa orang mendapatkan informasi baru sebagai hasil dari mendengarkan pro dan kontra dalam diskusi kelompok (Burnstein dan Vinokur). Semakin banyak dan semakin persuasif suatu argumen dalam mendukung suatu pandangan, semakin besar kemungkinan anggota kelompok itu mengadopsi pandangan tersebut. Akan tetapi jika sebagian besar anggota pada mulanya mendukung satu pandangan dan mendiskusikan alasan dari opini mereka, orang akan lebih banyak mendengar alasan yang mendukung pendapat mereka. Selain itu diskusi kelompok mungkin mendorong  anggota untuk memikirkan beragam argumen dan mengikuti posisi tertentu. Informasi yang disajikan selama diskusi mungkin akan meyakinkan orang bahwa pendapat mereka benar dan karenanya menyebabkan opini yang lebih ekstrim. Lebih jauh sebagai bagian dari diskusi kelompok, individu mungkin berkali-kali mengekspresikan idenya, dan proses pernyataan ulang ini mungkin meningkatkan pergeseran ke arah pandangan yang lebih ekstrim (Brauer, Judd, dan Gliner).

Penjelasan kedua dari dari polarisasi kelompok lebih menekankan pada perbandingan sosial (social comparison) dan proses presentasi diri (Goethal dan Darley). Pendapat ini menyatakan bahwa anggota kelompok memperhatikan bagaimana opini mereka dibandingkan dengan opini anggota lain dalam kelompok. Selama diskusi individu mungkin menyadari bahwa orang lain memiliki sikap yang sama dan beberapa orang lainnya mungkin menganut pandangan yang lebih kuat  (lebih ekstrim). Pergeseran ini pada dasarnya adalah upaya untuk menonjolkan diri, yakni individu ingin tampil “di atas rata-rata”. Riset memberikan dukungan untuk argumen persuasif maupun proses untuk perbandingan sosial dan menunjukkan bahwa kedua hal itu terjadi secara bersamaan (Isenberg).

Penjelasan ketiga adalah adanya proses identitas sosial (Abrams, Wetherell, Cochrane, Hogg, dan Turner). Idenya adalah bahwa diskusi menyebabkan individu berfokus pada keanggotaan mereka dalam kelompokm dan pada upaya mengidentifikasi diri dengan kelompok. Identifikasi ini pada gilirannya menyebabkan individu merasakan adanya tekanan untuk menggeser pendapatnya menjadi lebih sesuai dengan norma kelompok. Akan tetapi, anggota ini memandang norma kelompok sebagai norma stereotip atau lebih ekstrim bukan sebagai pendapat yang benar. Konsekuensinya, mereka menyesuaikan diri dengan apa yang mereka yakini merupakan pendapat kelompok, dengan cara menggeser sikap mereka ke arah yang lebih ekstrim. Apapun penyebabnya, polarisasi kelompok adalah aspek penting dari pembuatan keputusan kelompok.

Apakah diskusi kelompok selalu menimbulkan polarisasi? Jawabannya tidak. Ketika anggota suatu kelompok berbeda pandangan dalam suatu isu, diskusinya sering menimbulkan kompromi antar pandangan yang bertentengan, proses ini disebut sebagai Depolarisasi (Burnstein dan Vinokour).

3. Groupthink (pikiran kelompok)
Groupthink merupakan pengambilan keputusan yang buruk berdasarkan pertimbangan alternatif yang tidak memadai. Terkadang sebuah kelompok yang nampak rasional dan cerdas membuat keputusan yang menimbulkan bencana. Irvning Janis mengemukakan bahwa fenomena berasal dari proses yang dikenal sebagai groupthink (pikiran kelompok).

Anteseden : Pencetus Groupthink
1.        Kelompok sangat kohesif
2.        Kelompok menutup diri dari opini diluar kelompok
3.        Kelompok punya pemimpin yang kuat
4.        Kelompok tidak punya prosedur sistematis untuk mengevaluasi alternatif
5.        Kelompok merasakan tekanan tinggi atau ancaman eksternal

Groupthink : Keinginan yang kuat mencapai konsensus kelompok
Karakteristik  Groupthink
1.        Kelompok merasa ta terkalahkan
2.        Kelompok mengasumsikan pandangannya sebagai bermoral
3.        Kelompok mengabaikan penentangan dan merasionalisasikan pendapatnya sendiri
4.        Kelompok memandang lawannya secara stereotip
5.        Anggota kelompok tidak mengekspresikan keraguan atau ketidaksetujuan
6.        Orang yang tidak setuju dengan kelompok akan didesak untuk setuju
7.        Kelompok menganggap diri mereka bersatu padu

Konsekuensi : Keputusan terburuk dari Groupthink
1.        Kelompok memberi pertimbangan yang tidak memadai
2.        Kelompok tidak menyukai alternatif secara memadai
3.        Kelompok tidak sepenuhnya mengkaji resiko keputusan yang diambil
4.        Kelompok tidak serius mencari informasi yang relevan
5.        Kelompok  mengevaluasi informasi secara bias
6.        Kelompok tidak menyusun rencana darurat atau rencana kontingensi

Pikiran kelompok muncul dari kelompok  yang merasa sangat optimis dan tak terkalahkan. Anggota-anggotanya melindungi diri mereka dari informasi diluar kelompok yang mungkin dapat melemahkan keputusan dalam kelompok. Terakhir, kelompok itu percaya bahwa keputusannya adalah bulat meski ada pendapat yang sangat bertentangan. Karena ketidaksepakatan didalam dan diluar kelompok dicegah, maka keputusannya kadang ngawur.

Janis mengatakan bahwa pikiran kelompok ikut mempengaruhi beberapa episode penting dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika. Janis menyebut kurangnya persiapan menghadapi serangan Jepang di Pearl Harbor pada 1941, kegagalan invasi teluk Babi di Kuba pada 1960, ekskalasi perang Vietnam, skandal Water Gate presiden Nixon pada awal 1970. Watergate adalah skandal politik yang paling terkenal dalam sejarah Amerika, dan Deep Throat adalah nara sumber misterius paling terkenal dalam sejarah jurnalistik. Peristiwa yang tadinya tampak sebagai pencurian yang tidak berbahaya di bulan Juni 1972 akhirnya berujung pada tumbangnya Presiden Richard Nixon. Skandal itu juga mengungkapkan berbagai aktifitas pengintaian politik, sabotase dan penyuapan. Sebagian orang mengatakan, skandal itu mengubah budaya Amerika untuk selamanya, menjatuhkan sang presiden dari singgasananya serta membuat media massa lebih berani.

Dua wartawan surat kabar Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein memainkan peranan penting dalam memusatkan perhatian kepada skandal itu, dibantu oleh informasi penting dari informan misterius mereka. Insiden yang terjadi saat kampanye pemilihan sedang berlangsung di tahun tersebut, setelah diselidiki ternyata dilakukan oleh sejumlah anggota kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden. Dua pencuri dan dua orang lain yang ikut serta divonis bersalah bulan Januari 1973, namun banyak orang, termasuk hakim yang memimpin sidang itu John Sirica, menduga ada sebuah konspirasi yang mencapai sejumlah pejabat tinggi di pemerintahan (BBCIndonesia.com).

Dalam setiap kasus, sekelompok kecil politisi yang amat berpengaruh, yang biasanya dipimpin oleh presiden, membuat keputusan tanpa mendengar opini yang berbeda atau tanpa mendengar informasi lain yang mungkin amat penting. Periset lainnya telah mengaplikasikan model pikiran kelompok pada keputusan buruk lainnya, seperti ledakan pesawat Ulang alik Chalenger.

Pada tanggal 28 Januari 1986, Chalenger diluncurkan dari Kennedy Space Center. Sekitar 72 detik kemudia, pesawat itu meledak, menewaskan semua orang yang ada dalam pesawat. Kejadian mengerikan itu disiarkan langsung oleh televisi. Para insinyur sebelumnya telah memperingatkna agar peluncuran ditunda, karena menurut mereka suhu terlalu dingin, tetapi pimpinan strategis mengabaikan nasihat dari para insinyur. Menurut salah satu analisis banyak elemen groupthink  ada di dalam keputusan peluncuran pesawat luar angkasa itu (Moorhead, Ference, dan Neck).

Beberapa saran untuk mengatasi pikiran kelompok

Janis mengemukakan beberapa saran untuk mengatasi pikiran kelompok dan memperkuat efektivitas pembuatan keputusan kelompok:
  1. Pemimpin harus mendorong setiap anggota kelompok untuk mengemukakan keberatannya dan meragukan usulan keputusan. Agar efektif, pemimpin harus siap menerima kritik.
  2. Pemimpin tidak boleh berpihak sejak awal diskusi, dan menyatakan preferensi dan harapannya hanya setelah anggota kelompok mengajukan gagasan-gagasannya.
  3. Kelompok harus dibagi menjadi sub sub komite untuk mendiskusikan isu secara independen dan kemudian berkumpul untuk memecahkan perbedaan.
  4. Sesekali pakar dari luar harus diundang untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok untuk menentang pandangan anggota kelompok.
  5. Pada setiap rapat, setidaknya ada satu orang yang diberi tugas berperan sebagai tukang penyanggah ide-ide kelompok.

Sekian artikel tentang Pengambilan Keputusan dalam Kelompok Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.
  • Skandal yang menumbangkan Presiden Nixon. .