Archive for the 'Psikologi Keluarga' Category
July 31st, 2010 by yahdillah
shutterstock Ilustrasi
Kompas.com - Di usia balita, bukan hanya kebutuhan gizi saja yang wajib menjadi perhatian para orangtua. Inilah saat yang paling tepat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang karena dampaknya akan terus terbawa hingga dewasa.
Meski bayi belum dapat membalas ucapan ayah ibunya, ia dapat menangkap rasa cinta yang disampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dan, ekspresi cinta yang ditangkapnya akan menjadi modal baginya untuk mengembangkan kekuatan emosional yang kelak membantunya mengatasi stres.
Continue reading ‘Cinta Ibu Menentukan Watak Anak’
February 4th, 2010 by yahdillah
Mantan Ketua komite fatwa Al-Azhar, Syaikh Abdul Hamid Al-Atrash, pada hari rabu kemarin (3/2) mengeluarkan pernyataan yang mengharamkan situs jejaring sosial terkenal Facebook, setelah meningkatnya angka perceraian dan semakin tersebarnya perzinahan yang merupakan efek dari situs tersebut.
Syaikh Al-Atrash menekankan bahwa masuk dan bergabung dalam situs jejaring sosial Facebook sangat berbahaya untuk masyarakat umum, khususnya warga Arab dan negara-negara Islam yang memiliki tingkat spesifitas tinggi.
Continue reading ‘Facebook Haram?’
December 7th, 2009 by yahdillah
Telat nikah hingga jadi “perawan tua” boleh ajdi bukan pertanda kegagalan emosional. Sebab banyak faktor kenapa orang menjadi perwan tua. Ada sebagian orang awam berpendapat bahwa “perawan tua” memiliki masalah dengan emosi, suka pilih-pilih, kurang pergaulan, wanita karir, kena kutukan karena suka menolak, terlalu high standart dan macam-macam. Tentu pendapat itu tidak memiliki dasar yang argumentatif. Masih banyak sebab kenapa seseorang belum juga menikah. Terutama untuk wanita, faktanya komposisi jumlah usia nikah juga mulai timpang, yaitu 1 laki-laki berbbanding 3 perempuan, tentu ini juga bukan alasan untuk poligami apalagi tidak mungkin orang menikah dalam waktu serentak. Oleh karena itu kita perlu melihat sisi lain dari fenomena ini “menunda perkawinan”, atau bisa jadiĀ menunda kebahagiaan?
detik.com melansir hasil penelitian di Villanova, AS, Menurut hasilnya seseorang yang masih melajang hingga umur 40-an tahun selalu mendapat pertanyaan kenapa tidak menikah. Bukannya tak mau menikah, tapi mereka sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya. Meski studi sudah membuktikan bahwa menikah baik untuk kesehatan, tapi ada hal lain yang ternyata membuat seseorang betah menjomblo.
Continue reading ‘Belum Nikah Sampai 40 Tahun Pertanda Punya Mental Sehat’
July 2nd, 2009 by yahdillah
Oleh Althaf pada Rabu 01 Juli 2009, 08:19 AM
JAYAPURA - Pemerhati Masalah Perempuan, Asri Supatmiati di Jayapura, Rabu (1/7) menyatakan, gagasan kesetaraan jender yang saat ini banyak diusung kaum feminis ternyata hanya menciptakan jalan untuk mengeksploitasi para perempuan.
“Para feminis ini menghendaki agar kaum perempuan diberi hak-hak yang setara dengan laki-laki dengan menghilangkan diskriminasi,” ujarnya.
Continue reading ‘Kesetaraan Jender Ternyata Ciptakan Eksploitasi Terhadap Perempuan’
June 8th, 2009 by yahdillah
Gejala pergaulan bebas yang sudah menjadi model kehidupan masyarakat belakangan ini, telah memposisikan Indonesia berada dalam cengkraman kejahatan seks bebas yang merupakan ikutan dari politik global.
Pernyataan ini disampaikan dr Rini dari Forum Muslimah untuk Indonesia Sehat dalam diskusi interaktif Kesehatan Reproduksi Remaja di kampus Universitas Islam Bandung (Unisba). Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam pencegahan perkawinan dini atau usia muda yang masih diberlakukan hingga sekarang, menjadi salah satu faktor pemicu masuknya kejahatan seks bebas.
Continue reading ‘Seks Bebas di Usia Dini atau Nikah Dini?’
March 23rd, 2009 by yahdillah
Banyak cara mencari calon pandangan. Ada metode primitif seperti: gendam, pelet, perdukunan, perbintangan zodiak, dan wethon Kalender Jawa,. Ada methode syariah seperti istikharah, perjodohan oleh orang tua, memilih berdasarkan kriteria (agama, kecantikan, keturunan dan kekayaan)S. Atau Ada juga yang menggunakan metoda psikologi. Tidak semua ilmu psikologi tepat untuk memilih jodoh, sebab tidak jarang teori tersebut hanya memotret yang tahu dan lebih banyak memotret ketidaktahuan.
Berikut salah satu contohnya.
Continue reading ‘Tipe Kepribadian calon?’
March 23rd, 2009 by yahdillah

Saat mencari pasangan, kita cenderung hanya melihat segala sesuatu yang tampak dari luar. Soal penampilan, misalnya, kita ingin pria berkulit putih, jangkung, atau berambut cepak. Bila membahas soal sifat pun, hanyalah yang tampak di permukaan. Misalnya, ramah, senang bercanda, atau perhatian.
Ketika hubungan telah terbina, kita akan menyadari bahwa kepribadian seseorang akan lebih kompleks daripada yang kita bayangkan. Apa yang tampak dari luar tidak menjamin apakah hubungan Anda akan langgeng atau tidak. Akan lebih baik jika Anda mengenali lebih dulu tipe kepribadian Anda dan pasangan.
Continue reading ‘Kepribadian calon pasangan?’
March 23rd, 2009 by yahdillah
Pernikahan di era kapitalisme tidak lagi sakral dengan nuansa cinta dan kasih. Kini berkembang nikah adalah status saja daripada melajang. Potret pernikahan kelas menengah di kota besar dapat dilihat dari potret media kompas 23 maret 2009 yang membidik berita di bawah ini.
Bisa dibayangkan betapa nikah menajdi semakin sulit bagi mereka yang belum mapan, padahal gairah seksual mungkin sudah membuncah. Apa yang akan terjadi, jika menikah selalu ditunda dengan alasan kemapanan? ya perjinahan, HTS (Hubungan tanpa status), dan happy funs.
Continue reading ‘Mapan dulu, baru menikah?’
March 13th, 2009 by yahdillah
Bukan cuma surga yang berada di kaki ibu, tetapi juga “sekolah kehidupan”. Jika anda ibu yang sadar fungsi dan perannya…akan merasa menyesal tidak sempat menjadikan buaian anda sebagai sekolah terbaik bagi putra-putri anda. Andakah ibu yang dinantikan jaman edan seperti sekarang ini?
Peran ibu dalam mendidik anak memang lebih besar ketimbang seorang ayah.
Riset terbaru di AS menunjukkan anak yang dirawat ayah berusia lebih matang, tidak begitu memiliki otak cemerlang semasa kanak-kanak. Sebaliknya, anak di bawah pangkuan atau didikan ibu yang lebih matang, akan mempunyai otak lebih cemerlang.
Continue reading ‘Ibu: sekolah utama orang-orang sukses’