<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>ILMU PSIKOLOGI INDONESIA</title>
	<atom:link href="http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ilmupsikologi.com</link>
	<description>Ilmu Psikologi, Jurnal Psikologi, Artikel Psikologi</description>
	<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 16:00:34 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7-RC1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cinta Ibu Menentukan Watak Anak</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=711</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=711#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 15:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>

		<category><![CDATA[masa kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[ shutterstock   				  		   				  		   						Ilustrasi
Kompas.com - Di usia balita, bukan hanya kebutuhan gizi saja yang wajib menjadi perhatian para orangtua. Inilah saat yang paling tepat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang karena dampaknya akan terus terbawa hingga dewasa.
Meski bayi belum dapat membalas ucapan ayah ibunya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/03/26/1039345p.jpg" alt="" /> shutterstock   				  		   				  		   						Ilustrasi</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kompas.com - </strong>Di usia balita, bukan hanya kebutuhan gizi saja yang wajib menjadi perhatian para orangtua. Inilah saat yang paling tepat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang karena dampaknya akan terus terbawa hingga dewasa.</p>
<p>Meski bayi belum dapat membalas ucapan ayah ibunya, ia dapat menangkap rasa cinta yang disampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dan, ekspresi cinta yang ditangkapnya akan menjadi modal baginya untuk mengembangkan kekuatan emosional yang kelak membantunya mengatasi stres.</p>
<p><span id="more-711"></span></p>
<p>Karena itulah, para pakar menilai ikatan batin antara ibu dan anak menjadi kunci yang menentukan apakah seseorang akan tahan uji melewati berbagai fase kehidupan. Namun, sikap kasih sayang yang ditunjukkan secara berlebihan juga tidak disarankan karena bisa membuat anak merasa terganggu dan malu, terutama ketika anak mulai beranjak besar.</p>
<p>&#8220;Kasih sayang yang dicurahkan orangtua kepada anak bukan hanya mengurangi stres, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan sosialnya yang kelak membantunya di usia dewasa,&#8221; kata Dr Joanna Maselko.</p>
<p>Dalam risetnya, Maselko dan timnya mengamati 500 orang di Amerika sejak mereka bayi hingga dewasa. Ketika para responden itu masih bayi, peneliti menilai respons ibu mereka terhadap emosi dan kebutuhan anak. Misalnya menilai apakah terdapat interaksi yang hangat antara keduanya.</p>
<p>Tiga puluh tahun kemudian, para peneliti meminta para responden yang kini sudah dewasa itu untuk mengikuti survei mengenai emosi dan perasaan. Ternyata, responden yang dilimpahi kasih sayang oleh ibunya mampu mengatasi tekanan hidup secara lebih baik. Mereka juga mampu mengatasi kecemasan dan emosi negatif.</p>
<p>Dr Terri Apter, psikolog dari Cambridge yang sering melakukan studi mengenai hubungan ibu dan anak, mengatakan, orangtua harus bersikap responsif terhadap kebutuhan anak. &#8220;Setiap bayi lahir tanpa tahu bagaimana mengatur emosi mereka. Mereka mempelajari emosi dari kesusahan dan juga ketenangan yang didapatnya,&#8221; katanya.</p>
<p>Ibu yang responsif, lanjut Terri, paham apakah perhatian yang diberikannya sudah cukup atau kurang. &#8220;Ibu yang responsif bukan cuma tahu kapan harus memberi perhatian, tetapi juga kapan harus menjaga jarak,&#8221; ujarnya. (kompas.com)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=711</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Tak Ingat Saat Dilahirkan?</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=708</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=708#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 15:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Politik]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Spiritual]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[bayi]]></category>

		<category><![CDATA[ingatan]]></category>

		<category><![CDATA[lahir]]></category>

		<category><![CDATA[memory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[
 shut
Kompas.com - Otak manusia memiliki kapasitas memori ribuan kali lebih tinggi dari komputer paling canggih yang ada saat ini. Massa abu-abu (gray matter) merupakan alat penyimpanan yang sangat bisa diandalakan. Namun, mengapa kita tidak bisa mengingat masa balita atau saat pertama kita lahir ke dunia?
Jangankan saat dilahirkan, otak kita juga tak bisa mengingat masa-masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/30/1208092620X310.jpg" alt="" width="650" /> shut</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kompas.com - </strong>Otak manusia memiliki kapasitas memori ribuan kali lebih tinggi dari komputer paling canggih yang ada saat ini. Massa abu-abu (gray matter) merupakan alat penyimpanan yang sangat bisa diandalakan. Namun, mengapa kita tidak bisa mengingat masa balita atau saat pertama kita lahir ke dunia?</p>
<p>Jangankan saat dilahirkan, otak kita juga tak bisa mengingat masa-masa ketika kita masih bayi atau balita. Ternyata sekeras apa pun kita berusaha, ingatan kita hanya bisa kembali sampai saat kita berusia 4-5 tahun.</p>
<p><span id="more-708"></span></p>
<p>Mengapa demikian? Salah satu teori menyebutkan hal ini karena faktor mielin, lapisan pelindung saraf yang membantu penghantaran sinyal-sinyal otak. Nah, sebelum berusia 5 tahun, mielin dalam otak bayi masih sangat sedikit. &#8220;Mielin sangat penting untuk menjaga ingatan jangka panjang,&#8221; kata Jonathan Schooter, PhD, ahli psikologi dari University of British Columbia.</p>
<p>Teori lain menyebutkan, begitu kita mulai belajar berbicara, kita tidak bisa lagi mengakses ingatan yang tercipta pada masa kita belum lancar berbicara. &#8220;Dengan makin berkembangnya kemampuan berbahasa seorang anak, cara ia berpikir juga akan berubah sehingga diduga lebih sulit untuk mengingat ingatan masa sebelumnya,&#8221; katanya. (kompas.com)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=708</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hebat atau Fiktif? 70 tahun berpuasa</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=705</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=705#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 01:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Psikologi Kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Lintas Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Nilai]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Spiritual]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Pria Tidak Makan dan Minum 70 Tahun


New Delhi: Seorang pria India yang sudah berusia 82 tahun mengaku tidak makan dan minum selama 70 tahun. kemampuan Prahlad Jani bertahan tanpa makanan dan minuman menarik perhatian Militer India untuk menelitinya.
Kini Prahlad Jani berada di ruang isolasi sebuah Rumah Sakit di Ahmedabad, Gurjarat dan diawasi ketat oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: justify;">Seorang Pria Tidak Makan dan Minum 70 Tahun</h1>
<p style="text-align: justify;"><cite><br />
</cite></p>
<p style="text-align: justify;">New Delhi: Seorang pria India yang sudah berusia 82 tahun mengaku tidak makan dan minum selama 70 tahun. kemampuan Prahlad Jani bertahan tanpa makanan dan minuman menarik perhatian Militer India untuk menelitinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Prahlad Jani berada di ruang isolasi sebuah Rumah Sakit di Ahmedabad, Gurjarat dan diawasi ketat oleh tim dokter. Jani sudah berada di rumah sakit itu selama 6 hari tanpa makan dan minum, dan dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda-tanda Jani mengalami kelaparan dan dehidrasi.</p>
<p><span id="more-705"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Prahlad Jani mengaku telah meninggalkan rumah sejak umur 7 tahun dan hidup sebagai pengembara Sadhu atau orang suci di Rajasthan. Jani disebut sebagai breatharian yang dapat hidup sendiri secara spiritual.</p>
<p style="text-align: justify;">Jani meyakini hidupnya telah ditopang oleh seorang dewi yang menuangkan ramuan gaib melalui langit-langit mulutnya. Pengakuan Jani ini didukung oleh seorang dokter India yang ahli dalam bidang studi tentang orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural.</p>
<p style="text-align: justify;">Pihak militer India tampaknya tertarik untuk mempelajari ilmu Prahland Jani dan berharap bisa diterapkan pada anggota pasukannya atau pada korban bencana sebelum bantuan tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika klaim itu bisa diverifikasi, itu akan menjadi terobosan dalam ilmu kedokteran,&#8221; kata Dr G. lavazhagan, Direktur Ilmu Fisiologi &amp; Ilmu Terpadu, Institut Pertahanan. &#8220;Kita bisa mendidik masyarakat tentang teknik-teknik bertahan hidup dalam kondisi buruk dengan sedikit makanan dan air atau tidak sama sekali&#8221; tambahnya</p>
<p style="text-align: justify;">Di India memang sudah menjadi hal yang umum bagi umat Hindu menjalankan puasa tanpa makan dan minum bahkan selama delapan hari penuh. Secara teori, manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 50 hari. (MLA)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=705</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rasa Kesepian Menular</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=694</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=694#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 06:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi waktu]]></category>

		<category><![CDATA[kesepian]]></category>

		<category><![CDATA[merasa kesepian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[


Bila ada satu individu yang merasa dirinya kesepian, maka individu lain yang berada dalam kelompok akan tertular. Demikian hasil riset terbaru yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology di Amerika Serikat baru-baru ini.Riset itu menjaring 5,100 orang dan kelompok sosial mereka selama 10 tahun.
Berdasarkan hasil riset, peneliti menemukan fakta dimana rasa kesepian bisa menular [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<h2 style="text-align: justify;"><a title="Riset AS: Rasa Kesepian itu Menular" href="http://www.republika.co.id/berita/94939/riset-rasa-kesepian-itu-menular"><img class="alignnone" title="Kesepian" src="http://www.republika.co.id/filez/imagecache/headline/news/2009/12/20091210110732.jpg" alt="" width="360" height="260" /><br />
</a></h2>
<p>Bila ada satu individu yang merasa dirinya kesepian, maka individu lain yang berada dalam kelompok akan tertular. Demikian hasil riset terbaru yang diterbitkan Journal of Personality and Social Psychology di Amerika Serikat baru-baru ini.Riset itu menjaring 5,100 orang dan kelompok sosial mereka selama 10 tahun.<span id="more-694"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan hasil riset, peneliti menemukan fakta dimana rasa kesepian bisa menular diikuti dengan pemutusan hubungan dengan lingkungan sosial dan menyusuri situs jejaring sosial sebagai medium mencari teman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pada lingkungan terluar, masyarakat hanya memiliki sedikit teman, dan rasa kesepian membuat mereka kehilangan sejumlah hubungan,&#8221; tukas John Cacciopo, Psikolog asal Universitas Chicago.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menambahkan, sebelum sesesorang merasa kesepian, dirinya sedang menjalani sebuah hubungan, lalu apa yang dirasakanya menyebar dan menulari teman-temannya yang juga ikut merasakan kesepian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Efek ini dapat diartikan apa yang terjadi dalam diri kita berpegaruh terhadap orang lain, layaknya benang wol yang sambung-menyambung dalam sebuah pakaian hangat,&#8221; jelas Cacioppo.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski begitu, sekalipun riset berdasar pada catatan sejarah hubungan sukarelawan termasuk informasi yang menyebabkan rasa kesepian, riset tidak menjangkau pembentukan pola infeksi yang disebabkan perasaan kesepian hingga berpengaruh pada kelompok sosial dimana sukarelawan bersosialisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, selain menulari kelompok sosial terdekar, perasaan kesepian juga menulari tetangga sebelah dan teman dekat mereka di linkungan itu. Berdasarkan catatan cacciopo, lamanya penularan membutuhkan waktu seminggu. Kejadian ini menandakan pola penularan sangat dipengaruhi intensitas pertemuan bersama tetangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Riset yang didanai oleh National Institute on Aging, juga menemukan fakta bahwa perempuan cenderung mudah dihinggapi rasa kesepian ketimbang pria, hal ini disebabkan pertimbangan sugesti bahwa perempuan cenderung emosional ketimbang pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Riset juga menyebutkan dari sebagian masyarakat yang merasakan kesepian tidak menaruh kepercayaan pada orang sekitar, dan hal itu menghambat kemampuan mereka saat menjalin hubungan pertemanan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masyarakat mungkin mendapatkan keuntungan dengan berhubungan di luar orang terdekat untuk membantu pola interaksi sosial dan bisa menjaga mereka dari perasaan kesepian yang bisa menganggu hubungan sosial mereka yang kusut,&#8221; saran Cacioppo.</p>
<p style="text-align: justify;">Guna mendalami hasi riset, peneliti terus mengamati sukarelawan selama 2 atau 4 tahun. (republika.co.id)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=694</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan Amerika menyalahkan Darwinisme</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=690</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=690#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 07:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[Charles Darwin]]></category>

		<category><![CDATA[Darwinisme]]></category>

		<category><![CDATA[evolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[Tiap tanggl 12 Februari selalu diperingati hari  ulang tahun Darwin tetapi sekaligus perayaan kekeliruan teori evolusinya.
Kali ini bukan dari cendekiawan pendukung penciptaan, bukan pula ilmuwan terkemuka pembela perancangan cerdas. Mereka ini tetap teguh meyakini evolusi, dan ilmuan materialis. Namun mereka tidak mau tunduk pada tokoh yang nyaris dituhankan, Charles Darwin, dan menghadiahkan bantahan ilmiah berupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiap tanggl 12 Februari selalu diperingati hari  ulang tahun Darwin tetapi sekaligus perayaan kekeliruan teori evolusinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini bukan dari cendekiawan pendukung penciptaan, bukan pula ilmuwan terkemuka pembela perancangan cerdas. Mereka ini tetap teguh meyakini evolusi, dan <a href="http://www.evolutionnews.org/2010/02/what_darwin_got_wrong_intellig.html" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/www.evolutionnews.org');">ilmuan materialis</a>. Namun mereka tidak mau tunduk pada tokoh yang nyaris dituhankan, Charles Darwin, dan menghadiahkan bantahan ilmiah berupa buku yang mendobrak darwinisme di bulan Februari 2010 ini. Mereka adalah para ilmuwan Amerika Serikat (AS), yakni profesor filsafat <a href="http://ruccs.rutgers.edu/faculty/Fodor/cv.html" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/ruccs.rutgers.edu');">Jerry Alan Fodor</a> asal Rutgers University dan profesor ilmu kognitif <a href="http://dingo.sbs.arizona.edu/~massimo/" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/dingo.sbs.arizona.edu');">Massimo Piattelli-Palmarini</a> dari the University of Arizona.</p>
<p><a href="http://www.ilmupsikologi.com/wp-content/uploads/2010/02/darwin-salah.jpg" ><img class="alignnone size-full wp-image-691" title="darwin-salah" src="http://www.ilmupsikologi.com/wp-content/uploads/2010/02/darwin-salah.jpg" alt="darwin-salah" width="300" height="208" /></a>Di bulan perayaan ulang tahun sang bapak teori evolusi, Charles Darwin, tepatnya 12 Februari, kedua ilmuwan itu meluncurkan sebuah buku berjudul<a href="http://www.amazon.com/gp/product/0374288798?ie=UTF8&amp;tag=discoveryinsti06&amp;linkCode=as2&amp;camp=1789&amp;creative=390957&amp;creativeASIN=0374288798" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/www.amazon.com');"> <em>&#8220;What Darwin Got Wrong&#8221;</em></a><em> </em>(Apa Kekeliruan Darwin). Sang penulis yakin bahwa pola penyesuaian diri atau model adaptasi ala Darwin sama sekali cacat. Dengan kata lain teori yang mengajarkan adanya mutasi genetis acak pada makhluk hidup, yang kemudian tersaring melalui seleksi alamiah, dan menghasilkan sifat-sifat yang menguntungkan dalam hal kemampuan bertahan hidup dalam lingkungan tertentu adalah salah kaprah.</p>
<p><span id="more-690"></span></p>
<p>Meski bukan dalam rangka menolak teori evolusi sama sekali, bahkan membenarkannya, karya kedua penulis itu setidaknya termasuk yang jujur mengenai kekeliruan-kekeliruan teori evolusinya Charles Darwin. Hal ini ditegaskan Stuart Newman, profesor sel biologi dan anatomi di New York Medical College, ketika mengulas buku itu:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan. Karya berani Jerry Fodor dan Massimo Piattelli-Palmarini, <em>What Darwin Got Wrong</em>, secara meyakinkan memperlihatkan bahwa seleksi alam bukanlah teori itu. Dengan menggunakan literatur ilmiah yang merambah cakupan molekuler, perilaku dan kognitif, dengan penjelajahan yang piawai memasuki biologi perkembangan-evolusi dan fisika sistem rumit, penulis melakukan pembongkaran filosofis terhadap model baku perubahan evolusi yang cenderung tak dapat dikembalikan lagi. Landasan berpijak mereka yang jelas dalam hal kebenaran fakta evolusi menjadikan karya ini berjasa bagi ilmu pengetahuan dan sebuah kemunduran bagi para penentangnya.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Itulah sebuah ulasan apa adanya dari kacamata ilmuwan yang terkungkung teori evolusi. Namun jika ditilik dari sisi lain, dari sudut pandang di luar tempurung dogma evolusi, sungguhlah menarik untuk tidak menelan mentah-mentah begitu saja pernyataan Stuart Newman di atas. Sebab bagaimana mungkin &#8220;evolusi dinyatakan sebagai fakta kebenaran&#8221; tapi di saat yang sama diakui bahwa &#8220;evolusi masih belum memiliki teori meyakinkan&#8221; untuk menjelaskan proses perubahan pada makhluk hidup, hingga saat ini? Bagaimana mungkin mengamini bahwa &#8220;seleksi alam bukanlah teori&#8221; yang mendorong terjadinya evolusi, tapi pada saat yang sama menyatakan &#8220;itu adalah sebuah kemunduran bagi penentang evolusi&#8221;?</p>
<p>Namun hal di atas tidaklah aneh bagi mereka yang mencermati sejarah teori evolusi, yang menelaah bagaimana beragam kekeliruan, pemalsuan, kebohongan dan kecurangan yang dilakukan atas nama teori evolusi, kemudian dibuktikan keliru oleh kalangan evolusionis itu sendiri. Akan tampak bahwa seringkali ilmuwan evolusionis mengakui bahwa teori ini dan itu memang keliru, fosil ini dan itu palsu, serta penjelasan ini dan itu salah. Tapi untuk mengakui bahwa teori evolusi salah sama sekali, sungguh sulit, mengingat teori ini sudah menjadi dogma asas tunggal yang melekat kuat pada diri mereka dan harus dibenarkan terlebih dahulu. Bukti dicari belakangan.</p>
<p>Kalau bukti-bukti itu diketahui salah kaprah di kemudian hari, maka silat lidah alias permainan kata-kata menjadi jurus pamungkasnya demi menjaga tegaknya evolusi: &#8220;mata rantainya masih hilang dan belum ketemu&#8221;, atau seperti ulasan mengenai buku di atas &#8220;Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan&#8230;&#8221;</p>
<p>Apa artinya?  Jelas bahwa evolusi bahkan bukan lagi sebuah teori, tapi dogma yang kehilangan teori untuk menjelaskannya. Teori seleksi alam ala Darwin sudah diambrukkan oleh evolusionis sendiri. Menariknya lagi, dogma evolusi ini (tanpa embel-embel &#8220;teori&#8221; lagi) tetap dipertahankan sembari mencari-cari teori penjelasannya dengan tujuan &#8220;agar diterima masyarakat&#8221;. Ilmiahkah? Teori ilmiah adalah teori yang muncul dan dibenarkan karena mengikuti bukti yang ada. Dengan kata lain arah kebenaran itu ditentukan dan diarahkan oleh ada tidaknya bukti. Buktilah yang mengarahkan kebenaran dan bukannya malah &#8220;agar menang dan diterima oleh masyarakat&#8221;.</p>
<p>Apa artinya? Artinya teori evolusi adalah teori yang tegak dan kokoh selama masyarakat luas mempercayainya, meskipun tanpa bukti atau bukti palsu dan penuh rekayasa. Kekhawatiran evolusionis akan semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap evolusi menjadi pertanda jelas, betapa evolusi adalah dogma kosong tanpa bukti.</p>
<p>Mengembalikan keimanan masyarakat pada evolusi menjadi kebutuhan pokok evolusionis di satu sisi, namun ketiadaan bukti ilmiah dan ketidakberadaan teori masuk akal menjadi kendala mengenaskan di sisi lain. Untuk memecahkan permasalahan besar ini, tidak mengherankan jika sepanjang sejarah evolusionis mencari jalan keluar dengan cara-cara tercela dan tidak ilmiah. Namun beruntung masih ada pengakuan-pengakuan evolusionis jujur seperti karya<a href="http://ruccs.rutgers.edu/faculty/Fodor/cv.html" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/ruccs.rutgers.edu');"> Jerry Alan Fodor </a>dan <a href="http://dingo.sbs.arizona.edu/~massimo/" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/dingo.sbs.arizona.edu');">Massimo Piattelli-Palmarini </a>di atas. Kejujuran ini digarisbawahi oleh Gabriel Dover, Profesor Genetika Evolusi, University of Leicester and Cambridge, Inggris, saat mengulas buku itu:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;&#8230;.Buku ini akan menetapkan agenda di tahun-tahun mendatang. [Buku] ini tidak dapat dikesampingkan jika pengkajian mengenai evolusi hendak jujur dengan dirinya sendiri.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, ternyata masih ada sisi kejujuran evolusionis, dan ini patut dipuji. Meski mereka tetap berpendirian kuat bahwa evolusi 100% benar walau teori kuat yang menjelaskannya masih belum ditemukan, dan fosil mata rantai tak kunjung datang, mereka patut diacungi jempol dalam hal kejujurannya di sisi lain. Karena berkat kejujuran evolusionis ini pulalah mereka telah mengungkap berlimpah kebohongan dan kecurangan yang dilakukan rekan mereka sesama evolusionis. Di antara yang terkenal adalah kebohongan berusia lebih dari seratus tahun, yakni <a href="http://us2.harunyahya.com/Detail/T/724BBCSO189/productId/20627" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/us2.harunyahya.com');">gambar-gambar embrio Haeckel</a>, yang mungkin hingga kini masih terpampang di buku-buku pelajaran biologi, termasuk di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/teori-evolusi/10735.html?task=view" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/hidayatullah.com');" target="_blank">hidayatullah</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=690</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Bukan Lanjutan Kera</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=686</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=686#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 07:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Darwinsm]]></category>

		<category><![CDATA[fosil]]></category>

		<category><![CDATA[kera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Tim ilmuwan internasional menunjukan temuan baru, manusia tak berevolusi dari kera
Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.

Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, &#8220;kera darat&#8221; kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tim ilmuwan internasional menunjukan temuan baru, manusia tak berevolusi dari kera</p>
<p style="text-align: justify;">Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.<br />
<img class="alignnone" title="urutan fosil yang asal urut" src="http://www.hidayatullah.com/images/foto/Fosil_hominids.gif" alt="" width="350" height="237" /><br />
Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, &#8220;kera darat&#8221; kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, dibeberkan di dalam jurnal &#8220;Science&#8221; terbitan Jumat (2/10).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua, jurnal itu juga berisi 11 berkas mengenai temuan tersebut.</p>
<p><span id="more-686"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Fosil itu, yang diberi nama panggilan &#8220;Ardi&#8221;, adalah kerangka paling tua yang dikenal dari cabang manusia dari pohon keluarga primata. Cabang tersebut meliputi Homosapiens serta spesies yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan kera dan bonobo.</p>
<p style="text-align: justify;">Temuan itu memberi pengertian baru mengenai bagaimana &#8220;hominid&#8221; &#8211;keluarga &#8220;kera besar&#8221; yang terdiri atas manusia, simpanse, gorila dan orang-utan&#8211; mungkin telah muncul dari satu nenek moyang monyet.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai ditemukannya &#8220;Ardi&#8221;, tahap paling awal yang diketahui mengenai evolusi manusia adalah &#8220;Australopithecus&#8221;, &#8220;manusia kera&#8221; yang berotak kecil dan sepenuhnya berkaki dua yang hidup antara empat juta dan satu juta tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Fosil &#8220;Australopithecus&#8221; yang paling terkenal adalah &#8220;Lucy&#8221;, yang berumur dari 3,2 juta tahun, yang namaya diambil dari lagu Beatles &#8220;Lucy in the Sky with Diamonds&#8221;. &#8220;Lucy&#8221; ditemukan pada 1974 di tempat sekitar 45 mil dari tempat &#8220;Ardi&#8221; belakangan ditemukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerangka &#8220;Ardi&#8221; dan kerangka &#8220;Ardipithecus ramidus&#8221;, yang berkaitan, lebih tua dan lebih primitif dibandingkan dengan &#8220;Australopithecus&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah temuan &#8220;Lucy&#8221;, ada perkiraan bahwa ketika kerangka &#8220;hominid&#8221; terdahulu ditemukan, semua itu akan berkumpul jadi anatomi mirip simpanse, berdasarkan kesamaan genetika manusia dan kera. Namun fosil &#8220;Ardipithecus ramidus&#8221; tidak mendukung dugaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerangka &#8220;Ardi&#8221; cukup lengkap &#8211;tengkorak, gigi, tulang panggul, kaki, paha, lengan dan tangan&#8211; untuk memperkirakan tinggi dan berat tubuhnya. &#8220;Ardi&#8221; berjalan dengan dua kaki di tanah, tapi memanjat pohon dan juga menghabiskan waktu mereka di sana, dan barangkali adalah pemangsa segala.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuatu yang mengejutkan ialah &#8220;Ardi&#8221; dan temannya tidak memiliki bagian tubuh seperti kera atau gorila, tapi lebih mirip dengan kera yang punah atau bahkan monyet, dan kedua tangannya juga tidak mirip tangan simpanse atau gorila, tapi lebih berkaitan dengan kera yang punah sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak ilmuwan mengatakan, temuan itu menunjukkan bahwa &#8220;hominid&#8221; dan kera Afrika, masing-masing memiliki jalur evolusi yang berbeda, dan &#8220;kita tak lagi dapat menganggap kera sebagai &#8216;wali&#8217; bagi nenek moyang terakhir bersama kita&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Temuan (Charles) Darwin sangat bijaksana mengenai masalah ini,&#8221; kata Tim White dari University of California Berkeley, yang membantu memimpin tim penelitian tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Darwin mengatakan kita harus benar-benar berhati-hati. Satu-satunya cara kita akan mengetahui seperti apa nenek moyang terakhir bersama ini dan menemukannya. Yah, pada 4,4 juta tahun lalu, kita menemukan sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Dan, persis seperti Darwin menghargai evolusi garis kera dan garis manusia, telah berjalan secara terpisah sejak jalur itu terpisah, sejak nenek moyang terakhir bersama yang kita miliki,&#8221; kata White.[ant]</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=686</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonelangsa: potret Kemisnkinan</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=684</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=684#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 06:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=684</guid>
		<description><![CDATA[Jumlah Anak Bermasalah Indonesia Setara Jumlah Penduduk Singapura

 Inilah satu fakta mencengangkan lagi di Indonesia. Ternyata, berdasarkan data yang diterima Kompas.com dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial anak (usia 0-18 tahun) di Indonesia per Desember 2009 mencapai 4.656.913 jiwa atau setara dengan jumlah penduduk negari Jiran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">Jumlah Anak Bermasalah Indonesia Setara Jumlah Penduduk Singapura<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"> </span>Inilah satu fakta mencengangkan lagi di Indonesia. Ternyata, berdasarkan data yang diterima <em>Kompas.com</em> dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial anak (usia 0-18 tahun) di Indonesia per Desember 2009 mencapai 4.656.913 jiwa atau setara dengan jumlah penduduk negari Jiran, Singapura.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut data tersebut, mereka yang disebut penyandang masalah kesejahteraan sosial anak adalah anak balita terlantar, anak terlantar, anak jalanan, dan anak nakal atau anak yang berhadapan dengan hukum. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika berkunjung ke Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial di Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu (17/2/2010), mengaku menaruh perhatian terkait banyaknya anak bermasalah.</p>
<p><span id="more-684"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Agama Salim Assegaf Al-Jufrie, Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, dan lainnya, Presiden meminta agar keadilan dan kesejahteraan mereka diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mari kita pastikan ada kebijakan dan program aksi khusus, serta sistem yang dapat memberikan mereka keadilan,&#8221; ujar Presiden. Anak-anak yang berhadapan dengan hukum, korban narkotika, serta pasien adalah salah satu subjek utama yang patut mendapat perhatian. Lainnya adalah keluarga miskin, penyandang cacat berat, serta orang lanjut usia.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut SBY, negara harus memberi peluang kepada mereka demi masa depan yang lebih baik. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan konstitusi dan Pancasila. SBY yakin, jika sumber-sumber penerimaan negara bisa dikelola baik, ekonomi tumbuh, APBN dan APBD makin besar, maka porsi pembiayaan sosial seperti ini semakin besar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=684</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas: Potensi Bara Revolusi Tanpa Arah!</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=681</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=681#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 02:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Politik]]></category>

		<category><![CDATA[gagal]]></category>

		<category><![CDATA[kekecewaan]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 16/02/2010 13:39 WIB 
Aksi jalanan yang merupakan bentuk kekecewaan, yang diikuti puluhan ribu massa dari berbagai elemen gerakan yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, yang menandai 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Aksi yang berlangsung bulan kemarin itu, adalah kumpulan massa yang cair dari berbagai arus kepentingan dan dengan latarbelakang ideologi. Mulai dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasa, 16/02/2010 13:39 WIB <img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/nasional/demo28jan.jpg" alt="Foto: Kompas.com" width="360" /></p>
<p>Aksi jalanan yang merupakan bentuk kekecewaan, yang diikuti puluhan ribu massa dari berbagai elemen gerakan yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, yang menandai 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Aksi yang berlangsung bulan kemarin itu, adalah kumpulan massa yang cair dari berbagai arus kepentingan dan dengan latarbelakang ideologi. Mulai dari kelompok kiri (sosialis) hingga aliansi aktifis Islam semua tumpah ruah.</p>
<p>Aksi ini serempak berlangsung di 30 kota-kota di Indonesia, dari ujung barat Indonesia (Aceh) hingga kawasan Timur Indonesia (Ambon, Maluku). Aksi ini adalah kesekian kali dari aksi-aksi sebelumnya yang menyuarakan ketidakpuasaan atas berbagai kasus sosial politik dan hukum yang menilai pemerintahan SBY-Boediono sangat lamban bahkan lemah. Lebih dari itu menempatkan presiden terpilih SBY, sebagai troubel maker (sumber masalah) dari berbagai persoalan kebangsaan yang mengusik nurani dan rasa keadilan rakyat.</p>
<p><span id="more-681"></span></p>
<p>Pemerintahan SBY, dianggap begitu banyak memiliki celah yang bisa dimanfaatkan untuk meng-agitasi massa untuk terlibat aksi jalanan dengan meneriakan berbagai tuntutan. Banyak kasus menonjol, dari drama &#8220;Cicak-buaya&#8221;, ganyang &#8220;Markus&#8221; yang menampakkan betapa bopengnya wajah hukum dan keadilan dan citra penegak hukum (kejaksaan, kepolisian, pengadilan) yang rusak. Hingga munculnya &#8220;Century gate&#8221; yang makin memberikan angin bagi elemen yang sudah meradang dan tipis kesabarannya untuk bertekad bukan sekedar menyatakan sikap, tapi sudah dengan target &#8220;pemakzulan&#8221; melalui aksi jalanan.</p>
<p>DPR bukan menjadi tempat tumpuan harapan, karena DPR yang dipilih rakyat langsung kenyataannya, hanya menjadi sekumpulan orang untuk membela mati-matian dan menyokong kekuasaan yang ada melalui koalisi. DPR tidak memiliki kepekaan atas tuntutan rakyat, bahkan berdiri bersebarangan dengan arus kepentingan rakyat. Ada sebagian yang &#8216;wait and see&#8217; (melihat dan menunggu) bersikap oposan sambil merumuskan plan A, B, deal-deal politik dengan pelaku lapangan (ekstraparlementer. Mereka berharap dapat meraup keuntungan, jika ada perubahan dilingkaran kekuasaan, akibat tragedi politik yang terus berjalan tanpa kendali.</p>
<p>Pemerintahan SBY-Boediono dinilai gagal dalam berbagai aspek, menjadi pemimpin yang terjebak dengan program 100 hari yang tidak jelas, tidak menggigit, tidak nyata dan hanya penuh retorika.</p>
<p>Dalam pemberanasan korupsi dinilai gagal, bahkan dari 15 program unggulan dalam 100 hari pertama pemerintahan SBY, tidak secara eksplisit menjadikan pemberantasan korupsi sebagai pilihan utama. Pemberantasan korupsi diminimalisasi dalam pemberantasan mafia hukum, bahkan kekeliruan terlihat oleh lambannya respons pemerintah untuk menyelesaikan kasus konflik KPK dan Polri dan masalah bail out Bank Century.</p>
<p>Sosialisasi program 100 hari yang dimulai dengan event National Summit tenggelam ketika Mabes Polri melakukan penahanan Bibit dan Chandra. Tanpa disadari juga yang dilakukan oleh pemerintah adalah penegasian kelembagaan sistem penyelesaian keluhan yang telah ada, ketika Presiden SBY merespons masalah mafia hukum yang mengemuka dengan membentuk PO BOX 9949 dengan kode GM (Ganyang Mafia) untuk menampung keluhan-keluhan korban mafia hukum. Sebenarnya model kuno yang sudah tidak efektif lagi.</p>
<p>Kejadian ini justru mengedepankan problem lama dari pemerintahan SBY yaitu buruknya koordinasi dan sinergi antara kelembagaan pemerintah. Belum lagi ditambah, fasilitas pejabat dengan mobil mewah yang menghamburkan uang negara, membangun pagar istana, dan rencana membeli pesawat khusus kepresidenan yang makin dirasakan rakyat. Penguasa betul-betul tidak peka atas duka dan derita rakyat. Belum lagi harus menghadapi gurita ekonomi Cina dengan melalui CAFTA, makin membuka peluang lebar meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan.</p>
<p>Lemah dan mulai pudarnya pengaruh kekuasaan SBY dianggap menjadi titik kritis dan nyata berdasarkan berbagai krisis dan isu kebangsaan. Sampai-sampai kasus aksi dengan membawa kerbau &#8220;Si Bu Ya&#8221; mengalir begitu saja. Dan kesan ini pula yang disadari SBY untuk segera melakukan konsolidasi ditingkat lembaga-lembaga tinggi negara, dan secara khusus road show di institusi TNI untuk memastikan semua dalam barisan untuk menyokong Presiden</p>
<p>Tehnik &#8220;ancaman&#8221; dengan tema reshuffle kabinet, hingga penuntasan para pengemplang pajak juga ditebar untuk menjaga arus isu tetap dalam kendali kekuasaan. Begitu juga dengan nalar demokrasi dibangun untuk mengukur dan membelokkan tuntutan aksi-aksi jalanan yang menghendaki SBY segera menonaktifkan Boediono dan Sri Mulyani dari jabatanya.</p>
<p>Bahkan Presiden Yudjoyono dan Wakil Presiden Boediono harus mundur dari jabatanya.Logikanya adalah, rakyat yang tumpah dijalan dipandang belumlah cukup untuk merepresentasikan dari sekian puluh juta orang yang memilih dia secara langsung. Bahkan dengan retorika, demokrasi membuka ruang lebar untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan itu harus di akomodir melalui mekanisme demokrasi yang disepakati.</p>
<p>Namun SBY membuat blunder (kesalahan), ketika aksi jalanan dengan tuntutan mundurnya SBY, Presiden menegaskan bahasa &#8220;pemakzulan&#8221; tidak dikenal dalam UU di negeri ini. Jika harus melalui mekanisme DPR, maka ini adalah solusi politik yang penuh intrik tidak banyak bisa diharapkan. Kasus &#8220;masuk angin&#8221;, &#8220;mabuk daratan&#8221; dan berbagai macam tuduhan lainya diberikan kepada DPR, jika diharapan bisa membela kepentingan dan tuntutan rakyat.</p>
<p><strong>Perubahan yang kabur</strong></p>
<p>Terasa sangat tajam jika melihat berbagai sepanduk dan jargon yang selalu diusung berbagai komponen gerakan, ketika mereka turun aksi kejalan. Ganti rezim dan ganti sistem, adalah jargon utama bahkan yang kesannya cukup ideologis ketika mengerucut dengan kalimat &#8220;Tolak Neoliberalisme&#8221;.</p>
<p>Ada GIB (Gerakkan Indonesia Bersih), yang mengklaim lebih 66 elemen yang bergabung, dan GIB sendiri di prakarsai sekitar 20 orang. Dan klaimnya kini telah memperoleh basis dukungan dari berbagai elemen, mahasiswa, buruh dan petani.</p>
<p>Sejak awal telah menyodok dengan statemen, SBY secara moral sudah tidak layak lagi menjabat sebagai Presiden.Dan aksi-aksi yang digerakkan adalah sebagai bentuk kekecewaan atas kegagalan pemerintahan SBY.</p>
<p>Di lapangan sendiri komponen yang terjun sangat beragam, ada dari kelompok sosialis-demokrasi (sosdem), nasionalis, dan dari kelompok aktifis Islam bahkan juga ada elemen tandingan yang menyokong status quo. Uji coba &#8220;revolusi&#8221; untuk ganti rezim dan ganti sistem tidak berhenti di suarakan pada momentum 100 hari pemerintahan SBY. Tapi ini dianggapnya sudah menjadi bola salju yang terus bergulir makin besar dan akan menggilas status quo ketika menemukan momentum.</p>
<p>Maka ending Century-Gate (rencananya 4 maret) melalui pansus DPR di jadikan pintu masuk kembali untuk menekan, melalui aksi jalanan dengan target turunnya SBY. Usaha-usaha menggalang kekuatan dari berbagai elemenpun di lakukan, oleh para penggerak aksi dan revolusi ini. Diantaranya yang dianggap komponen kunci adalah dari kelompok Islam, ormas-ormas Islam yang memiliki basis massa riil perlu didekati dengan berbagai strategi agar terlibat dalam &#8220;pemakzulan&#8221; jalanan ini.Seperti elemen yang baru dideklarasikan, Front Umat Islam Bersatu Untuk NKRI&#8221; di Gedung Juang 45 jakarta Jumat (12/2).</p>
<p>Tapi lagi-lagi yang sangat miris adalah, ketika obsesi &#8220;ganti rezim, ganti sistem&#8221; ini tidak pernah terungkap dari para &#8220;petualang politik&#8221; yang bernafsu menurunkan SBY, secara serius menyiapkan format ideal apa yang akan menjadi alternatif pengganti jika sekiranya rezim dan sistem ini benar-benar runtuh.</p>
<p>Opurtunisme dan pragmatisme dalam ranah gaung &#8220;revolusi&#8221; menjadi warna yang cukup dominan, seolah tidak pernah belajar dari pengalaman reformasi yang ujungnya adalah mengokohkan sistem bobrok sekuler-liberal. Jangan sampai kata &#8220;revolusi&#8221; itu meluncur deras seperti dari bibir seorang Ibu Gayatri (Nasabah Century) yang dikibuli.</p>
<p>&#8216;Gerakan revolusi&#8217; sepertinya tidak menyadari wujud pemerintahan dan sistem baru apa yang akan menjadi penggantinya? Dari sini umat Islam harusnya tidak mudah terjebak dan tetap konsisten Islam dan Syariahnya menjadi gaung dan setiap tuntutan perubahan yang niscaya ini.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=681</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dia manusia biasa yang mencari Tuhan melalui kebodohan dan kelemahannya</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=676</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=676#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 02:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Remaja]]></category>

		<category><![CDATA[anand  krisna]]></category>

		<category><![CDATA[meditasi]]></category>

		<category><![CDATA[pelecehan seksual]]></category>

		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Dua Perempuan Mengaku &#8220;Digerayangi&#8221; Anand Krishna                         Jumat, 12 Februari 2010 &#124; 16:56 WIB                				   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dua Perempuan Mengaku &#8220;Digerayangi&#8221; Anand Krishna                         Jumat, 12 Februari 2010 | 16:56 WIB                				  <img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/12/1757178p.JPG" alt="" /> KOMPAS/JOHNNY TG   				     				     					Spiritualis Anand Krishna.   				     				                       				<strong>TERKAIT:</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/12/15400812/Anand.Krishna.Dituding.Lakukan.Pelecehan.Seksual" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/megapolitan.kompas.com');">Anand Krishna Dituding Lakukan Pelecehan Seksual</a></li>
</ul>
<p><span id="more-676"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>JAKARTA, KOMPAS.com - </strong>Dua orang yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh guru spiritual terkenal Anand Krishna, TR dan SM, melaporkan tindakan tak senonoh gurunya ke Komnas Perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">TR yang merupakan murid Anand dan SM yang menjadi <em>therapist</em> di salah satu padepokan Anand mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual dengan cara dicuci otak atau dihipnotis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Telah terjadi praktik pelecehan seksual. Modusnya dengan semacam cuci otak atau hipnotis,&#8221; kata Agung Mattauch, kuasa hukum TR dan SM, seusai melakukan pelaporan ke Komnas Perempuan, Jumat (12/2/2010).</p>
<p style="text-align: justify;">TR yang merupakan seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta mengaku diberikan berbagai benda-benda spiritual, seperti kalung, cincin, gelang, dan giok, sebelum akhirnya mendapat perlakuan tidak senonoh. TR mengatakan, sang guru pernah memeluk, mencium, hingga meraba-raba bagian sensitifnya.</p>
<p style="text-align: justify;">TR mengatakan, sang guru bahkan sering merayu dan memuji TR dengan sebutan TR &#8220;Angel&#8221;. Perlakuan yang terjadi sejak Februari 2009 itu terjadi pada saat melakukan meditasi di kamar pribadi Anand. &#8220;Saya mulai tidak sadar pada saat mulai bersemedi,&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal serupa diungkapkan SM, yang merupakan salah satu <em>therapist</em> di padepokan milik Anand. Ia mengatakan pernah dimintai Anand untuk memijatnya di tengah malam. Ia pun tiba-tiba mau saja saat disuruh untuk memijat di sekitar bagian sensitif di tubuh Anand. &#8220;Saya seperti tidak kuasa menolak. Setelah selesai itu baru saya sadar,&#8221; kata dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncaknya, kata SM, terjadi pada Oktober 2009. Saat itu, kata dia, dengan dalih melakukan ritual, Anand menyentuh payudara SM. &#8220;Saya berontak. Saya merasa ini sudah keterlaluan,&#8221; kata dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan tidak senonoh tersebut, kata Agung, dilakukan di padepokan-padepokan yang berbeda milik Anand Khrisna. Padepokan milik Anand bernama Layeur Veda itu sendiri tersebar di sejumlah daerah, antara lain di Jakarta, yakni di Fatmawati dan di Sunter; Bogor; Yogyakarta; dan Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga saat ini, kata Agung, tercatat sudah ada tujuh orang lainnya yang mengaku menjadi korban Anand Khrisna. &#8220;Diduga masih ada yang lainnya, terutama yang masih berguru dengan Anand,&#8221; tuntasnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Pengakuan korban" href="http://nasional.vivanews.com/news/read/129460-pengakuan_tara__saya_tak_mau_ada_korban_lagi" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/nasional.vivanews.com');">Pengakuan korban Pelecehan Anand Krisna</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/129752-_anand_krishna_minta_pijat_daerah_sensitif_" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/nasional.vivanews.com');">Anand Krisna Meditasikan Penisnya?</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=676</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bagian Otak yang Menyebabkan Orang Takut Kehilangan Uang</title>
		<link>http://www.ilmupsikologi.com/?p=674</link>
		<comments>http://www.ilmupsikologi.com/?p=674#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 18:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yahdillah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Psikologi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[amigdala]]></category>

		<category><![CDATA[otak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupsikologi.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[
Peneliti menemukan bagian otak bernama amygdala yang menjadi penyebab kenapa orang takut kehilangan uang. Normalnya, orang akan takut kehilangan uang dan berhati-hati saat bertindak, namun mereka yang amygdala-nya rusak tidak punya rasa takut itu.
Orang bijak mengatakan hidup adalah proses menuju kehilangan. Tapi tetap saja manusia takut dan sangat menjaga apa yang dipunyainya agar tak hilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://images.detik.com/content/2010/02/09/766/OTAK-dalam.jpg" alt="img" width="200" /><br />
Peneliti menemukan bagian otak bernama amygdala yang menjadi penyebab kenapa orang takut kehilangan uang. Normalnya, orang akan takut kehilangan uang dan berhati-hati saat bertindak, namun mereka yang amygdala-nya rusak tidak punya rasa takut itu.</p>
<p>Orang bijak mengatakan hidup adalah proses menuju kehilangan. Tapi tetap saja manusia takut dan sangat menjaga apa yang dipunyainya agar tak hilang terutama uang. Peneliti menemukan jawabannya ini semua gara-gara amygdala.</p>
<p><span id="more-674"></span></p>
<p>Sebuah studi membuktikan secara ilmiah mengapa ada orang yang takut kehilangan uang tapi ada juga yang tidak. Perbedaan bagian otak yang bernama amygdala adalah penyebabnya. Jika Anda masih punya rasa takut kehilangan uang, artinya bagian amygdala pada otak masih berfungsi dengan normal.</p>
<p>Dalam studinya, peneliti menganalisis otak seseorang yang bermain judi. Hasilnya menunjukkan, orang yang takut kehilangan uang saat bermain judi ternyata memiliki bagian amygdala yang aktif pada bagian otaknya. Amygdala adalah bagian yang berfungsi sebagai pusat pengontrol rasa takut dalam otak.</p>
<p>&#8220;Hasil laboratorium dan bukti di lapangan menunjukkan bahwa seseorang cenderung menghindari risiko kehilangan meski sebenarnya mungkin ia akan mendapat sesuatu yang lebih besar jika kehilangan,&#8221; kata Dr Benedetto De Martino dari the California Institute of Technology, Pasadana seperti seperti dilansir dari <em>ABCNet</em>, Selasa (9/2/2010).</p>
<p>Sebagai contoh, orang akan menghindari judi karena takut kehilangan uang US$ 10 padahal mereka bisa saja mendapatkan untung US$ 15. Tindakan ini menurut Dr Martino disebut dengan &#8216;<em>loss aversion</em>&#8216; atau takut kehilangan.</p>
<p>Untuk mengetahui fungsi amygdala pada otak manusia, peneliti menguji dua orang perempuan dengan kondisi genetik langka yang disebut dengan penyakit Urbach-Wiethe. Penyakit itu menyebabkan kerusakan bagian amygdala dan membuat seseorang tidak bisa mengontrol rasa takut atau emosi lainnya.</p>
<p>Peneliti membandingkan kedua perempuan itu dengan 12 partisipan lainnya yang tidak memiliki penyakit tersebut. Studi ini hanya menggunakan sedikit partisipan karena secara etika, tidak etis rasanya melukai dan membongkar isi otak manusia untuk mengetahui apa yang terjadi di dalamnya.</p>
<p>Para partisipan diminta untuk melakukan judi dimana akan ada dua kemungkinan yang dihasilkan. Kemungkinan pertama adalah partisipan akan memenangkan US$ 20 atau kehilangan US$ 5. Kemungkinan kedua adalah partisipan akan memenangkan atau kehilangan US$ 20.</p>
<p>Hasilnya menunjukkan kedua perempuan yang punya penyakit Urbach-Wiethe ternyata memilih pilihan kedua, yaitu mengambil risiko kehilangan yang lebih besar. Hal ini membuktikan bahwa bagian amygdala pada otaknya memang tidak berfungsi sehingga ia cenderung tidak takut kehilangan uang.</p>
<p>&#8220;Seseorang dengan amygdala normal harusnya bisa lebih berhati-hati dalam bertindak dan punya rasa takut akan kehilangan,&#8221; kata Ralph Adolphs.</p>
<p>Studi yang dilaporkan dalam<em> the Proceedings of the National Academy of Science</em> ini membantu menjelaskan mengapa ada sebagian orang yang berani mengambil risiko dan ada yang tidak. Jika seseorang tidak punya rasa takut, mungkin bagian amygdala dalam otaknya mengalami kerusakan yang mungkin disebabkan oleh faktor genetik atau DNA.(<strong>fah/ir</strong>)</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilmupsikologi.com/?feed=rss2&amp;p=674</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
