Archive for the 'Psikologi Politik' Category

Stephen Hawking: Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan

NASA/Paul E. Alers

Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

“Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada,” tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

Continue reading ‘Stephen Hawking: Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan’

Mengapa Kita Tak Ingat Saat Dilahirkan?

shut

Kompas.com - Otak manusia memiliki kapasitas memori ribuan kali lebih tinggi dari komputer paling canggih yang ada saat ini. Massa abu-abu (gray matter) merupakan alat penyimpanan yang sangat bisa diandalakan. Namun, mengapa kita tidak bisa mengingat masa balita atau saat pertama kita lahir ke dunia?

Jangankan saat dilahirkan, otak kita juga tak bisa mengingat masa-masa ketika kita masih bayi atau balita. Ternyata sekeras apa pun kita berusaha, ingatan kita hanya bisa kembali sampai saat kita berusia 4-5 tahun.

Continue reading ‘Mengapa Kita Tak Ingat Saat Dilahirkan?’

Awas: Potensi Bara Revolusi Tanpa Arah!

Selasa, 16/02/2010 13:39 WIB Foto: Kompas.com

Aksi jalanan yang merupakan bentuk kekecewaan, yang diikuti puluhan ribu massa dari berbagai elemen gerakan yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, yang menandai 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Aksi yang berlangsung bulan kemarin itu, adalah kumpulan massa yang cair dari berbagai arus kepentingan dan dengan latarbelakang ideologi. Mulai dari kelompok kiri (sosialis) hingga aliansi aktifis Islam semua tumpah ruah.

Aksi ini serempak berlangsung di 30 kota-kota di Indonesia, dari ujung barat Indonesia (Aceh) hingga kawasan Timur Indonesia (Ambon, Maluku). Aksi ini adalah kesekian kali dari aksi-aksi sebelumnya yang menyuarakan ketidakpuasaan atas berbagai kasus sosial politik dan hukum yang menilai pemerintahan SBY-Boediono sangat lamban bahkan lemah. Lebih dari itu menempatkan presiden terpilih SBY, sebagai troubel maker (sumber masalah) dari berbagai persoalan kebangsaan yang mengusik nurani dan rasa keadilan rakyat.

Continue reading ‘Awas: Potensi Bara Revolusi Tanpa Arah!’

Seks Online Makin Akrab dengan Anak-anak


ilustrasi (ist) Salah satu sisi kelam dunia internet, yakni hal-hal berbau cabul nampaknya makin akrab dengan anak-anak di sepanjang tahun 2009 ini.

Ini terlihat dari hasil penelitian vendor keamanan Symantec, yang mengungkap 100 topik pencarian paling populer tahun ini di kalangan anak-anak anak usia 13-18 tahun.

Continue reading ‘Seks Online Makin Akrab dengan Anak-anak’

Inferiority Complex Syndrom mendera Pimpinan Partai-partai islam

Sebenarnya meski parata-partai islam memperoleh rangking 4 dst, Partai Islam (paris) secara kumulatif relatif stabil sejak dahulu, yaitu sekitar 29-33% saja.

Sekarang juga sama saja.

Yang disesali adalah:

- belum apa-apa paris sudah langsung mau merapat ke partai sekular-nasionalis seperti demokrat, pdip, golkar, gerindra, hanura, bahkan koalisi blok S jelas-jelas juga telah melakukan koalisis dengan partai kafir seperti PDS. Jadi yang kita khawatiri adalah paris itu secara de jure berkoalisi bersama kekufuran.

Continue reading ‘Inferiority Complex Syndrom mendera Pimpinan Partai-partai islam’

Partai Sekuler Menang, Investor Puas

Agak aneh juga..apa hubungannya invesotr dengan sekulerisme? jika benar bahwa para investor anti kepada partai islam, berarti demokrasi kita mencirikan: 1)benar-benar menyukai model demokrasi ala barat yang sekuler, 2) para investor telah melakukan intervensi melalui investasi politik, berbarti diduga kuat ada setoran uang kepada partai politik yang sekarang ini memenangi pemilu, 3) investor menyukai  demokrasi berorientasi pasar bebas dan kapiltasme pasar, karena dengan demikian akan semakin mengokohkan penguasaan pada aset-aset publik menjadi aset swasta yang selama ini telah DIJUAl oleh partai-partai politik 2004-2009 dengan backing UU Migas, UU AIr, UU PLN, UU Pendidikan, UU Kehutanan, dan UU lainnya yang meberikan keleluasaan pengusaha asing untuk,  menguasai kekayaan Indonesia, 4) para investor menaydari benar bahwa partai-partai islam adalah ancaman atas bisnis liar mereka. Karena ajaran Islam telah mengharamkan secara tegas bahwa penguasaan asset publik, seprti hutan, mineral, energi, air, tanah, hutan, langit oleh individu, pengusaha apalagi asing.

Continue reading ‘Partai Sekuler Menang, Investor Puas’

Demokrasi versi Jusuf Kalla

Jusuf Kalla: Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Isteri: Ny. Mufidah Jusuf (Lahir di Sibolga, 12 Februari 1943) Anak: 1. Muchlisa Jusuf, 2. Muswirah Jusuf, 3. Imelda Jusuf, 4. Solichin Jusuf, 5. Chaerani Jusuf. Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Pekerjaan 2004- sekarang : Wakil Presiden Republik Indonesia 2001 - 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI 1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla 1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa 1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama 1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama 1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa 1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International Organisasi 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan 1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz 1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS 1988 - 2001 : Anggota MPR-RI 2004-sekarang : Ketua Umum DPP Partai Golkar
-Jusuf Kalla

Banyak orang yang meng-agung-agungkan sistem demokrasi yang dimiliki oleh negara barat, dalam hal ini Amerika dan Eropa. katanya dia adalah salah satu contoh negara demokrasi yang efektif. Tapi menurut saya, negara Amerika yang dikatakan sebagai negara paling Demokratis di dunia justru sebenarnya tidak demokratis juga. kalau mau melihat defenisi dari demokrasi; adalah persaudaraan, persamaan, kemerdekaan, atau demokrasi ialah dari rakyat untuk rakyat. Tapi apa yang terjadi di Amerika pada tahun 50-60 an, kalau anda berkulit hitam, setiap kali naik bis anda harus tau diri, tempat anda di belakang! Tidak akan ada fenomena Obama pada tahun itu, sehebat apa-pun yang namanya Obama, dia tidak akan muncul ke permukaan.

Continue reading ‘Demokrasi versi Jusuf Kalla’

Banyak Caleg (Calon Legislatif) dan Cakil (Calon Wakil) bakal jadi Cagil: Calon Gila

Tahukah anda bahwa DEMORAL (demokrasi liberal) hanya cocok untuk mereka yang super kaya? Maka di sleuruh negara DEMORAL hanya orang-orang kaya saja yang bisa masuk ke kursi dewan. Tengok saja imperium kapitalis Amerika yang hanya diisi oleh senator legislator  yang milyarder atau diback up oleh pebisnis milyarder atau digarap oleh para pelobby untuk kepentingan Yahudi.

Jadi kalao demokrasi di Indonesia selalu membebek kepada sistem Amerika, pelan tapi pasti hanya akan menyediakan kursi dan jabatan kepada mereka yang sama dengan kaum borjuis (mudhrofin). Tengok saja biaya kampanye mereka yang rata-rata untuk tingkat DPRD II sekitar Rp.200-300 juta, DPRD I mencapai Rp.500-700juta, DPR Pusat/DPD sekitar Rp1-2 milyard, sedangkan untuk presiden minimal Rp.1-2 Trilyun. Padahal DEMORAL yang masih belia diadopsi tidak selaras dengan kesipan para Cakil (Caleg) karena baru tahap belajar “BETAPA MAHALNYA DEMOKRASI KITA”. Faktanya  mereka belum tentu memiliki sumber daya materi memadai.

Continue reading ‘Banyak Caleg (Calon Legislatif) dan Cakil (Calon Wakil) bakal jadi Cagil: Calon Gila’

Perubahan Hakiki Tidak Akan Pernah Terjadi Melalui Demokrasi

Bukti sejarah memperlihatkan bahwa perubahan mendasar tidak ada yang betrhasil melalui proses demokrasi. Semua perubahan–apalagi perubahan sistemik–selalu ditandai dengan kebangkitan berpikir oleh sekelompok intelektual. Membangun visi besar, melahirkan generasi pertama yang ideologis, dan akhirnya merealisasikannya melalui lompatan-lompatan besar gerakan. Itulah yang terjadi dengan Futuh Mekah, Revolusi Prancis, Revolusi Bolsevik, dan Revolusi Syiah Iran.

bahkan dalam tataran dalam negeri kita mengenal Revolusi Kemerdekaan, Peristiwa Orde Lama ke Orde Baru, dan Orde Baru kepada Orde Reformasi Liberal.Dari semua fakta sejarah demokrasi hanyalah tunggangan pasca revolusi, yang umumnya melahirkan para politikus kesiangan, pemimpin yang lahir dari kotak-kotak suara melalui rayuan dan tipuan atas nama mayoritas.

Continue reading ‘Perubahan Hakiki Tidak Akan Pernah Terjadi Melalui Demokrasi’

Demokrasi yang memiskinkan Rakyat

Pemilu kali ini memang terkesan “sangat liberal”, pujian bangsa penjejah seperti Amerika beserta LSM kompradornya menyatakan Indonesia adalah negara dengan demokrasi terbesar ketiga.

Heran!, pujian para poliTIKUS dan pengamat tersebut berbeda dengan apa yang dirasakan rakyat kebanyakan.  Apalagi dengan data kemiskinan yang kelewat besar. Negara kita oleh PBB terkategori sebagai negara gagal, dengan nomor urut 55 sebagai negara miskin.

NAch kenapa demokrasi yang dipilih? mahal lagi!

Continue reading ‘Demokrasi yang memiskinkan Rakyat’