Contoh Format Penyusunan Laporan Analisa Jabatan Yang Benar

Contoh Format Penyusunan Laporan Analisa Jabatan Yang Benar - Artikel ini akan membahas tentang informasi jabatan yang dimuat dalam laporan hasil analisa jabatan. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami dan menjelaskan kembali mengenai informasi jabatan yang dimuat dalam laporan hasil analisa jabatan.

No Identitas Jabatan Uraian Jabatan Syarat Jabatan
1 Nama Jabatan Uraian Tugas Pangkat dan Golongan Ruang
2 Kode Jabatan Bahan Kerja Pendidikan
3 Unit Kerja Jabatan Alat Kerja Kursus/Pelatihan
4 Letak dalam Struktur Hasil Kerja Pengalaman Kerja
5 Ikhtisar Jabatan Tanggung Jawab Pengetahuan
6 Wewenang Keterampilan
7 Korelasi Jabatan Bakat Kerja
8 Kondisi Lingkungan Kerja Temperamen Kerja
9 Keadaan/Resiko Bahaya Minat Kerja
10 Upaya Fisik
11 Kondisi Fisik
12 Fungsi Pekerja

Contoh Format Penyusunan Laporan Analisa Jabatan Yang Benar_
image source: www.selectinternational.com
baca juga: Pengertian Wawancara dan Jenis Wawancara Mendalam

A. IDENTITAS JABATAN

NAMA JABATAN :
  • Ringkas
  • Substantif
  • Jelas dan dapat memberikan pengertian yang tepat bagi pembaca
  • Penamaan JFU dapat dirumuskan berdasarkan:
    - Bahan (Pengumpul, Pengadministrasi)
    - Alat (Operator)
    - Hasil (Penyusun, Pengonsep)
    - Proses (Pemroses, Pengolah)

KODE JABATAN :
  • Kode jabatan merupakan kode yang dibuat untuk memudahkan pengadministrasian jabatan.
  • Pengkodean Jabatan harus menggunakan format kode yang seragam.

UNIT KERJA :
  • Mencerminkan tempat atau letak keberadaan suatu jabatan

KEDUDUKAN DALAM STRUKTUR :
  • Mencerminkan posisi jabatan apakah jabatan struktural atau non-struktural (Sesuai SOTK)
  • Menggambarkan kedudukan:
    - Atasan langsung
    - Atasan dari Atasan langsung
    - Jabatan yang dianalisis
    - Jabatan lain yang memiliki atasan langsung yang sama
  • Jabatan yang dianalisis diberi tanda (diarsir)


IKHTISAR JABATAN :
  • Merupakan cerminan uraian jabatan dalam bentuk ringkas
  • Memberikan gambaran umum tentang kompleksitas jabatan
  • Digambarkan dalam satu kalimat, yang mencerminkan:
    - Apa yang dikerjakan (what)
    - Bagaimana cara mengerjakan (how)
    - Mengapa/untuk apa dikerjakan (why)

Manajerial:
Memimpin dan melaksanakan objek kerja (What) berdasarkan/sesuai dengan..... (How) agar/untuk/sebagai...(Why)

Fungsional:
Melaksanakan objek kerja (What) berdasarkan/sesuai dengan..... (How) agar/untuk/sebagai...(Why)

B. URAIAN JABATAN

URAIAN TUGAS :
  • Tugas adalah upaya pokok dalam memproses bahan kerja dengan menggunakan peralatan tertentu menjadi suatu hasil kerja
  • Ditulis dg menggunakan kalimat aktif dan menggambarkan tindak kerja (berawalan “me”)
  • Tahapan kerja (proses) adalah langkah-langkah (kegiatan) yang dituliskan secara berurutan dari awal hingga akhir pelaksanaan tugas


STRUKTUR PENYUSUNAN TUGAS


BAHAN KERJA :
  • Adalah masukan yang diproses dengan tindak kerja (tugas) menjadi hasil kerja
  • Bahan kerja dapat diolah menjadi hasil kerja, jika ada perangkat kerja (alat kerja)
  • contoh:
    - Surat masuk (untuk diagendakan)
    - Peraturan, Referensi atau buku (untuk penyusunan materi bintek)

ALAT KERJA :
  • Sarana yang dipergunakan untuk mengolah bahan kerja menjadi hasil kerja
  • Alat kerja tidak terbatas pada sarana materiil, dapat juga berupa peraturan, pedoman, prosedur kerja atau acuan lain yang digunakan dalam pelaksanaan tugas

HASIL KERJA :
  • Hasil kerja adalah suatu produk berupa barang, jasa (pelayanan) atau informasi yang dihasilkan dari suatu proses pelaksanaan tugas
  • Hasil kerja dapat diperoleh bila ada sesuatu yang diolah (bahan kerja)

TANGGUNG JAWAB :
  • Adalah kewajiban yang melekat pada jabatan, yang terkait dengan benar atau salahnya pelaksanaan tugas.
  • Tanggung jawab jabatan dapat meliputi tanggung jawab terhadap:
    - Bahan kerja (Kerahasiaan data)
    - Alat Kerja (Kelengkapan peralatan kerja)
    - Hasil Kerja (Keakuratan laporan)
    - Proses Kerja (Kesesuaian pelaksanaan tugas terhadap peraturan/SOP)

WEWENANG :
  • Adalah hak pemegang jabatan untuk memilih alternatif dalam mengambil keputusan/ tindakan yang diakui secara sah oleh semua pihak
  • Wewenang dapat terkait dengan:
    - Bahan Kerja (a.l: Mengembalikan bahan kerja yang tidak sesuai)
    - Alat Kerja (a.l:Melakukan pemeliharaan perangkat kerja yang digunakan)
    - Hasil Kerja (a.l:Menyebarluaskan informasi yang dihasilkan kepada orang lain)
    - Proses Kerja (a.l:Menetapkan prosedur kerja)

KORELASI JABATAN
  • Korelasi jabatan adalah hubungan kerja yang dilakukan antara jabatan terkait dengan jabatan lain dalam konteks pelaksanaan tugas
  • Hubungan jabatan dapat berupa:
    - Hubungan Vertikal (atasan dengan bawahan)
    - Hubungan Horizontal (hubungan dengan jabatan yang setara)
    - Hubungan Diagonal (hubungan dengan jabatan yang lebih tinggi di organisasi yang berbeda)

KONDISI LINGKUNGAN KERJA :
  • adalah keadaan tempat bekerja yang merupakan konsekwensi keberadaan pemegang jabatan dalam melaksanakan tugas jabatan.
  • Kondisi Lingkungan Kerja suatu jabatan meliputi:
    - Tempat Kerja
    - Suhu
    - Udara
    - Keadaan Ruangan
    - Letak
    - Keadaan Tempat Kerja
    - Penerangan
    - Suara
    - Getaran

KEADAAN RESIKO BAHAYA :
  • Kemungkinan resiko bahaya ditentukan dari keberadaan pegawai terkait dengan:
    - lingkungan pekerjaan,
    - penanganan bahan,
    - proses yang dilakukan,
    - penggunaan perangkat kerja,
    - hubungan jabatan dan
    - penanganan produk yang diberikan. 
  • Kemungkinan resiko bahaya bisa bersifat fisik atau mental

C. SYARAT JABATAN

PANGKAT / GOLONGAN RUANG :
  • Pangkat dan golongan ruang minimal yang dipersyaratkan untuk menduduki suatu jabatan. 

PENDIDIKAN :
  • Pendidikan formal minimal yang dipersyaratkan untuk menduduki suatu jabatan. 

PELATIHAN :
  • Pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan non manajerial, seperti kemampuan di bidang manajerial, teknis tertentu, dan pengetahuan lainnya sesuai dengan syarat pekerjaan dengan memperhatikan fungsi pekerjaannya. 
  • Contoh pelatihan pada operator komputer :
    - Penjenjangan : -
    - Teknis : Komputer

PENGALAMAN KERJA :
  • Pengalaman Kerja merupakan pengembangan pengetahuan, ketrampilan kerja, sikap mental, kebiasaan mental dan fisik yg tidak diperoleh dari pelatihan tetapi diperoleh dari dari masa kerja sebelumnya dalam kurun waktu tertentu.

PENGETAHUAN :
  • Pengetahuan merupakan akumulasi hasil proses pendidikan formal atau informal yang dimanfaatkan oleh PNS di dalam pemecahan masalah, daya cipta serta dalam pelaksanaan tugas pekerjaan. 

KETERAMPILAN :
  • Keterampilan merupakan tingkat kemampuan dan penguasaan teknis operasional dalam suatu bidang tugas pekerjaan tertentu. 
  • Contoh keterampilan kerja pada operator komputer : keterampilan mengetik, keterampilan teknik menyiapkan dan memelihara perangkat komputer, keterampilan mencetak data.

BAKAT KERJA :
  • Bakat kerja merupakan kapasitas khusus atau kemampuan potensial yang disyaratkan bagi seseorang untuk dapat mempelajari, memahami beberapa tugas atau pekerjaan. 

JENIS BAKAT KERJA :
  • G : Intelegensi
  • V : Bakat Verbal
  • N : Bakat Numerik
  • S : Bakat Pandang Ruang
  • P : Bakat Pencerapan Bentuk
  • Q : Bakat Ketelitian
  • K : Koordinasi Motorik
  • F : Kecekatan Jari
  • M : Kecekatan Tangan
  • E : Koordinasi Mata-Tangan-Kaki
  • C : Kemampuan membedakan warna

TEMPERAMEN :
  • Temperamen kerja merupakan syarat kemampuan penyesuaian diri yang harus dipenuhi sesuai dengan sifat pekerjaan. 

JENIS TEMPERAMEN KERJA :
  • D (DCP) : Directing-Control-Planning
  • F (FIF) : Feeling-Idea-Fact
  • I (INFLU) : Influencing
  • J (SJC) : Sensory & Judgmental Criteria
  • M (MVC) : Measurable and Verifiable Criteria
  • P (DEPL) : Dealing with People
  • R (REPCON) : Repetitive and Continuous
  • S (PUS) : Performing under Stress
  • T (STS) : Set of Limits, Tolerance and Other Standards
  • V (VARCH) : Variety and Changing Conditions

Kode Penjelasan Illustrasi
D Kemampuan menyesuaikan diri menerima tanggung jawab untuk kegiatan memimpin, mengendalikan atau merencanakan Jabatan yang mencakup kegiatan berunding, mengorganisir, memimpin, mengawasi, merumuskan atau mengambil keputusan akhir
F Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan yang mengandung penafsiran perasaan (Feeling), Gagasan (Idea), atau fakta (Fact) dari sudut pandangan pribadi Jabatan yang menuntut kreativitas, pengungkapan diri atau imajinasi
I Kemampuan menyesuaikan diri untuk pekerjaan-pekerjaan mempengaruhi orang laing terkait pendapat, sikap atau pertimbangan mengenai gagasan Jabatan dimana pemangkunya melakukan pemberian motivasi, meyakinkan orang lain atau berunding
J Kemampuan menyesuaikan diri pada kegiatan pembuatan kesimpulan, penilaian atau pembuatan keputusan berdasarkan kriteria rangsangan indera atau pertimbangan pribadi Jabatan-jabatan yang pelaksanaannya melibatkan penginderaan (rangsangan) dari satu atau beberapa indera manusia.
M Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan pengambilan kesimpulan, pembuatan pertimbangan atau pembuatan keputusan berdasar kriteria yang dapat diukur atau diuji Jabatan-jabatan yang melaksanakan tugas-tugas terkait dengan evaluasi data, nilai, angka-angka .
P Kemampuan menyesuaikan diri dalam berhubungan dengan orang lain lebih dari hanya penerimaan dan pemberian instruksi Jabatan-jabatan yang menuntut hubungan dengan orang lain dalam situasi komunikasi yang intens/mendalam
R Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan yang berulang atau secara terus-menerus melakukan kegiatan yang sama sesuai dengan perangkat prosedur, urutan atau kecepatan tertentu Jabatan-jabatan yang tugas-tugasnya dilaksanakan secara rutin yang tidak memberikan variasi atau kesempatan untuk membuat pertimbangan pribadi
S Kemampuan menyesuaikan diri untuk bekerja dengan ketegangan jiwa tanpa kehilangan ketenangan walaupun jika berhadapan dengan keadaan darurat kritis, tidak biasa atau bahaya. Jabatan-jabatan yang mengandung bahaya atau resiko sampai ke tingkat yang berarti, ketegangan jiwa, atau membutuhkan konsentrasi intens secara terus menerus
T Kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang menghendaki pencapaian dengan tepat menurut batas-batas/indikator/kriteria, toleransi atau standar-standar tertentu Jabatan-jabatan yang memiliki tugas/pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan tepat, cermat, terperinci atau dengan sangat teliti dalam penggunaan bahan, pekerjaan terkait dengan angka, penyiapan catatan atau inspeksi
V Kemampuan menyesuaikan diri untuk melaksanakan berbagai tugas yang sering berganti dari tugas yang satu ke tugas yang lainnya, yang berbeda sifatnya tanpa kehilangan efisiensi atau ketenangan diri Jabatan-jabatan yang memiliki tugas-tugas yang beragam/ berbeda baik secara teknologi, prosedur, lingkungan kerja, atau syarat mental/fisik dalam pelaksanaannya.



Pilihan untuk melakukan
Realistik Aktifitas-aktifitas yang memerlukan manipulasi eksplisit, teratur atau sistematik terhadap obyek/alat/benda/mesin
Investigatif Aktifitas yang memerlukan penyelidikan observasional, simbolik dan sistematik terhadap fenomena dan kegiatan ilmiah
Artistik Aktifitas yang sifatnya ambigu, kreatif, bebas dan tidak sistematis dalam proses penciptaan produk/karya bernilai seni
Sosial Aktifitas yang bersifat sosial atau memerlukan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain
Kewirausahaan Aktifitas yang melibatkan kegiatan pengelolaan/manajerial untuk pencapaian tujuan organisasi
Konvensional Aktifitas yang memerlukan manipulasi data yang eksplisit, kegiatan administrasi, rutin dan klerikal.

UPAYA FISIK :
  • Upaya fisik merupakan penggunaan organ fisik meliputi seluruh bagian anggota tubuh dalam pelaksanaan tugas jabatan.
  • Contoh upaya fisik pada operator komputer antara lain :
    - Duduk
    - Melihat
    - Bekerja dengan jari

JENIS UPAYA FISIK :
  • Berdiri
  • Berjalan
  • Duduk
  • Mengangkat
  • Membawa
  • Mendorong
  • Menarik
  • Memanjat
  • Menyimpan imbangan/mengatur imbangan
  • Menunduk
  • Berlutut
  • Membungkuk
  • Merangkak
  • —Menjangkau
  • Memegang
  • Bekerja dengan jari
  • Meraba
  • Berbicara
  • Mendengar
  • Melihat
  • Ketajaman jarak jauh 
  • Ketajaman jarak dekat
  • Pengamatan secara mendalam
  • Penyesuaian lensa mata
  • Melihat berbagai warna
  • Luas

KONDISI FISIK :
  • Adalah persyaratan spesifik dari pekerjaan yang terkait dengan kondisi fisik pegawai.
  • Sedapat mungkin penentuan kondisi fisik didasarkan pada penelitian empirik, karena persyaratan fisik yang tidak relevan/sesuai dapat mengarah pada diskriminasi pegawai.
  • Kondisi fisik meliputi:
    - Jenis Kelamin
    - Umur tertentu yang disyaratkan
    - Tinggi badan tertentu
    - Berat badan tertentu
    - Postur tubuh
    - Penampilan

FUNGSI PEKERJA :


FORMULA PENULISAN URAIAN TUGAS
  • TINDAK KERJA (W) + OBYEK KERJA TEKNIS OPERASIONAL (H) + berdasarkan / sesuai dengan … sebagai / agar / untuk … (W)
  • LINGKUP URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL : “POAC” + TUGAS TEKNIS (sesuai Tusi) + TUGAS LAIN
  • LINGKUP URAIAN TUGAS JABATAN FUNGSIONAL : TUGAS TEKNIS (sesuai TuSi atasan langsungnya) + MEMBUAT LAPORAN + TUGAS LAIN

Sekian artikel tentang Contoh Format Penyusunan Laporan Analisa Jabatan Yang Benar.

Daftar Pustaka
  • Workshop Analisa Jabatan. Direktorat Standarisasi dan Kompetensi Jabatan. Deputi Bidang Pengemangan Kepegawaian. Badan Kepegawaian Negara. 2012.

Contoh Interpretasi dan Administrasi Tes Rorschach

Contoh Interpretasi dan Administrasi Tes Rorschach - Tes Rorschach adalah salah satu alat ukur dalam metode proyeksi yang menjadi penting untuk dikuasai mahasiswa sebagai slah satu kompetensi kesarjanaan psikologi. Melalui artikel ini diharapkan dapat melaksanakan administrasi dan skoring tes Rorschach, sehingga mahasiswa dapat menjadi instruktor dan melaksanakan tes rorschacn secara benar.

baca juga: Sejarah dan Teori Interpretasi Tes Rorschach dalam Psikologi

A. Persiapan dan Garis Besar Tahapan Praktikum Pemeriksaan

1. Setting ruangan
  • Aturlah kartu-kartu dalam posisi terbalik dengan posisi kartu I berada paling atas dan kartu X berada pada urutan terbawah. Tumpukan kartu sebaiknya cukup jauh dari jangkauan subyek.
  • Siapkan alat-alat lain yang diperlukan untuk keperluan praktikum pemeriksaan, seperti kertas, lembar kerja, peta lokasi, alat tulis, stopwatch , dll.
  • Pengaturan posisi duduk antara testee dan tester dapat dibuat berhadapan, berdampingan, atau berdampingan dengan tester mengambil sedikit jarak di belakang testee. Bagi orang Timur, duduk berhadapan atau berdampingan tidak begitu mengganggu. Namun menurut Exner (dalam Prihanto, 1994), posisi duduk sebaiknya tidak berhadap-hadapan. Exner menyarankan tester duduk di sebelah subjek agak ke belakang sehingga tester dapat mengamati semua perilaku testee selama pemeriksaan dan membuat catatan-catatan tanpa mengganggu testee.

Contoh Interpretasi dan Administrasi Tes Rorschach_

2. Memperhatikan hubungan testee dengan tester. Rapport yang baik adalah penting. Seorang tester yang baik mampu menciptakan suasana yang tidak membuat testee tegang namun tetap dalam situasi yang terkontrol.

3. Upayakan semua kondisi (fisik, psikis, ruangan, waktu pelaksanaan pemeriksaan, dsb) mendukung kesejahteraan subyek.

4. Mengecek kondisi testee saat pemeriksaan. Hal yang harus dicek antara lain:
  • Kondisi fisik testee. Misalnya apakah testee dalam kondisi lelah atau sakit.
  • Kondisi psikologis testee, misalnya apakah testee baru bersedih, dll
  • Pengamalan testee dengan tes Rorschach. Pernahkah diperiksa dengan tes Rorschach, di mana, untuk keperluan apa?.

5. Anamnesis

Anamnesis juga berguna untuk menjalin rapport dengan testee, mencairkan kebekuan, dan menenangkan testee. Apabila dalam praktikum pemeriksaan testee masih cemas, berikan waktu untuk menenangkan dan membuat testee lebih merasa nyaman. Tester dapat menjelaskan sedikit tentang maksud pemeriksaan dan sekilas tentang prosedur pemeriksaan yang akan dijalani. Penting untuk diingat oleh tester bahwa testee hanya boleh diberi informasi mengenai prosedur pemeriksaan dan tidak boleh lebih dari itu.

Tester harus tahu beberapa hal tentang testee, agar nantinya interpretasi tentang dinamika kepribadian tidak dilakukan secara buta. Sekali lagi ditekankan bahwa data hasil pemeriksaan dengan alat tes bukanlah segalanya dan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber (terutama wawancara) penting untuk diperhatikan terutama dalam interpretasi. Informasi yang dapat digali dalam anamnesis diantaranya:

a. Keadaan keluarga:
  • Identitas orang tua
  • Jumlah saudara (jenis kelamin dan pendidikannya)
  • Urutan saudara, posisi kelahiran testee
  • Pola asuh, kedekatan dengan orang tua, hubungan dengan saudara
  • dll

b. Pengalaman masa kecil

c. Riwayat pendidikan, hobby, minat, aspirasi masa depan

d. Pergaulan sosial
  • Apakah mengalami kesulitan dalam bergaul
  • Apakah ada orang yang dekat (punya pacar, sudah berapa lama menjalin hubungan, dsb)

e. Pandangan terhadap diri sendiri dan masalah-masalah pribadi yang dialami

6. Pemeriksaan

Untuk menunjang praktikum pemeriksaan berjalan optimal, tester harus sudah cukup mengenal cara scoring jawaban dan cukup tahu kemungkinan interpretasi secara garis besar. Namun untuk sarjana Psikologi, cukup sebatas cara scoring. Pembahasan tata laksana pemeriksaan dibahas pada poin B.

7. Wawancara penutup

Informasi yang belum jelas tentang testee dan beberapa dugaan yang muncul setelah mengamati hasil pemeriksaan dapat digali secara mendalam pada wawancara penutup. Yang penting tidak boleh sampai memberitahu bagaimana cara interpretasi atau respon yang diharapkan dalam pemeriksaan. Apabila testee tahu hal tersebut, kemungkinan pemeriksaan menjadi tidak valid.

B. Tahap Pemeriksaan

Secara garis besar terdapat 4 tahap yang dilakukan dalam tes Rorschach. Yang harus dilakukan adalah tahap I dan II, sedangkan dilakukan atau tidaknya tahap III dan IV akan sangat tergantung pada hasil pemeriksaan pada tahap I dan II.

Tahap I : Performance Proper (Free Association Procedure)

Tahap ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban testee secara spontan dalam suasana yang sangat permisif dan tidak terstruktur. Artinya, pembatasan maupaun dorongan dalam memberikan respon hendaknya dilakukan seminimum mungkin sehingga respon yang diperoleh benar-benar murni dan spontan dari testee. Tugas utama tester adalah mencatat semua respon testee. Pada dasarnya tidak ada instruksi baku kata-perkata dalam tes ini. Namun umumnya, instrusi yang diberikan adalah sebagai berikut:

Saya mempunyai 10 kartu (menunjuk 10 kartu yang sudah diatur sebelumnya) yang akan saya tunjukkan satu per satu kepada saudara. Kartu-kartu ini berisi bercak tinta yang dibuat dengan memercikkan tinta di atas kertas, kemudian melipatnya ditengah-tengah, kemudian dibuka lagi. Anda dapat melihat macam-macam hal di dalam bercak tinta tersebut. Tugas saudara adalah mengatakan kepada saya apa yang saudara lihat dalam kartu-kartu tersebut.

Tidak ada kriteria benar-salah di sini. Yang penting katakan secara spontan dan secepat mungkin apa yang anda lihat di setiap kartu atau kesan apa yang saudara tangkap dalam bercak tersebut. Saya akan mencatatat jawaban saudara. Sebagian orang melihat beberapa hal dalam bercak tinta tersebut namun sebagian lainnya hanya melihat sedikit hal. Kalau saudara sudah tidak dapat melihat hal lebih banyak lagi, katakanlah “sudah” atau “selesai” dan letakkan kartu yang saudara pegang di hadapan saudara dalam posisi terbalik. Setelah itu saya akan memberikan kartu berikutnya. Begitu seterusnya sampai 10 kartu. Apakah ada yang ingin ditanyakan?


(Tunggu sebentar) Apabila tidak ada, kita akan mulai dengan kartu I. (tester memberikan kartu I kepada testee, menyalakan stopwatch, mengobservasi, dan mencatat respon serta komentar testee)…(begitu seterusnya sampai kartu X)

Catatan:

Apabila ada pertanyaan, tester harus menghindari menjawab “boleh”. Sebaiknya tester merespon pertanyaan testee dengan perkataan “terserah”. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dari subjek , misalnya:
  • Apakah saya harus menceritakan kepada anda/bapak/ibu/dsb secepatnya atau boleh saya lihat lebih cermat lagi. (Tester sebaiknya menjawab, “Terserah anda”)
  • Apa boleh saya memutar-mutar kartu ? (Tester sebaiknya menjawab, “Terserah anda”)
  • Apakah saya hanya menceritakan kepada Anda tentang apa yang saya lihat, ataukah saya boleh menceritakan imajinasi saya ? (Tester sebaiknya menjawab, “Terserah anda”)
  • Apakah saya harus menggunakan seluruh bercak tinta? (Tester sebaiknya menjawab, “Terserah anda”)
  • Apakah jawaban semacam itu yang anda inginkan? (Tester sebaiknya menjawab, “Ceritakan apa saja kesan yang anda tangkap. Atau “Ceritakan apa saja yang anda lihat)
  • Setelah memberi respon testee bertanya, “Apakah jawaban saya benar?”. (Tester sebaiknya menjawab, “ Di sini tidak ada jawaban yang benar atau salah. Yang penting dalam pandangan anda, apa yang anda lihat).

Penting diperhatikan:
  • Hendaknya tester menyerahkan kartu-kartu ke tangan testee, sehingga diharapkan testee memegang kartu tersebut. Hal tersebut memudahkan tester mencatat posisi kartu ketika testee memberikan respon. Apabila testee meletakkannya di atas meja, tester boleh mengingatkan testee untuk memegang kartu, namun jika testee merasa lebih nyaman untuk meletakkan kartu di meja, tester tidak boleh memaksa testee untuk memegang kartu, biarkan saja.
  • Kalau pada kartu I testee hanya memberikan satu respon dan mengatakan sudah namun ragu-ragu untuk meletakkan kartu, tester dapat berkata, “Sebagian/beberapa orang kadang-kadang dapat melihat lebih dari satu hal atau menangkap lebih dari satu kesan.”
  • Apabila pada kartu I dan II testee hanya memegang kartu pada posisi normal (^), pada saat memberikan kartu III dapat ditambahkan instruksi, “ Anda boleh memutar kartu sesuka Anda.”

Hal-hal yang dicatat pada performance proper:

- Observasi atas perilaku verbal (komentar-komentar) maupun non verbal (gerak-gerik, perlakuan terhadap kartu, dll) testee.

- Waktu, meliputi:
  • Waktu reaksi (Dihitung sejak kartu diberikan dan testee melihat bercak tinta pada kartu-tester menyalakan stopwatch- sampai testee memberikan respon pertama)
  • Waktu respon per kartu (Dihitung sejak kartu diberikan dan testee melihat bercak tinta pada kartu-tester menyalakan stopwatch- sampai testee selesai memberikan respon pada kartu)
  • Waktu respon seluruh performance proper (Dihitung dari saat pemberian kartu I sampai saat terakhir tahap performance proper, atau testee selesai memberi respon pada kartu X)

- Respon hendaknya dicatat kata per kata (verbatim). Tester harus mencatat secara cepat dan efisien (Sebisa mungkin menggunakan singkatan kata). Dalam mencatat respon, kertas bisa dibagi dua kolom; sebelah kiri untuk mencatat respon pada performance proper, sebelah kanan untuk mencatat respon pada tahap inquiry. Karena verbalisasi pada inquiry lebih banyak, hendaknya disediakan ruang lebih banyak.

- Penomoran respon dilakukan dengan angka 1, 2, 3,… dst.) bisa per kartu, bisa dilanjutkan mulai nomor 1 pada respon pertama karti I, sampai respon terakhir kartu X. Bisa juga respon pada setiap kartu dimulai dengan respon nomor 1.

- Posisi kartu dicatat setiap kali testee memberi respon. Patokan posisi kartu dapat dilihat melalui tanda yang ada pada kartu. (^) untuk posisi normal, (>) untuk dimiringkan ke kanan, (<) untuk dimiringkan ke kiri, (v) untuk posisi terbalik, atau ( ) untuk kartu yang diputar-putar.

Tahap II: Inquiry

Tahap ini merupakan proses untuk memperjelas/meyakinkan tester tentang pemikiran yang mendasari respon testee pada tahan performance proper agar dapat dilakukan scoring yang akurat terhadap respon testee. Tujuan utama tahap inquiry adalah:

1. Membantu tester untuk dapat melihat respon persis seperti cara testee melihatnya. Yang penting adalah begaimana respon testee atau bagaimana testee dapat memperoleh kesan seperti yang ia katakan, bukan harapan tester tentang respon yang benar.

2. Memperjelas/meyakinkan pemberian scoring. Di dalam tes Rorschach, scoring yang akurat sangatlah penting karena scoring memberikan sarana untuk mempermudah klasifikasi atas data yang sangat kualitatif (kata-kata). Scoring ini meliputi:

a. Lokasi, yaitu di mana respon dilihat/didasarkan

b. Determinan, yaitu bagaimana respon dilihat/didasarkan, apa yang menyebabkan bercak yang digunakan menimbulkan kesan seperti dalam respon testee

Asumsi pertama sewaktu melakukan inquiry untuk determinan adalah bahwa setiap respon menunjukkan “form”/bentuk. Jika respon berupa mahluk hidup, ada kemungkinan ditambahkan unsur movement (gerakan), atau ada respon yang menggunakan unsur shading. Misalnya, pada respon “kupu-kupu yang indah” (Kartu III, D), tester tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa warna termasuk dalam respon sehingga perlu dilakukan inquiry dengan bertanya, “Bagaimana anda bisa mempunyai kesan bahwa itu adalah kupu-kupu yang indah?”. Apabila dijawab, “ ini kan kecil, jadi mungil dan manis.” (Skor=form), namun apabila testee menjawab, “warna merah ini kan membuat indah.” (Skor=FC).

c. Content, yaitu apa yang dilihat

d. Orisinalitas-Popularitas, yaitu seberapa sering respon dilihat dalam populasi. Apabila jarang dilihat bearti orisinal/asli, jika sering dilihat berarti populer.

Instruksi:

Pada dasarnya tidak ada prosedur khusus dalam instruksi pada tahap ini. Yang penting tester tidak boleh membuat testee mengetahui apa yang diharapkan sebagai “respon yang baik” sehingga ia memperkaya responnya dalam tahap inquiry.

Cara yang paling mudah adalah mengatakan pertanyaan secara umum, dan sebisa mungkin hanya menambahkan kata tanya “di mana anda..”, “bagaimana anda…”. Isi dari “…” sebaiknya hanya mengulang kata-kata yang dinyatakan testee ketika memberikan respon di tahap performance proper. Secara umum, instruksinya adalah sebagai berikut:

“Anda telah memberikan respon-respon yang menarik. Sekarang sekali lagi kita melihat kartu-kartu tersebut bersama-sama. Saya akan membacakan jawaban anda satu persatu supaya saya bisa menangkap persis apa yang anda lihat, apa kesan anda, persis seperti cara anda melihatnya. Sekarang kita mulai dari kartu yang pertama. Di sini anda mengatakan …(ulangi respon pertama testee pada kartu I)”

Instruksi hendaknya diberikan secara netral dan sebisa mungkin masih bersifat indirective (tidak mengarahkan). Variasi instruksi lainnya adalah, “ Saya tidak yakin bahwa saya mengerti apa yang anda maksud atau apa yang ada dalam bercak sehingga anda mempunyai kesan …”(“…” ulangi respon testee).

Inquiry dilakukan per respon dimulai dari respon pertama pada kartu I sampai respon terakhir di kartu X. Berikut contoh pertanyaan yang dapat digunakan untuk inquiry:

Lokasi
“Di mana anda melihat… pada kartu ini”; “Tunjukkan kepada saya, di mana…”

Determinan
Secara umum: “Terangkan tentang…secara lebih rinci (detil)”

“Ceritakan bagaimana Anda melihat…”; “Saya belum cukup mengerti. Ceritakan lebih banyak lagi tentang bagaimana Anda mempunyai kesan …”

Form
Kalau konsepnya definit, harus diyakini kualitas bentuk. Misalnya untuk pertanyaan pada respon kelelawar: “ Coba deskripsikan/gambarkan lebih lanjut kelelawar yang anda lihat.”

Movement
Misalnya pada kartu III, respon testee “orang”. Tester dapat bertanya “ Bagaimana anda melihat orang tersebut?”

Color
Misalnya, respon testee “bunga yang indah”. Kata “indah” dapat membuka kemungkinan penggunaan warna dalam persepsi testee. Tester dapat bertanya “ anda bilang ini bunga yang indah (tester sambil menunjuk plot area), apa yang membuat anda berfikir bahwa itu adalah bungan yang indah?” . Pertanyaan “apakah ini berwarna?” tidak boleh ditanyakan oleh tester.

Shading
Kalau tester menduga bahwa testee menggunakan shading, maka ia harus meyakinkan diri dengan bertanya minimal satu pertanyaan kepada testee. Tester dapat menggunakan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang digunakan untuk inquiry color, movement, dan form. Untuk dapat dikategorikan sebagai shading, tester harus yakin bahwa Testee melihat dan menggunakan perbedaan dalam kualitas terang dan gelap pada kartu dalam responnya .

Content
Biasanya jarang diperlukan inquiry, kecuali apabila jawaban testee sangat kabur (tidak jelas). Misalnya, testee respon testee, “Mahluk halus” tester dapat menanyakan “apakah mahluk itu, manusia atau binatang?”

Penting Untuk Diperhatikan:

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan untuk inquiry hendaknya dilakukan apabila tester benar-benar kurang yakin dengan skor apa yang hendak diberikan untuk respon testee. Pada prinsipnya lebih baik bertanya sedikit saja daripada bertanya terlalu banyak. Idealnya bertanyalah secukupnya. Respon testee yang sudah jelas dan dapat diskor tidak perlu ditanyakan lebih lanjut.

Pertanyaan harus dirumuskan secara hati-hati dan seumum mungkin, dengan tujuan agar:
  1. Testee merasa tidak ditentang atau disalahkan jawabannya 
  2. Menjaga agar tes Rorschach tetap bersifatnya samar bagi testee 

Hal-hal yang dicatat pada tahap inquiry:
  1. Lokasi untuk respon testee, dengan cara melingkari daerah yang digunakan kemudian segera diberi nomor sesuai dengan nomor respon 
  2. Pertanyaan tester (diberi tanda T = tanya atau Q = questioning) 
  3. Jawaban dan komentar testee 
  4. Respon baru yang muncul (kalau ada) à semua skor diletakkan pada kolom additional. 
  5. Jawaban yang ditolak/disangkal atau tidak dikenali (kalau ada) à semua skor juga diletakkan dalam kolom additional dengan tanda panah. Contoh, menolak respon kelelawar pada kartu I 

Skor: W ← F ← A ← P 1.0

Tahap III: Analogy

Tahap ini sering juga disebut dengan “follow-up inquiry”. Tahap analogi bersifat pilihan (optional). Artinya hanya dilakukan kalau testee sudah mampu memberikan respon-respon tertentu, terutama human movement (M), FM, textural (Fc, cF, c), chromatic color (FC, CF, C), dan konsep popular. Testee mampu namun jumlah atau produktivitas responnya sangat sedikit (biasanya hanya satu respon).

Sifat instruksi sudah lebih langsung. Misalnya, testee hanya bisa membuat respon movement pada kartu III: “Di sini (tester sambil memperlihatkan kartu III), anda dapat melihat seorang wanita yang sedang membungkuk. Apakah di kartu-kartu yang akan saya tunjukkan, Anda dapat melihat manusia seperti itu? (tester memperlihatkan kartu I dan seterusnya sampai kartu X, kecuali kartu III karena testee sudah mampu memberikan respon human movement di kertu III).

Contoh lain untuk color: “ Di kartu ini (tester memperlihatkan kartu di mana testee memberikan respon warna), warna yang ada mengingatkan anda pada …, bagaimana dengan warna pada kartu ini?” atau, “ Di sini anda melihat kupu-kupu cantik karena berwarna (kartu III), apakah pada kartu-kartu yang akan saya tunjukkan ini warna bisa membantu anda untuk memberikan respon lagi?” (tester memperlihatkan kartu-kartu kromatik).

Respon yang dikemukakan pada tahap analogi tidak diskor. Hanya dicatat, atau dikemukakan lagi dalam hasil observasi. Kemudian, secara kualitatif diinterpretasi menggunakan interpretasi kualitatif.

Tahap IV: Testing-the-limits

Testing the limits merupakan prosedur yang dilakukan untuk menguji apakah testee pada dasarnya mampu memproduksi respon dengan konsep tertentu, mampu menggunakan lokasi tertentu, dan mampu menggunakan determinan tertentu. Prosedur testing the limits berguna untuk testee yang:
  1. Tidak mantap dalam memberikan respon karena dikuasai kecemasan selama tes
  2. Bingung dengan apa yang diharapkan oleh tes
  3. Menghasilkan respon yang miskin atau kurang memadai kualitasnya. 

Sama seperti respon pada tahap inquiry, respon yang baru muncul setelah dilakukan testing-the-limits juga tidak diskor. Hanya perlu dibuat catatan yang dapat diuraikan di dalam catatan observasi.

Testing-the-limits digunakan kalau testee tidak mampu menghasilkan respon-respon sebagai berikut:
  1. Cara pendekatan (manner of approach), yaitu kalau testee hanya mampu memberikan jawaban W, ia perlu didorong untuk mencoba membuat respon dengan menggunakan sebagian dari bercak (detil). Begitu juga sebaliknya, apabila testee hanya mampu memberikan respon dengan lokasi D, ia bisa diberi testing-the-limits untuk melihat kemampuannya memproduksi respon dengan lokasi W. 
  2. Kemampuan mempersepsi “human content” dan memproyeksikan gerakan pada manusia tersebut (M) 
  3. Kemampuan testee untuk mengintegrasikan Form dan Color. Digunakan kartu-kartu kromatik, terutama kartu III, X. Kartu VIII tergolong kartu sulit dan kartu IX tergolong paling sulit 
  4. Kemampuan untuk memberikan respon “shading nuances” (nuansa shading). Digunakan kartu-kartu akromatik, terutama kartu IV dan VI 
  5. Kemampuan mempersepsi dan berpikir secara konvensional (kemampuan memproduksi respon popular). Kalau testee tidak mampu memberikan respon populer, harus diyakini apakah hal itu disebabkan ia tidak mau mengungkapkan hal-hal yang mudah dilihat (popular) atau kerena ia tidak mampu melakukannya 
  6. Melihat gerakan binatang, terutama pada kartu VIII. 

Instruksi

Instruksi sudah bersifat langsung atau mengarahkan, situasi dibuat terstruktur. Aturan tentang cara bertanya: dimulai dari pertanyaan umum, semakin lama semakin khusus. Misalnya, untuk mengarahkan pada jawaban D: “ Kadang-kadang orang lain hanya menggunakan sebagian dari bercak tinta yang ada di setiap kartu, tidak harus seluruh bercak digunakan sekaligus. Dapatkan anda melakukannya juga?” Kalau cara ini masih gagal, secara langsung ditunjuk bercak-bercak “Usual detail”. Kalau masih gagal, ditunjuk lokasi “usual detail” yang berisi jawaban popular, misalnya lokasi D di kartu VIII (binatang berkaki empat bergerak) dan kartu X (kepiting). Kalau testee masih gagal, diajukan beberapa respon popular: “ Kalau di bagian ini orang melihat sebagai (tester menyebutkan respon popular), bagaimana dengan anda?.

Untuk orang yang tidak mampu memberikan respon popular, bisa digunakan cara demikian. Tester memilih dua atau tiga kartu, kemudian memperlihatkan salah satu kartu tersebut dengan berkata: “ Kita hampir selesai, tetapi ini (tester memperlihatkan kartu)lihatlah sekali lagi. Kadang-kadang orang melihat ….(tester menyebutkan respon popular)…pada kartu ini. Bisakah Anda melihat hal seperti …(tester menyebut lagi respon popular)…pada kartu ini?” Di sini lokasi tidak disebutkan. Untuk orang yang berlagak sangat kreatif, ia akan segera menemukan respon popular. Namun untuk orang yang mengalami gangguan psikiatrik, mungkin sekali malah mentertawakan bahwa ada orang yang melihat begitu (popular) pada kartu ini.

Teknik Pelaksanaan Testing-the-limits
  1. Prosedur asosiasi bebas, yaitu meminta testee untuk memberikan respon asosiasi bebas terhadap respon kartu-kartu Rorschach tertentu, terutama yang menimbulkan kejutan (shock), baik berupa “color shock” maupun “shading shock”. 
  2. Teknik pembentukan konsep, yaitu meminta testee untuk mengelompok-kelompokkan kartu sesuai dengan caranya sendiri. Ia bisa membaginya berdasarkan isi (content), sikap afektif (affective attitude), perbedaan warna, perbedaan bentuk (form). Dsb. 
  3. Prosedur suka-tidak suka (like-dislike procedure), yaitu dengan cara meminta testee untuk mengambil kartu yang paling disukainya, kemudian mengambil kartu yang paling tidak disukainya. Tester kemudian menanyakan alasan mengapa testee paling suka pada kartu tertentu dan tidak suka pada kartu yang lainnya. 

SKORING

Secara esensi, fungsi utama skoring adalah menarik dari jawaban konkret (raw material) kedalam symbol khusus (coding) untuk dijadikan dasar dari interpretasi objektif. Ada tiga kategori utama skoring, yaitu lokasi, determinan, dan isi. Untuk tiap kategori dipergunakan simbol-simbol skoring tersendiri.

Respon yang bagaimanakah yang dapat diskor?

Menentukan apakah suatu verbalisasi merupakan suatu jawaban yang dapat diskor, merupakan tugas pertama dari orang yang menskor.

Konsep independent dan elaborasi

Dalam kebanyakan protocol Rorschach tampak jelas apakah suatu verbalisasi merupakan suatu jawaban yang dapat diskor atau tidak. Tidak jarang banyak sekali elaborasi yang dilakukan testee sehingga harus ditentukan mana yang merupakan elaborasi dari jawaban sebelumnya, dan mana yang merupakan konsep/jawaban yang berdiri sendiri.

Exclamation dan remarks

Tidak jarang kita temukan, subjek memberikan komentar-komentar terhadap kartu, tetapi tidak dapat dimasukkan dalam kategori-kategori jawaban. Kadang-kadang jelas bahwa suatu verbalisasi merupakan komentar misalnya: ‘’Wah ini bagus, penuh warna’’. Tetapi jika testee mengatakan ‘’Ini merak dan hitam’’, hal ini bukan juga berarti jawaban, masih perlu penjelasan apakah ini hanya komentar atau jawaban.

Tendensi deskriptif

Akan sangat menimbulkan kesulitan jika subjek mencampurkan jawaban-jawaban interpretatif dengan deskripsi tentang kartu. Misalnya, gambar I: ‘’Nah, ini burung (bagian atas kartu) dan di sini ada titik kecil, ada garis dan bercak-bercak putih. Dan ini yang di tengah ini seperti orang. jika pada satu kartu diberikan lima atau lebih elemen deskriptif semacam ini, maka sebaiknya di samping skor-skor lain ditambahkan juga satu skor tambahan yang menyangkut deskripsi ini.

Jawaban utama dan tambahan (Main and Additional Responses)

Setelah ditentukan apakah suatu verbalisasi termasuk jawaban atau komentar, maka selanjutnya adalah mana jawaban utama dan mana jawaban tambahan.
  • Main score: diberikan kepada semua konsep independent yang diberikan subjek selama performance proper.
  • Additional score: diberikan kepada konsep yang dibentuk kemudian, atau konsep yang ditarik kembali, atau elemen-elemen yang perlu dalam pembentukan konsep tetapi bukan yang utama.

Tambahan dan penolakan spontan

Di sini kita harus membedakan dua hal, antara koreksi dan penolakan. Untuk membedakan kedua hal ini, maka harus kita lihat bagaimana sikap subjek terhadap konsep orisinil yang diberikannya. Misalnya, jika seseorang mengatakan: ‘’Oh itu salah, sekarang saya baru lihat gambar ini seperti apa’’.

Komentar semacam di atas jelas mengatakan bahwa subjek menolak konsepnya yang pertama. Dalam hal semacam ini maka yang kita skor sebagai jawaban utama adalah konsep pengganti yang diberikan, sedangkan konsep asli yang mengalami penolakan hanya diskor sebagai skor tambahan kalau mengandung unsur yang belum disebutkan dalam konsep pengganti tersebut.

Lain halnya jika dalam performance proper subjek mengatakan misalnya, kartu V: ‘’Ini seperti kupu-kupu’’, dan kemudian subjek mengatakan: ‘’Ini bisa juga merupakan kelelawar, bentuk dan sayapnya lebih cocok’’. Pemeriksa dapat memastikan sikap subjek terhadap konsep yang lama dengan langsung menanyakan misalnya dengan berkata: ‘’Ya, memang bisa dilihat seperti kelelawa, tetapi apa bisa juga dilihat seperti kupu-kupu seperti yang mula-mula Saudara katakan?’’ jika subjek mengatakan bahwa bisa juga dilihat sebagai kupu-kupu, dalam hal ini maka kita mempunyai dua jawaban utama dengan dua skor utama.

Membedakan antara tambahan dan elaborasi spontan

Misalnya seseorang memberi jawaban untuk kartu II: ‘’dua badut menari’’. Dalam inquiry subjek ini menyebut tentang topinya yang merah dan mukanya yang merah, dan juga mengatakan ‘’sekarang saya lihat mereka sedang menginjak petasan’’. Dalam hal ini jelas bahwa konsep yang lama tetap dipertahankan dan tambahan yang spontan ini justru memperkaya konsep yang asli.

Sekian artikel tentang Contoh Interpretasi dan Administrasi Tes Rorschach.

Daftar Pustaka
  • Klopfer, B. Davidson, H. 1962. The Rorschach Tehcnique, An Introductory Manual. New York:Burlingame
  • Allen, R.M. 1968. Student’s Rorschach Manual. International Unievrsity Press

Sejarah dan Teori Interpretasi Tes Rorschach dalam Psikologi

Sejarah dan Teori Interpretasi Tes Rorschach dalam Psikologi - Herman Rorschach mengembangkan teknik Rorschach yang dipublikasikan pada tahun 1921 bersamaan dengna dengan dipublikasikannya monograph Psychodiagnostik. Teknik Rorschach (RO) ini menggunakan 10 kartu yang terlihat sebagai tinta yang tumpah dan membuat pola yang simetris. Saat ini, teknik Ro ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengetesan/assesment/ diagnostik psikologi.

Kesepuluh kartu ini merupakan hasil dari penelitian dan eksplorasinya selama 10 tahun. 10 kartu ini terpilih dari ribuan uji coba tinta yang telah distandardisasi dengan menggunakan populasi dari rumah sakit tempat ia bekerja sebagai kepala psikiatris.

Banyak psikolog yang tertarik melihat respon siginifikan individu dari stimulus yang berupa ink blots. Mereka malakukan investigasi mengenai respon yang signifikan dari individu. Hasil kerja Rorschach in merupakan akumulasi dari 20 tahun. Penelitian melibatkan metode untuk melihat gambar visual yang di imajinasikan melalui persepsi individu, dan dianalisa lewat konten atau gambar yang dipersepsikan oleh individu. Gambar atau symbol yang dipersepsikan individu di percaya merupakan proyeksi dari kepribadian dasarnya.

Sejarah dan Teori Interpretasi Tes Rorschach dalam Psikologi_
image source: go2psycholoy.blogspot.com
baca juga: Interpretasi Tes Wartegg dan Tes Gambar Dalam Psikologi

Perkembangan awal dari tes dengan Ink Blots

Peneliti pertama yang tercatat mulai mendiskusikan tentang ink blots ini adalah Justinus Kerner. Dia secara tidak sengaja menemukan metode ini ketika ia sedang bekerja di sebuah lab di Tübingen Jerman. Kerner mulai menyadari banyak objek yang muncul dari sebuah ink blots. Perhatiannya yan glebih mendalam mengenai ink blots ini ditulis dalam karya Kleksographien dan dipublikasikan pada tahun 1857.

Kerner tidak secara langsung mengambil kemungkinan adanya hubungan antara persepsi ink blots dan diagnosa kepribadian. Dia melihat adanya kesulitan dalam mengintepretasi ink blots berdasarkan kertelibatan material objek dan respon proyektif dari individu.

Pada tahun 1895, Alfred Binet juga mengatakan bawah penggunaan ink blots dapat digunakan sebagai metode untuk investigasi imajinasi visual pada studi trait kepribadian. Setahun kemudian Dearborn dari Harvard mempublikasikan artikel mengenai bagaimana membuat ink blots hitam-putih maupun berwarna untuk dipergunakan dalam psikologi eksperimen.

Selajutnya, Dearborn melaporkan sebuah eksperimen dengan 12 set ink blots dengan masing2 set terdiri dari 10 gambar. Subjek dari eksperimen yang ia lakukan adalah mahasiswa dan professor dari Harvard. Dari hasil eksperimen ini ia menemukan bahwa respon tiap individu terhadap blots muncul secara variatif. Hal ini menurutnya dipengaruhi oleh pengalaman tiap-tiap individu.

Perkembangan ink blots tidak berhenti pada ekseprimen Dearborn, namun juta menarik perhatian dari Kirkpatrick. Dia mengatakan bahwa kualitas dari respon subyek dipengaruhi oleh usia. Pyle dalam studinya membandingkan anak-anak yang diberikan tes ink blots. Beberapa tahun kemudian mereka menjalankan kembali penelitian yang sama dan dihasilkan respon gambar yang lebih cepat.

Pada tahun 1910, Whipple mempublikasikan untuk yang pertama kali sebuah seri/set ink blots yang terstandarisasi. Manual yang dikembangkan adalah modul pertama yang komprehensif jika dibandingkan dengan ahli-ahli terdahulu yang juga mengembangkan ink blots. Namun saja, ia tidak terlalu memperhatikan pada hubungan antara karakteristik kepribadian dan respon aktualnya.

Satu decade selanjutnya, mulai berkembang kembali tes ink blots yang dikembangkan oleh F.C Bartlett dari universitas Cambridge. Ia menggunakan ink blots ini dalam studi mengenai persepsi dan imajinasi. Dari hasil studinya ditemukan bahwa respon subyek dapat menunjukkan ketertarikan dan kemungkinan pekerjaan dari subyek.

Pada tahun 1917, Cicely Parsons dari Universitas College of South Wales membuat studi 97 anak-anak dengan menggunakan blots Whipple. Dari studi dengan blots ini, ia menemukan beberapa formulasi sebagai hasilnya. Ia menemukan persentase yang tinggi respon binatang dan manusia, perbedaan jenis kelamin, tingkatan kualitas dan tipe dari hasil deskripsi subyek bergantung pada usia. Parsons mengatakan bahwa walaupun tujuan awal dari penelitiannya adalah untuk mengukur imajinasi, hasil yang didapatkan mengindikasikan adanya kemungkinan untuk melihat perbedaan individu.

Analisa konten dari respon yang dihasilkan baik dari penelitian Bartlett dan Parsons menjadi arah untuk formulasi yang kemudian dikembangkan oleh Herman Rorschach.

RIWAYAT HIDUP HERMANN RORSCHACH

Herman Rorschach lahir di Zurich, Swiss pada tanggal 8 November 1884. Pada saat ia lulus dari sekolah kedokteran, hasil studi ink blots sudah popular dipublikasikan. Ketertarikan dirinya terhadap ink blots ini dimulai dari tahun 1911 dan menjadi minat utamanya dalam kehidupannya yang tidak terlalu panjang. Hal ini juga didukung oleh lingkungan kerjanya di klinik psikiatri yang memberikan kesempatan luas untuk melakukan penelitiannya. Pendekatan psikologis yang digunakan oleh Rorschach dibangun dari pandangannya terhadap kepribadian dan hubungan antar aspek secara global. Hal ini dibuktikan dalam karyanya Psychodiagnostik yang berisi tentang respon-respon subyek terhadap blots yang di nilai dalam kategori formal. Hal ini dipertimbangkan oleh Rorschach menjadi landasan diagnosis kepribadian yang objektif. Rorschach adalah orang pertama yang membangun metode kerja (shorthand) untuk menangani pola-pola respon yang kompleks.

Monograph pertama yang dipubilikasikan oleh Rorschach menjadi saat terakhir kemunculan dirinya di depan public. Herman Rorschach meninggal pada 2 April 1922. Sebelum meninggal, ia sedang menyempurnakan karyanya dalah hal teknik-teknik sehingga lebih luas dan mampu menampilkan perbedaan. Hasilnya ini dipublikasikan oleh rekan kerjanya, Emil Oberholzer.

Pada tahun 1924, publikasi pertama hasil karya Rorschach muncul di Inggris. Publikasi ini merupakan terjemahan dari hasil keya Rorschach dan Oberholzer selama mereka melakukan demonstrasi dan analisis. Setelah itu David Levy, yang merupakan anak murid dari Oberholzer memperkenalkan metode Rorschach di Amerika Serikat. Lalu Levy membuat Samuel Beck untuk tertarik mempelajari teknik Rorschach ini dan menjadi murid dari Oberholzer. Beck menjadi orang Amerika pertama yang mempublikasikan karya tentang metode Rorschach.

Pada saat awal Rorschach mulai dikenal di Amerika, tidak semua pihak menerima. Para psikiater tidak melihat tujuan dan pemahaman yang jelas untuk digunakan kepada pasien. para dokter ini pun dibingungkan dengan metode skoringnya. Para psikolog dan psikometris juga meragukan nilai ilmiah dari metode ini.

Kondisi di atas membuat metode ini berkembang secara perlahan. Namun sejalan dengan waktu, jumlah pengikut metode ini semakin bertambah. Tugas para pengikut ini bukan hanya sekedar menyempurnakan administrasi dan metodenya namun juga pendidikan utk para khalayak umum. Pada thaun 1934, Bruno Klopfer menjadi tokoh yang memajukan metode Rorschach ini melalui studi kelompok. Klopfer juga menjadi tokoh yang menyempurnakan teknik scoring, dengan rekan lainnya ia pun mendirikan Rorschach Research Exchange pada tahun 1926. 3 tahun kemudian, Rorschach Institute dijadikan pusat penelitian dan pusat pelatihan. Perkembangan teknik ink blots ini menjadi pendorong untuk pengembangan metode proyeksi lainnya, seperti Thematic Apperception Test (TAT).

Kontribusi Hermann Rorschach

Menurut Klopfer (1962) teknaniebik bercak tinta yang disusun oleh Rorschach merupakan titik puncak keberhasilan dari penelitian-penelitian yang menggunakan bercak tinta selama 20 tahun di Eropa dan Amerika. Rorschach berhasil menerobos aspek-aspek yang belum pernah dijangkau oleh peneliti-peneliti lain. Kalau ahli-ahli sebelumnya kebanyakan hanya menganalisa bercak tinta dari segi isi dari respon subjek saja, dan mengatakan bahwa bercak tinta yang diberikannya itu adalah tes imajinasi, tetapi menurut Rorschach dalam membuat interpretasi terhadap bercak tinta itu sebenarnya fungsi imajinasi hanya sedikit. Yang paling berperan adalah fungsi persepsi (Rorschach, 1981).

Rorschach lebih menekankan untuk memahami bagaimana seseorang menghayati sesuatu, kurang mementingkan apa isi penghayatannya. Kalau ada orang yang mengalami ketakutan, atau kecemasan, bukan isi ketakutan atau kecemasan itu yang dilihat, tetapi bagaimana dia mengahayati kecemasan itu sebagai suatu gejala psikologis, bagaimana hubungannya dengan fungsi-fungsi psikologis yang lain.

Periode sesudah Rorschach

Tes Rorschach sudah mengalami banyak penyempurnaan yang di lakukan oleh para ahli sesudah Rorschach. Pada tahun 1924 tulisan Rorschach bersama asistennya, Emil Obelholzer, pertama kali diterbitkan dalam bahasa inggris. Dalam tulisan itu dijelaskan mengenai analisis yang dilakukan dalam teknik Rorschach dan juga didemonstrasikan cara penyekoran serta interpretasinya.

David Levy memperkenalkan tes Rorschach di Amerika. Samuel Beck, menerbitkan bercak tinta untuk tes Rorschach dan juga mengembangkan metode interprestasi yang masih dipakai sampai sekarang. Hertz banyak mengadakan penelitian tentang aspek-aspek metodologis dalam tes Rorschach.

Bruno Klopfer mengembangkan tes Rorschach. Pada tahun 1934 telah mengembangkan ide-ide Rorschach dalam kelompok studinya. Pada tahun 1936 Klopfer dkk mendirikan Rorschach Institute sebagai lembaga melatih para para ahli untuk menggunakan tes Rorschach. Pada tahun 1948 Rorschach Institute berubah menjadi The Society for Projective Technique, yang menerbitkan TAT (Thematic Apperception Test) dan tes proyektif lainnya.

Selain itu banyak alat tes yang juga menggunakan teknik bercak tinta, yang dikembangkan untuk menutupi kelemahan-kelemahan tes Rorschach, seperti misalnya :

  • Bero yang dirancang sebagai tes Rorschach untuk anak-anak
  • Zullinger Test (Z – test) dirancang dengan menggunakan 3 kartu bercak tinta yang lebih kompleks
  • Group Rorschach, yaitu pelaksanaan administrasi tes Rorschach secara klasikal, pertama kali di rintis oleh Harrower dan Steiner dengan memproyeksikan bercak tinta menggunakan tinta lewat slide. Juga di kembangkan jawaban yang multiple choice
  • Holtzman Ink Blot Technique, dirancanh oleh Holtzman untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan metodologi dan tes Rorschach
  • Piotrowski’s Automated Rorschach (PAR), dirancang oleh Piotrowski pada tahun 1974 dengan menggunakan computer untuk scoring dan intepretasinya.


Penerapan tes Rorschach sebagian besar di bidang klinis, baik di rumah sakit maupun di klinik psikiatris dan psikologis. Tetapi tes Rorschach juga bisa menjadi terapi, ada testi yang mengatakan ketika selesai menjalani tes ini testi merasa lega dan hilang beban pikiran dan emosionalnya.

Teknik Rorschach juga banyak digunakan di luar bidang klinis. Misalnya di bidang militer dan industri, tes Rorschach banyak digunakan sebagai alat seleksi. Temasuk pengguna tes Rorschach secara kelompok (Williams & Kellman, 1962).

LANDASAN TEORI DAN ASPEK YANG DIUNGKAP

Sebelum para pemula mempelajari Ro lebih lanjut, maka diharapkan mahasiwa sudah memahami teori-teori kepribadian, persepsi, teori belajar dan dinamika perilaku. Zeitgeist (dalam Allen, 1968) mengatakan bahwa prinsip utama dalam tes Ro adalah bahwa setiap performa individu merupakan ekspresi dari keseluruhan kepribadiannya. Brunner (dalam Allen, 1968) menambahkan bahwa persepsi juga dilibatkan dalam pelaksanaan tes ini. Persepsi normal individu adalah saat kondisi kecemasan individu pada level minimal.

Asumsi dasar dari Test Ro ini adalah bahwa ada hubungan antara persepsi dan kepribadian. Cara bagaimana seseorang itu melihat kartu dan mengatur “bagaimana” ia melihat kartu tersebut merefleksikan aspek dasar dari kepribadian individu itu tersebut. Gambar tinta (Ink Blots ) pada kartu merupakan gambar yang cocok sebagai stimulus karena gambar tersebut bersifat ambigu atau tidak terstruktur. Hal ini membuat individu memberikan respon yang tidak ia pelajari terlebih dahulu atau memiliki pengalaman sebelumnya karena memang tidak ada jawaban “benar” atau “salah” dalam respon yang diberikan individu. Test Ro melibatkan “proyeksi” kebutuhan, pengalaman, dan pola kebiasaan pada saat individu memberikan respon disetiap kartu yang diberikan.

Pada kehidupan sehari-hari, individu cenderung menghindar dari orang lain ketika mereka merasa tidak nyaman atau mendapatkan kesulitan saat berada disekitarnya. Sehinga pada test Ro, subyek dapat saja menghindari untuk “melihat” atau bahkan “tidak bisa melihat” figur manusia disetiap kartu yang diberikan. Subyek akan cenderung melihat mesin atau figur-figur yang berkaitan dengan botani, atau gunung besar dengan awan, atau hal lainnya. Subyek juga akan cenderung menghindari terlibat dalam suatu permasalahan dengan cara menyusup keluar secara diam-diam. Dalam test Ro, subyek dengan kondisi seperti ini akan cenderung melihat ujung atau tepian dari setiap gambar. Apa yang dilihat oleh subyek, apa yang tidak dapat dilihat oleh subyek, bagaimana dia mengatur materi kartu, berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk merespon kartu yang diberikan diyakini dapat menunjukkan beberapa karakter dari kepribadiannya.

Tingkah laku subyek dalam situasi tes Ro mungkin berbeda dengan dikehidupan nyata. Dikehidupan nyata, subyek cenderung untuk menampilkan perilaku yang akan diterima di lingkungan sosialnya. Ia belajar bahwa menjadi individu yang “normal”, mampu mengeontrol diri, atau menjadi diri yang baik akan lebih diterima dibanding menampilkan perilaku yang agresif dan bermusuhan. Namun, perilaku subyek yang terlihat tersebut terkadang tidak menampilkan sikap atau perasaan diri subyek yang sesungguhnya. Dalam test Ro, subyek tidak mengetahui cara yang terbaik, respon yang benar, atau cara uang umumnya orang lain merespon. Subyek harus merespon dengan caranya sendiri-sendiri, sehingga hal ini dapat memunculkan kondisi dirinya yang sesungguhnya yang dia sendiri tidak sadari.

Aspek kepribadian

Dalam mendekati kepribadian, Rorschach berusaha melihat secara menyeluruh (global approach). Suatu fungsi psikologis tertentu selalu dilihat dalam kaitannya dengan fungsi psikologis yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa tes Rorschach dapat mengungkap seluruh kepribadian seseorang. Menurut Klopfer (1962) kepribadian manusia itu adalah sedemikian kompleksnya, sehingga tidak akan mungkin dapat dilihat secara utuh hanya dengan menggunakan satu alat tes saja. Hasil tes Rorschach hanyalah salah satu frame of reference dalam melihat kepribadian.

Hasil tes Rorschach juga dapat melengkapi hasil dari tes objektif, misalnya tes intelegensi. Karena tes Rorschach juga dapat memprediksikan taraf dan fungsi intelegensi seseorang, maka hasil tes objektif akan dapat menjadi referensi yang perlu diperhatikan.

Aspek-aspek yang diungkap melalui tes Rorschach dapat dibagi dalam tiga aspek pokok, yaitu:

  1. aspek kognitif
  2. aspek afektif atau emosional
  3. aspek fungsi ego.


Sekian artikel tentang Sejarah dan Teori Interpretasi Tes Rorschach dalam Psikologi.

Daftar Pustaka

  • Klopfer, B. Davidson, H. 1962. The Rorschach Tehcnique, An Introductory Manual. New York:Burlingame
  • Allen, R.M. 1968. Student’s Rorschach Manual. International Unievrsity Press
  • Bebagai sumber dari internet

Interpretasi Tes Wartegg dan Tes Gambar Dalam Psikologi

Interpretasi Tes Wartegg dan Tes Gambar Dalam Psikologi - Pada awalnya, Tes Wartegg adalah sebuah tes psikologi yang dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari University of Leipzig. Kemudian, tes ini dikembangkan oleh Ehrig Wartegg dan selanjutnya oleh Marian Kinget. Tujuan dari tes wartegg ini adalah mengeksplorasi (meneliti karakter kepribadian seseorang) terutama dalam hal emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol dan reality function, yang dimiliki oleh setiap orang namun dengan intensitas dan interelasi yang berbeda.

Struktur kepribadian tidaklah statis, berubah-ubah dan menentukan sebagian besar perilaku individu. Dengan tes ini dapat dilihat bagaimana cara subyek berfungsi, yaitu apakah normal atau abnormal. Maka bila ada satu atau beberapa komponen yang sangat dominan, menandakan bahwa struktur tidak seimbang, jadi fungsi subyek adalah defektif. Misalnya, fungsi kontrol terlalu kuat maka perilaku akan terhambat dan kreatifitas kurang berkembang, sedangkan bila imajinasi berkembang berlebihan maka kontak dengan realitas dan fungsi sosialnya terganggu. The Drawing Completion Test adalah bentuk pemeriksaan kepribadian dengan menggunakan gambar-gambar yang diperoleh melalui sarana tes. Sarana ini berisi sejumlah elemen grafis kecl yang berdungsi sebagai suatu seri tema-tema formal yang harus dikembangkan menurut cara subyek itu sendri. Jadi gambar-gambar yang dihasilkan dengan cara tersebut diatas kemudian di analisis sesuai dengan sejumlah kriteria, bentuk, dan isi.

Interpretasi Tes Wartegg dan Tes Gambar Dalam Psikologi_
image source: www.pinterest.com
baca juga: Persiapan dan Instruksi Tes Menggambar Orang dalam Psikologi

SEJARAH

Berawal dari para ahli dalam aliran psikologi gestalt di Universitas Leipzig yang dipimpin oleh F. Krueger dan F. Sander. Sender menciptakan teknik “Phantasie Test”, subyek dihadapkan pada materi drawing completion test (DCT), yang menghasilkan sifat struktural khas dari subyek. Keberhasilan Sender mendorong Dr. Ehrig Wartegg untuk melanjutkan penelitian tsb, akhirnya menemukan tes wartegg DCT (drawing completion test)/WZT (Wartegg Zeichen Test) yang dipakai sekarang ini.

Wartegg dikembangkan sekitar tahun 1930 oleh Dr. Ehrig Wartegg dalam karyanya Gestaltung und Character sebagai suatu outline untuk tipologi tes DCT ini. Tes ini terdiri dari 8 karakter item data berupa bentuk/gambar yang ambigu di tiap 8 kotaknya. Sebagai contoh satu titik atau setengah lingkaran. Tugas untuk testee adalah melanjutkan gambar yang sudah ada tersebut menjadi suatu gambar baru. Hasil yang didapat kemudian dievaluasi baik secara grafologis dan simbolis. Masing-masing bidang tertentu yang tampaknya berisi aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian. Hal ini penting untuk apa yang sejauh ini oleh subjek tes yang diterima. Seperti juga dengan tes lain dan validitas yang memadai. Namun demikian dapat, dalam konteks terapi psychotherapeutischen atau penjelasan, yang berpengalaman Psychotherapeuten dengan bantuan dari uji titik awal untuk analisis yang lebih dalam mengalami konflik pasien diberikan.

Wartegg Zeihen Test (WZT) adalah sebuah tes proyeksi sederhana yang berupa setengah kertas ukuran A4 dengan delapan buah kotak yang dibatasi garis tebal. Dalam setiap kotak terdapat rangsang-rangsang tertentu yang masing-masing kotaknya akan memberikan kesan spesifik yang berbeda-beda dan tentu saja reaksi yang berbeda pula sesuai dengan kepribadian orang yang tengah diperiksa.

Tujuan Drawing Completion Test
  1. Mengeksplorasi struktur kepribadian dari fungsi dasarnya (emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol, dan fungsi realita)
  2. Sejauhmana masalah-masalah yang ada “meluas” dalam diri individu.
  3. Melihat abnormalitas manusia


Aspek Emosi yang Tergali dari Wartegg Zeihen Test (WZT)

Berdasarkan pada dasar teori yang dikemukakan oleh Wartegg, dinyatakan bahwa melalui WZT dapat menggali komponen-komponen skema kepribadian dari seseorang. Aspek-aspek emosi yaitu outgoing dan seclusive sesuai dengan ekstraversi dan introversi. Aspek emosi terutama tergali dari kategori-ketegori respon sebagai berikut:

Outgoing
  1. Animate nature; adalah suatu petunjuk langsung dari integrasi dan penyesuaian diri subjek.
  2. Physiognomy; yaitu segala sesuatu dalam gambar figure manusia yang memberitahu pengamat tentang apa dan siapa figure tersebut, jenis kelamin, usia, pekerjaan dan sifat.
  3. Expansion; yaitu menunjukkan suatu kecenderungan (pada gambar-gambar tertentu) terutama pemandangan alam dan pemandangan kota, interior untuk melampaui batas-batas kotak.
  4. Curves; terutama garis luwes, mengalir dengan bebas berasal dari tonus otot yang santai..
  5. Casualness; adalah cara menggambar yang lepas, informasi, kadang-kadang ada gaya, kadang-kadang ceroboh, yang dapat menaikan atau memperindah atau merusak gambar tergantung dari banyak faktor.

Seclusive
  1. Inanimate Nature; mencakup berbagai benda dari daun, awan, air, setangkai bunga atau gambar buah sampai gambar-gambar yang lebih rumit seperti gambar dahan-dahan, tanaman, belukar, pemandangan alam, atau pemandangan laut.
  2. Atmosphere; adalah suatu gambar yang berasal dari cara mempresentasikan dan pelaksanaan sehingga memunculkan suatu kualitas perasaan dan kualitas suasana gambar.
  3. Soft lines; yaitu gradasi garis-garis lemah berkisar dari moderat halus, halus sampai pada yang sangat lemah dan hampir tidak nampak.
  4. Symetric abstraction; pemberian skor terhadap respon ini didasarkan atas kerumitan dan nilai estetik pola.
  5. Asymetric abstraction; yaitu mencakup gambar-gambar yang memperlihatkan permainan bebas garis-garis dan cahaya serta bayangan.
  6. Shading (both light and dark); mencakup 3 aspek diagnostik yang signifikan yaitu : intensitas, tekstur, dan fungsi.
  7. Parts; karakteristik elemen dari gambar representasional adalah pembedaan antara suatu keseluruhan seperti orang, rumah, pemandangan alam, atau bagian telinga, jendela, roda dan sebagainya.
  8. Scribbles; yaitu coretan-coretan tidak teratur, kacau, garis silang menyilang, atau bentuk-bentuk bayangan kabur.
  9. Schematism; adalah satu bentuk dari nature content, dengan ciri-ciri : perlakuan geometris atau segi empat.

INTRUKSI TES WARTEGG (Drawing Completion Test)

Persiapan:
  • Menyiapkan stopwatch yang siap pakai
  • Menggambar Tes Wartegg di papan tulis
  • Membagikan lembar Tes Wartegg dan sebatang pinsil HB pada Testee


Instruksi:

Kepada Saudara telah dibagikan lembar tes baru

Ambillah lembar tes itu dan isilah dengan bolpen:

Nomor : Nomor pemeriksaan Saudara

Nama : Nama lengkap Saudara

Tgl. Lahir : Tanggal, bulan, dan tahun lahir Saudara

Jenis kelamin : Lingkarilah huruf L atau P sesuai dengan jenis kelami Saudara

Tgl. Pmr : Tanggal hari ini (Tester menyebutkan tanggal , bulan, dan tahun pemeriksaan)

Jika sudah selesai, letakkan alat tulis Saudara dan perhatikanlah ke depan.

Pada lembar tes ini kita lihat ada 8 buah kotak (tunjukkan kepada Testee)

Di dalam setiap kotak terdapat sesuatu yang telah ditentukan, yaitu (sambil ditunjukkan oleh tester satu demi satu dari kiri ke kanan. Tidak usah sisebut semuanya, cukup dua saja)

  • Kotak ini : titik seperti ini
  • Kotak ini : lengkungan seperti ini
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini
  • Kotak ini : bujur sangkar seperti ini
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini
  • Kotak ini : lengkungan titik-titik seperti ini
  • Kotak ini : lengkungan seperti ini

Tugas Saudara adalah menggambar !

Buatlah satu buah gambar di dalam setiap kotak. Apa yang akan digambar di dalam kotak itu, terserah kepada Saudara. Jadi sesuka hati Saudara, namun sesuatu yang telah ditentukan dalam setiap kotak hendaknya menjadi bagian dari gambar Saudara.

Dengan perkataan lain, ada seseorang yang telah mulai menggambar di dalam kotak itu dan Saudara yang harus menyelesaikannya.

Kotak mana yang akan Saudara gambar labih dahulu terserah pula kepada Saudara. Pilihlah kotak yang paling mudah Saudara selesaikan. Tiap kali selesai menggambar sebuah kotak, berilah nomor yang menunjukkan urutan menggambar Saudara.

(Tester memberi contoh di papan tulis dengan urutan yang diacak)

Berilah nomor 1, di luar kotak, yang akan menunjukka bahwa kotak itu yang Saudara gambar pertama.

Berilah nomor 2, di luar kotak, pada kotak yang Saudara gambar berikutnya, demikian seterusnya sesuai dengan keurutan menggambar.

Setelah itu pada bagian lembar tes yang kosong (Tester menunjukkan kepada Testee, apabila tidak terdapat bagian yang kosong dapat menggunakan bagian belakang lembar tes), berilah keterangan tentang gambar itu sesuai dengan urutan menggambarnya, misalnya:
  1. Gambar ____
  2. Gambar ____
  3. Gambar ____, dan seterusnya. (Tester memberi contoh di papan tulis)

Apabila saudara telah selesai menggambar semua kotak, pilihlah satu gambar yang Saudara anggap paling mudah diselesaikan, satu gambar yang Saudara anggap paling sulit diselesaikan, satu gambar yang paling saudara sukai, dan satu gambar yang paling tidak Saudara sukai, dengan menuliskan simbol berikut di belakang keterangan gambar: (Tester mencontohkan di papan tulis)

M = Gambar paling mudah

S = Gambar paling sulit

+ = Gambar yang paling disukai

- = Gambar yang paling tidak disukai

Saudara harus menggunakan pinsil yang kami pinjamkan.

Apakah ada pertanyaan? (Tunggu sebentar)

Waktunya 15 menit (diberitahukan kepada Testee)

…(setelah waktu 15 menit berlalu)…

BERHENTI!! Letakkan pinsil Saudara…

Sekarang letakkan lembar tes tersebut di sisi meja yang kosong.

Sekian artikel tentang Interpretasi Tes Wartegg dan Tes Gambar Dalam Psikologi.

Daftar Pustaka
  • Anastasi, A & Urbina, S. 1998. Psychological Testing: 7th ed.
  • Kinget, Marian. 1952. The Drawing Completion Test: A Projective Technique for The Inverstigation of Personality. New York:Grune & Stratton, Inc
  • Gregory, Robert.J. Psyhcological Testing: 6th edition. Boston: Pearson Education.
  • Widjaja, H. 1987. Proyeksi Kepribadian dalam Gambar Figur Manusia. Bandung:Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Persiapan dan Instruksi Tes Menggambar Orang dalam Psikologi

Persiapan dan Instruksi Tes Menggambar Orang dalam Psikologi - Tes gambar orang adalah salah satu dari teknik proyeksi dengan cara menggambarkan “Orang”. Tes ini mengukur fungsi kognitif dan tentunya kepribadian seseorang. Tes ini cukup popular dikalangan psikolog klinis, maupun dunia pendidikan dalam menggali karakter kepribadian seseorang. Pada awal 1926, Goodenough membangun suatu prosedur standar dalam mengevaluasi inteligensi anak-anak dengan cara menggambar manusia. Dalam waktu yang kurang lebih sama, Emil Jucker memperkenalkan Tes Gambar Orang yang kemudian di elaborasi lebih jauh dan sempurna oleh Charles Koch (1952, 1957).

Persiapan dan Instruksi Tes Menggambar Orang dalam Psikologi_
image source: videojug.com
baca juga: Teori dan Sejarah Tes Psikotes Menggambar Orang dalam Psikologi

TES MENGGAMBAR ORANG

Persiapan:

- Menyiapkan stopwatch yang siap pakai

- Menuliskan di pojok kiri atas papan tulis yang tersedia:

Nomor :

Nama :

Tgl. Lahir :

Tgl. Pmr. :

Untuk isian Testee di kertas HVS yang akan dibagikan

- Membagikan selembar kertas HVS kosong ukuran A4 tebal 60 gram

Instruksi:

Kepada Saudara telah dibagikan sehelai kertas kosong.

Ambillah kertas itu dan di sudut kiri atas ini…(tunjukkan kepada Testee)… tulislah:

Nomor : Nomor pemeriksaan Saudara

Nama : Nama lengkap Saudara

Tgl. Lahir : Tanggal, bulan, dan tahun lahir Saudara

Tgl. Pmr : Tanggal hari ini (tester menyebutkan tanggal, bulan, dan

tahunnya)

Jika sudah selesai, letakkan alat tulis Saudara dan perhatikan ke depan.

(Setelah semua Testee memperhatikan ke depan)

Sekarang balikkan kertas Saudara demikian (tunjukkan kepada Testee) sehingga Saudara menghadapi halaman yang seluruhnya kosong (tunjukkan kepada Testee).

Perhatikan!

Seluruh halaman ini sekarang adalah milik Saudara (tester menunjukkan seluruh halaman yang kosong)

Tugas Saudara adalah GAMBARLAH ORANG!

Dalam hal ini, tidak diperkenankan menggambar orang berupa kartun, anime maupun orang yang berbentuk abstrak atau sketsa.

Saudara hanya boleh menggunakan pinsil yang kami pinjamkan.

Apakah ada pertanyaan? (tunggu sebentar)

Jika tidak ada, ambillah pinsil Saudara dan silakan MULAI.

Waktunya 10 menit (diberitahukan kepada Testee)

(Kalau ada pertanyaan, Tester harus menjawab sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Lihat catatan di bawah. Tester berkeliling untuk memeriksa apakah semua Testee menggambar orang yang diperkenankan. Jika ada yang salah gambarnya, lakukan petunjuk pada catatan butir 4 di bawah)

Setelah waktu 10 menit berlalu…

BERHENTI!

Pada bagian lain yang kosong, berilah keterangan gambar tersebut, siapakah orang yang saudara gambar, berapakah usianya, apa kegiatannya dalam gambar tersebut, sebutkan tiga hal positif mengenai orang tersebut, dan tiga hal negatif mengenai orang tersebut. Keterangan dapat diberikan dalam bentuk uraian maupun poin-poin.

(Tunggu testee selesai memberi keterangan gambar.)

Apabila testee sudah selesai,katakan…Letakkan pinsil Saudara, kemudian letakkan gambar Saudara di sisi meja yang kosong.

(Tester melakukan observasi kemudian mengumpulkan gambar dan pinsil)

Catatan:
  1. Apabila Testee bertanya: “Apakah boleh menggambar …?” (menyebut bagian tubuh, atau setengah tubuh, maupun jenis kelamin tertentu), tester harus menjawab, “Terserah”.
  2. Pemberian instruksi dalam tes menggambar orang, disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Instruksi utamanya adalah “gambarlah orang”. Namun pada tes dengan tujuan seleksi dan dilaksanakan secara klasikal, umumnya instruksi “Dalam hal ini, tidak diperkenankan menggambar orang berupa kartun, anime maupun orang yang berbentuk abstrak atau sketsa.” digunakan. Terkadang ditambah dengan “gambarlah orang utuh, sebagaimana yang anda temui sehari-hari”.

Pada tes dengan tujuan klinis dan dilakukan secara individual, biasanya instruksi yang diberikan sebatas “gambarlah orang”. 

Sekian artikel tentang Persiapan dan Instruksi Tes Menggambar Orang dalam Psikologi.

Daftar Pustaka
  • Anastasi, A & Urbina, S. 1998. Psychological Testing: 7th ed. 
  • Gregory, Robert.J. Psyhcological Testing:6th edition. Boston: Pearson Education.
  • Widjaja, H. 1987. Proyeksi Kepribadian dalam Gambar Figur Manusia. Bandung:Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Teori dan Sejarah Tes Psikotes Menggambar Orang dalam Psikologi

Teori dan Sejarah Tes Psikotes Menggambar Orang dalam Psikologi - Kepribadian manusia tidak berkembang dalam proses yang singkat. Dimulai dari masa kanak-kanak hingga mati, manusia berkembang dan tumbuh menjadi sosok yang memiliki banyak ide, kemampuan, keterampilan, serta hal lainnya. Pengalaman tersebut di internalisasi dalam diri menjadi nilai-nilai dan semacam blueprint dalam kehidupan manusia. Pengalaman tersebut menjadi motivasi-motivasi individu dalam mencapai tujuannya. Tanpa kita sadari, wujud dari motivasi, atau dorongan kehidupan manusia dapat terlihat dari coretan garis. Hal ini yang menjadi dasar ketertarikan peneliti dimasa awal berkembangnya tes ini seperti Goodenough, Charles Koch, dan Machover.

Telah lama diketahui bahwa individu memperlihatkan aspek-aepek penting dari kepribadian mereka dalam gambar. Yang ditasakan kurang adalah taraf sistematisasi analisa suatu produk grafis yang komprehensif. Machover dalam buku “Proyeksi Kepribadian Melalui Gambar Figur Orang” berusaha untuk menggarsikan suatu metode analisa keprbadian berdasarkan intepretasi.

Kepribadian tidak berkembang dalam suatu vakum, tetapi melalui gerakan, perasaan dan memikirkan suatu badan khusus. Metode proyektif yang menjelajahi motivasi-motivasi telah berulang kali membuka celah-celah ekspresi diri yang tertutup dan mungkin tidak disadari dan tidak dimanifestasikan dalam bentuk terbuka atau komunikasi langsung.

Teori dan Sejarah Tes Psikotes Menggambar Orang dalam Psikologi_
image source: insinyoer.com
baca juga: Persiapan dan Instruksi Tes Gambar Pohon dalam Psikologi

SEJARAH PERKEMBANGAN TES DRAW A PERSON

Tes DAP (Draw A Person) atau juga sering disebut DAM (Draw A Man) merupakan salah satu bentuk alat tes Psikologi yang sering kita jumpai di saat proses assessment psikologi. Tes DAP atau DAM termasuk tes individual yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh praktisi psikologi. Perkembangan tes ini dimulai pada tahun 1926, Laurence Goodenough mengembangkan Draw-A-Man (DAM) Test untuk melihat dan memprediksi taraf kemampuan kognitif anak. Kemmapuan kognitif ini menurut Goodenoguh dapat terlihat melalui kualitas hasil gambarnya. Hal ini dengan asumsin bahwa akurasi dan detail gambar yang dihasilkan menunjukkan tingkat kematangan intelektual anak. DAM test ini dapat digunakan untuk anak usia 3 – 10 tahun.

Selain Goodenough, pada tahun 1948, Buck mengembangkan House-Tree-Person (HTP) Test. Tes ini melibatkan gambar rumah, pohon, dan orang dengan asumsi dari gambar ini dapat memproyeksikan kedekatan kehidupan seseorang. Tahun 1949, Machover mengembangkan Draw-A-Person (DAP) Test, sebagai teknik untuk mengukur kepribadian. Machover mengembangkan sejumlah hipotesis berdasarkan obeservasi klinis dan penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan dengan tingkat self-esteem, penempatan gambar dalam kertas merefleksikan suasana hati dan orientasi sosial seseorang.

TUBUH SEBAGAI ALAT EKSPRESI DIRI

Pada saat individu berusaha menyelesaikan persoalan yaitu tugas menggambar orang, ia dipaksa menggambar dari beberapa sumber. Atribut-atribut tubuh diluar dirinya terlalu bervariasi untuk dapat memunculkan diri sebagai wakil manusia yang spontan dan objektif. Pada saat tertentu ada proses seleksi yang melibatkan identifikasi melalui proyeksi dan introspeksi yang masuk ke dalam. Individu harus menggambar secara sadar dan sudah tentu juga tanpa disadari seluruh system nilai-nilai psikisnya. Tubuh atau “the self” merupakan titik referensi yang paling intim dalam kegiatan apapun, apabila kita mengikuti garis pertumbuhan, maka tampak hubungan berbagai sensasi, persepsi, dan emosi dengan organ-organ tubuh tertentu. Investasi dalam organ-organ tubuh ini, atau persepsi bayangan tubuh yang berkembang melalui pengalaman pribadi harus membimbing individu yang sedang menggambar dalam struktur khusus da nisi yang membentuk “orang”.

Dengan demikian, gambar figure orang yang melibatkan proyeksi bayangan tubuh merupakan suatu sarana alami untuk menyatakan kebutuhan-kebutuhan tbuh dan konflik-konflik seseorang. Intepretasi yang berhasil terhadap gambar telah berlangsung atas dasar hipotesis bahwa figure yang digambar berhubungan dengan individu yang menggambar dengan keakraban sama yang menandai gaya masing-masing individu, tulisan tangannya atau gerakan-gerakan ekspresi lainnya. Teknik analisa kepribadian yang digambarkan berikut ini berusaha untuk menyusun kembali ciri-ciri utama proyeksi diri ini.

Suasana Hati Figur

Pada waktu menterjemahkan bayangan tubuh atau model postural dalam istilah-istilah grafis, apakah produk akhir secara otomatis sesuai degnan ketegangan psikis dan sikap individu. Secara khusus, apakah figure yang digambarkan tampak bahagia, ekspansif, menarik diri, autistik, menyempit, ketakutan, seperti berkelahi atau kurang afeksi? Apakah figure yang digambar nampak kuat atau lemah? Apakah tampak didominasi suatu “orang complex” tertentu? Ini merupakan warna suasan hati atau kecenderungan sentral dan disposisi yang dalam pengalaman machover selalu mencerminkan ketegangan si penggmbar.

Melalui gambar orang, kita bisa mencari tahu suasana hati seseorang dengan memintanya untuk menggambar figure yang mewakili suasana hati mereka. Hal ini dapat dilakukan melalui eksperimen kecil.

Coretan dan Gambar

Pada esensinya, gambar merupakan kumpulan coretan yang memiliki konsep. Gambar/coretan merupakan hasil dari gerakan tangan (motorik kasar dan halus). Gerakan tangan ini dikendalikan oleh sistem syaraf di otak sebagai pusat koordinasi. Sehingga, dengan demikian, kelemahan atau gangguan pada coretan akan mengarahkan perhatian pada kemungkinan gangguan pada otak. Disadari atau tidak, setiap gerakan manusia juga dilatarbelakangi oleh emosinya. Artinya, motorik yang berlangsung pada dasarnya adalah suatu psikomotorik.

Selain coretan yang dibuat sekali diatas kertas, ada kemunkinan lain bahwa coretan-coretan itu diulang berkali-kali pada tempat yang sama diatas kertas gambar. Jika hal ini terjadi maka testee hendak membuat efek bayangan (shadow) pada gambarnya. Jelas bawah perilaku orang menggambar tersebut berkaitan dengan kognisinya, yaitu pengetahuan serta pengalaman tentang bayangan. Namun apabula pengulangan coretan itu dilakukan secara berlebihan dan menghasilkan bagian-bagian yang menghitam (pada gambar), maka perseverasi gerakan yang tampak mengandung intepretasi bahwa vitalitas orang yang bersangkutan juga terikat dan terpaku pada satu penghayatan emosional pada dirinya. Yang pada umumnya berupa kecemasan sebagai afek yang kuat. Penghitaman kertas gambar adalah penyembunyian “sesuatu” yang didalam psikoanalisa dikenal dengan represi. Jadi yang disebut seusatu tadi adalah kecemasan yang akhirnya ditekan.

Simbolik Ruang

Seorang ahli grafologi, Max Pulver menjelaskan bahwa adanya simbloik ruang dalam kertas untuk tes proyeksi. Yaitu zona atas-bawah, kiri-kanan, muka-belakang. Banyak pohon digambar dalam bentuk salib, batang, adanya cabang yang melanjutkan batang dan cabang-cabang lainnya. Salib memperlihatkan adanya atas-bawah, kiri-kanan atau dunia-surga, matter-mind, masa lalu dan masa depan. Hal ini dapat dikatakan sebagai the pre-rational psyche, the archtype “cross”. Sisi kiri kertas dapat diasosiasikan sebagai introversi, dan kanan adalah ekstraversi. Kiri juga dapat diartikan sebagai “inner life”, masa lalu atau hal yang telah dilupakan. Gerakan ke bawah merupakan gerakan kea rah diri sendiri.

ASAL USUL METODE

Sejak jaman dulu, ketertarikan para praktisi psikolog klinis untuk melihat hubungan antara genuis dan gila, serta kemiripan karya seni orang gila dengan karya seni yang dihasilkan orang-orang primitive dan anak-anak. Studi literature menunjukkan bukt adanya usaha-usaha untuk mengklasifikasikan ciri-ciri gambar sesuai dengan kelompok- kelompok psikiatris. Anastasi dan Foley (dalam Widjaja, 1987:20) menyimpulkan diferensiasi melalui gambar hanya dapat dilakukan orang-orangdengan gangguan mental yang berat. Berawal dari hal tersebut, ketertarikan para praktisi untuk melihat apa yang dapat terlihat dari gambar manusia menjadi tinggi. Antusiasme peneliti untuk membuka rahasia yang tidak dapat dilakukan dengan metode penlitian lainnya telah banyak dibicarakan.

Dapat diasumsikan bahwa gambar orang merupakan proyeksi dari self concept, proyeksi individu terhadap lingkungannya, dan ideal self image-nya. DAM juga dapat dikatakan sebagai suatu persepsi berdasarkan hasil pengamatan individu terhadap lingkungannya. Lebih mendalam lagi, DAM dapat menunjukkan ekspresi dari keadaan emosi seseorang. Tidak dipungkiri, bahwa bias pengukurandengan metode ini masih ada, salah satu yang mempengaruhi performa testee adalah sikap testee terhadap tester dan situasi tes tersebut.

RELIABLITAS DAN VALIDITAS TES GAMBAR ORANG

Reliabilitas test-retest DAP berdasarkan skoring kuantitatif dengan menggunakan panduan DAP yang dibuat oleh Harris (1963) didapatkan reliabilitas isi yang sedang (Median r = 0.74). Sedangkan reliabilitas interrater jauh lebih baik, yaitu median 0.90 untuk gambar laki-laki dan 0.94 untuk gambar wanita.

DASAR-DASAR KLINIS

Dalam proses menggambar yang dilakukan individu melibatkan identifikasi melalui proyeksi dan introproyeksi yang masuk ke dalam. Tubuh (the self) merupakan titik referensi yang paling intim dalam kegiatan apapun sehingga gambar orang yang melibatkan proyeksi bayangan tubuh merupakan suatu alat alamiah untuk menyatakan kebutuhan-kebutuhan tubuh dan konflik-konflik seseorang. Berdasarkan pengalaman Machover, “ekspresi” figur yang digambar mencerminkan “feeling tones”.

TES GAMBAR ORANG DIKEHIDUPAN SEHARI-HARI

• Industri dan Organisasi:

Untuk digunakan sebagai bagian dari tes potensi (psikotes) dalam seleksi karyawan

Untuk membuat profil kompetensi, maka metode Assesment Center masih dpat digunakan. Tes gambar orang ini akan menjadi pelengkap yagn penting dalam memberikan informasi mengenai individu.

• Militer : seleksi, klinis, diagnosa, dll

• Sekolah:
  • TK : dapat melihat kesiapan anak untuk sekolah
  • SMA : Penjurusan
  • Kuliah : seleksi, kesesuaian minat dan bakat.
  • Psikolog : Diagnosa gangguan kepribadian > kebutuhan terapi

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TES GAMBAR ORANG

Kelebihan Tes Proyeksi
  • Tes proyeksi dapat menjangkau lapisan-lapisan lebih dalam dari kepribadian, (tidak disadari subyek) 
  • Bersifat ekonomis

Kekurangan
  • Tester harus memiliki keterampilan yang khusus dalam kaitannya dengan ketepatan melakukan diagnosa
  • Tidak se-obyektif dan seakurat tes kognitif
  • Tidak terstrukturnya rangsang memberi kesulitan dalam membuat penilaian
  • Akibat masalah penilaian, kebanyakan tehnik proyeksi tidak memenuhi standar konvensional dari validitas dan reliabilitas


Daftar Pustaka
  • Anastasi, A & Urbina, S. 1998. Psychological Testing: 7th ed. 
  • Gregory, Robert.J. Psyhcological Testing:6th edition. Boston: Pearson Education.
  • Widjaja, H. 1987. Proyeksi Kepribadin Manusia dalam Gambar Orang. Bandung:Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran